(Renungan Seorang Lelaki di Tahun Ke Dua Puluh Limanya)
Menikah. Tujuh huruf ini adalah impian dari setiap orang. Siapa sih manusia normal yang tidak ingin menikah? Begitu pertanyaan retorisnya. Menikah. Dari kata ini akan terbayang banyak sekali hal-hal yang menyenangkan, selain juga hal-hal yang mendebarkan sekaligus mengkhawatirkan.
>
Menyenangkan, karena kelak akan ada orang yang bisa saling bertukar kasih sayang dengan kita. Kelak akan ada orang yang akan memahami warna-warni kehidupan kita. Kelak akan ada orang yang mengurus keperluan hidup kita yang sebelumnya kerap terbengkalai karena kesendirian kita. Kelak akan ada sebuah saluran yang dihalalkan untuk menikmati hal-hal yang sebelumnya diharamkan, serta sekian banyak kenikmatan lainnya yang hanya bisa dinikmati setelah mitsaqon ghalizha itu terucap dari lisan dan hati kita ini.
>
Namun di sisi lain, menikah ternyata juga menyimpan dua hal lainnya, yakni hati yang berdebar tak beraturan serta lahirnya sekian kekhawatiran demi kekhawatiran di dalam benak kita.
>
Mendebarkan, karena kita akan hidup berdua dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Kalaupun kenal, ia hanya sebatas curriculum vitae di atas selembar dua lembar kertas HVS, dengan dilampiri sebuah foto berukuran 3x4, bisa kurang bisa lebih. Mendebarkan, karena dengan orang yang belum terlalu kita kenal inilah kita akan hidup bersama dalam satu rumah, dan bahkan satu kamar. Hidup bersama ini tidak hanya sehari dua hari, sebulan dua bulan, namun hingga akhir hayat, bahkan hingga kehidupan setelah kematian. Tidak ada yang tersembunyi dari keseharian kita yang aslinya begini dan begitu. Akan ada banyak kejutan demi kejutan. Akan ada sekian pembelajaran demi pembelajaran dari lapisan demi lapisan kepribadian yang kita punya.
>
Mengkhawatirkan, karena kita yang tadinya berstatus sendiri, dan bebas melakukan apapun yang kita inginkan, kini ada pihak lain yang akan mengintervensi kebebasan kita itu. Ada orang lain yang akan membagi kehidupan kita dengan kehidupannya. Ada orang lain yang akan kita pimpin dalam perjalanan dunia, bahkan berlanjut hingga ke akhirat sana. Ada orang lain yang akan kita tanggung kehidupannya di atas bahu kita. Sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kehidupannya. Apakah kita bisa memikul tanggung jawab ini?
>
Apalagi kelak jika sudah memiliki anak, maka ada perintah yang berbunyi, “Quu anfusikum wa ahlikum naaro”, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Menjaga diri sendiri saja sudah sulit bukan main, apalagi sekaligus menjaga istri dan anak kita. Tentu saja akan jauh lebih sulit lagi. Aduhai, betapa ini adalah perkara yang tidak ringan! Di sinilah kekhawatiran demi kekhawatiran, ketakutan demi ketakutan, menghantui benak kita yang akan beranjak menuju fase bersejarah itu. Menikah.
>
Menikah tidak hanya menyatukan dua manusia dengan segenap potensi dan perbedaannya. Namun menikah juga menyatukan dua keluarga, dua budaya, dua kecenderungan, dua perbedaan, yang melebur dalam satu tujuan: menjadi batu bata pembentuk peradaban madani di muka bumi, yang tentunya dengan tanpa menghilangkan secara keseluruhan kekhasan yang ada di awal. Oleh karenanya tidak heran, jika Al Banna meletakkan rumah tangga islam sebagai jenjang berikutnya, setelah pembentukkan pribadi muslim, dari grand strategy umat ini menuju ustadziatul ‘alam.
>
Maka dari itu, seorang muslim yang baik, tidak hanya menempatkan menikah sebagai saluran menenangkan batin yang resah, atau syahwat yang menggelora, atau memadu kasih semata, walaupun kesemua itu tidak dilarang, bahkan wajib. Namun ada added value yang harus dilahirkan dari bersatunya dua potensi yang luar biasa ini.
>
Apa itu added value? (Red. bukan tax added value,lho).
Tentu saja, dengan menikahnya sepasang manusia yang telah tertempa tarbiyatul islamiyah dengan begitu intensif, harus ada sebuah peran baru yang kita ambil di masyarakat. Sebagai keluarga baru, maka di manakah posisi kita di masyarakat? Apa kontribusi yang bisa kita beri demi tersebarnya fikroh islamiyah ini? Apa yang bisa kita lakukan demi mewujudkan ummat yang dimuliakan Allah ini menjadi benar-benar memiliki fungsi dan partisipasi bagi kemajuan peradaban islam dan, tentu saja, dunia? Sebuah tugas yang berat dan tidak mudah. Apalagi dengan tugas ‘internal’ kita sebagai qawam bagi sang suami dan juga sebagai rabatul bait bagi sang istri.
>
Belum lagi jika Allah mengaruniai anak. Apa visi dan misi kita dalam berkeluarga? Dakwah? Ya, itu benar. Tapi dakwah yang menghasilkan apa? Bagaimana langkah-langkah dalam merealisasikan visi dan misi kita itu. Anak-anak yang kelak lahir itu, akan diarahkan kemana mereka? Menjadi muslim? Ya, sudah pasti. Tapi apa rencana dan ikhtiar yang sudah kita siapkan dan akan kita lakukan demi menuju itu?
