« August 2007 | Main | October 2007 »

Wednesday, September 19, 2007

Keindahan

 

Benar, semua masih dalam dimensi ruang dan waktu.

Pertanyaan dimana dan kapan adalah dimensi kita manusia. Namun hal itu akan selaras dengan penciptaan lain yang akan membuat indera kita terkagum dan takjub. Keindahan, sebuah kata sifat yang bahkan kita tidak tahu wujudnya, dan takaran akan keindahan itu.

 

Keindahan, hanya makna semu yang tercerita lewat indera. Tak ada bentuk nyata dan tak ada objek yang benar-benar ada. Hanya sebatas kepuasan yang menggenang dilubuk hati ketika mendapatkannya.

 

Keindahan tersuguh disetiap panca indera kita, namun indera kita tak pernah mampu untuk mengetahui dengan jelas dan konkrit dimana kita bisa mendapat kepuasan keindahan itu. Banyak orang beramai-ramai ke setiap objek yang dianggapnya indah hanya untuk mencari kepuasan bathin itu.

 

Mereka berlomba ke belahan bumi lain hanya untuk berburu tentang keindahan itu. Tanpa sadar bahwa keindahan itu sebenarnya ada disamping mereka, namun mereka tak memiliki pertanyaan kapan keindahan itu akan muncul. Yang ada diotak mereka adalah dimana saya bisa mendapat keindahan itu sehingga terpuaskan bathin saya.

 

Yup, keindahan itu bukan masalah dimana, namun kapan kita akan mendapatkannya. Kapan keindahan pelangi akan nampak di mata kita? Kapan air terjun akan mengalir dan membasahi setiap pori-pori ketakjuban? Kapan keindahan itu akan muncul? Dimanapun engkau berada bila keindahan menampakkan dirinya, kau pasti akan takjub.

 

Wajah bidadari akan muncul dalam keindahan pagi, semilir angin sepoi akan muncul saat fajar menjelang, bentangan ombak akan hadir dalam keindahan tiupan angin, mentari jingga akan muncul dalam keindahan senja

Bukan dimana, tapi kapan.

Kapan aku akan mendapatkan keindahan itu?

Kapan keindahan itu akan menghampiriku?

Keindahan yang akan memberikan kenikmatan citarasa kehidupan.

                            

Thursday, September 13, 2007

Ketika Hari Bersejarah Itu (Akan) Tiba

(Renungan Seorang Lelaki di Tahun Ke Dua Puluh Limanya)

 

Menikah. Tujuh huruf ini adalah impian dari setiap orang. Siapa sih manusia normal yang tidak ingin menikah? Begitu pertanyaan retorisnya. Menikah. Dari kata ini akan terbayang banyak sekali hal-hal yang menyenangkan, selain juga hal-hal yang mendebarkan sekaligus mengkhawatirkan.

>

Menyenangkan, karena kelak akan ada orang yang bisa saling bertukar kasih sayang dengan kita. Kelak akan ada orang yang akan memahami warna-warni kehidupan kita. Kelak akan ada orang yang mengurus keperluan hidup kita yang sebelumnya kerap terbengkalai karena kesendirian kita. Kelak akan ada sebuah saluran yang dihalalkan untuk menikmati hal-hal yang sebelumnya diharamkan, serta sekian banyak kenikmatan lainnya yang hanya bisa dinikmati setelah mitsaqon ghalizha itu terucap dari lisan dan hati kita ini.

>

Namun di sisi lain, menikah ternyata juga menyimpan dua hal lainnya, yakni hati yang berdebar tak beraturan serta lahirnya sekian kekhawatiran demi kekhawatiran di dalam benak kita.

>

Mendebarkan, karena kita akan hidup berdua dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Kalaupun kenal, ia hanya sebatas curriculum vitae di atas selembar dua lembar kertas HVS, dengan dilampiri sebuah foto berukuran 3x4, bisa kurang bisa lebih. Mendebarkan, karena dengan orang yang belum terlalu kita kenal inilah kita akan hidup bersama dalam satu rumah, dan bahkan satu kamar. Hidup bersama ini tidak hanya sehari dua hari, sebulan dua bulan, namun hingga akhir hayat, bahkan hingga kehidupan setelah kematian. Tidak ada yang tersembunyi dari keseharian kita yang aslinya begini dan begitu. Akan ada banyak kejutan demi kejutan. Akan ada sekian pembelajaran demi pembelajaran dari lapisan demi lapisan kepribadian yang kita punya.