>
Mungkin sebagian kita akan berkomentar, “Ah, masa’ sih serumit itu? Sudahlah, biar saja semuanya mengalir. Allah sudah mengatur semuanya untuk kita.” Atau komentar lainnya yang berbeda tapi senada.
>
Izinkan saya mengomentari pertanyaan di atas dengan kembali bertanya, “Dimanakah posisi ayat yang berbunyi: ‘Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak berusaha untuk mengubahnya’?”. Nah, disinilah peran ikhtiar kita dalam ranah ladang amal dunia. Tentu saja, ada persiapan demi persiapan yang harus kita siapkan dan lakukan demi menyambut hari bersejarah itu. Ada rencana demi rencana yang harus kita rancang kala mengarungi biduk rumah tangga itu kelak. Semoga saja, dengan kegigihan usaha kita, Allah berkenan mencurahkan sekian kemurahanNya kepada kita. Amin.
>
Kemudian, apa sajakah persiapan demi persiapan itu? Saya pikir sudah ada banyak buku yang mengulas hal ini, baik secara global sampai mendetail poin per poin. Namun ada dua hal saja yang ingin saya tegaskan di sini, bahwa inti dari semua kesiapan itu adalah niat yang lurus karenaNya, dan benar dalam menjalaninya. Saya percaya, jika hati kita ikhlas menjalani semua ini karena Allah, maka tanpa uluran tangan manusia pun, Dia pasti akan memudahkan jalannya.
>
Yakin. Itu kata kunci selanjutnya. Yakinlah, bahwa Allah tak akan menelantarkan hambaNya yang berikhtiar demi menjaga kesucian diri dan agamanya. Allah pasti akan beri jalan-jalannya. Allah akan kirimkan pertanda-pertandaNya di segenap mayapada. Bahkan di dalam hati kita.
>
Di sinilah ruhiyah yang kokoh memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengarungi proses menuju hari bersejarah itu. Ruhiyah ini pulalah yang akan menjernihkan segala ikhtiar kita dari polusi kejahilan dan keputusasaan. Oleh karenanya, interaksi kita dengan Allah kala menapaki proses menuju menikah jangan sampai terlemahkan dengan kemalasan kita. Karena di atas semua usaha yang kita lakukan, Dialah Pemegang keputusan yang kelak akan menentukan apakah akan begini atau begitu jadinya. Apapun itu, yakinlah bahwa itu yang terbaik dari kita.
>
Terakhir, saya ingin merapalkan sebuah do’a. Do’a ini saya tujukan kepada saya, dan juga saudara-saudara saya lainnya yang sedang berada di ruang ikhtiar yang sama: ketika hari bersejarah itu (akan) tiba.
>
Saudaraku, di kala malam kian melarut dalam sepi, mari angkat tangan kita, lapangkan hati kita, tundukkan ia hanya kepada keagunganNya, dan mari bersama kita munajatkan do’a ini:
>
Ya Allah, Yang Menguasai hati-hati kami. Yang membolak-balikkannya dengan kuasaMu. Ya Allah, ya Rahman. Wahai Engkau yang memperjalankan unta di malam hari, wahai Engkau yang memasukkan malam kepada siang, wahai Engkau yang membuka pagi setelah malam. Ya Rabb anta ya Rahiim, wahai Engkau yang mempermudah dan mempersulit segala urusan, wahai engkau yang melapangkan dan menyempitkan semua jalan. Izinkan hambaMu yang lemah ini untuk meminta kepadaMu.
>
Ya Allah, sesungguhnya hamba berniat untuk menjaga diri hamba, menjaga kesucian agama yang ada di dalam diri hamba ini. Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon dengan IlmuMu pilihan yang paling tepat, dengan KuasaMu atas alam semesta, dengan keagunganMu yang tiada kira. Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon karuniaMu yang sangat besar. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, sedangkan aku tidak. Engkau Maha Mengetahui baik yang tersurat maupun yang tersirat, sedangkan aku tidak.
>
Ya Allah, jika Engkau menghendaki bahwa perkara ini baik bagi dunia maupun akhirat hamba, maka tetapkanlah dan mudahkanlah. Lapangkanlah jalan menujunya, ringankanlah beban yang memberatinya. Jagalah niat di dalam ini agar senantiasa lurus karenaMu. Jauhkanlah hati dan diri ini dari hal-hal yang menjauhkannya dari kehendakMu. Jauhkanlah dari jalan ini pertentangan dan kerentanan. Kokohkanlah urusannya, perbaikilah akhirnya.
>
Ya Allah, jika Engkau menghendaki bahwa perkara ini buruk bagi hamba, maka jauhkanlah hamba daripadanya. Berikanlah kepada hati ini kekuatan dan kesabaran dalam menerimanya, dan jadikan ia ridha atas ketentuanMu. Ya Allah, jika kau menghendaki perkara ini bukan untuk hamba, maka berikanlah kepada hamba gantinya yang jauh lebih baik daripadanya di MataMu ya Allah, dan tetapkanlah hati ini agar tidak keluar ia dari keridhaanMu.
Amin.
>
Rawalumbu, 3 Ramadhan 1428 H
Recent Comments