>

Mengkhawatirkan, karena kita yang tadinya berstatus sendiri, dan bebas melakukan apapun yang kita inginkan, kini ada pihak lain yang akan mengintervensi kebebasan kita itu. Ada orang lain yang akan membagi kehidupan kita dengan kehidupannya. Ada orang lain yang akan kita pimpin dalam perjalanan dunia, bahkan berlanjut hingga ke akhirat sana. Ada orang lain yang akan kita tanggung kehidupannya di atas bahu kita. Sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kehidupannya. Apakah kita bisa memikul tanggung jawab ini?

>

Apalagi kelak jika sudah memiliki anak, maka ada perintah yang berbunyi, “Quu anfusikum wa ahlikum naaro”, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Menjaga diri sendiri saja sudah sulit bukan main, apalagi sekaligus menjaga istri dan anak kita. Tentu saja akan jauh lebih sulit lagi. Aduhai, betapa ini adalah perkara yang tidak ringan! Di sinilah kekhawatiran demi kekhawatiran, ketakutan demi ketakutan, menghantui benak kita yang akan beranjak menuju fase bersejarah itu. Menikah.

>

Menikah tidak hanya menyatukan dua manusia dengan segenap potensi dan perbedaannya. Namun menikah juga menyatukan dua keluarga, dua budaya, dua kecenderungan, dua perbedaan, yang melebur dalam satu tujuan: menjadi batu bata pembentuk peradaban madani di muka bumi, yang tentunya dengan tanpa menghilangkan secara keseluruhan kekhasan yang ada di awal. Oleh karenanya tidak heran, jika Al Banna meletakkan rumah tangga islam sebagai jenjang berikutnya, setelah pembentukkan pribadi muslim, dari grand strategy umat ini menuju ustadziatul ‘alam.

>

Maka dari itu, seorang muslim yang baik, tidak hanya menempatkan menikah sebagai saluran menenangkan batin yang resah, atau syahwat yang menggelora, atau memadu kasih semata, walaupun kesemua itu tidak dilarang, bahkan wajib. Namun ada added value yang harus dilahirkan dari bersatunya dua potensi yang luar biasa ini.

>

Apa itu added value? (Red. bukan tax added value,lho).

Tentu saja, dengan menikahnya sepasang manusia yang telah tertempa tarbiyatul islamiyah dengan begitu intensif, harus ada sebuah peran baru yang kita ambil di masyarakat. Sebagai keluarga baru, maka di manakah posisi kita di masyarakat? Apa kontribusi yang bisa kita beri demi tersebarnya fikroh islamiyah ini? Apa yang bisa kita lakukan demi mewujudkan ummat yang dimuliakan Allah ini menjadi benar-benar memiliki fungsi dan partisipasi bagi kemajuan peradaban islam dan, tentu saja, dunia? Sebuah tugas yang berat dan tidak mudah. Apalagi dengan tugas ‘internal’ kita sebagai qawam bagi sang suami dan juga sebagai rabatul bait bagi sang istri.

>

Belum lagi jika Allah mengaruniai anak. Apa visi dan misi kita dalam berkeluarga? Dakwah? Ya, itu benar. Tapi dakwah yang menghasilkan apa? Bagaimana langkah-langkah dalam merealisasikan visi dan misi kita itu. Anak-anak yang kelak lahir itu, akan diarahkan kemana mereka? Menjadi muslim? Ya, sudah pasti. Tapi apa rencana dan ikhtiar yang sudah kita siapkan dan akan kita lakukan demi menuju itu?

>

Mungkin sebagian kita akan berkomentar, “Ah, masa’ sih serumit itu? Sudahlah, biar saja semuanya mengalir. Allah sudah mengatur semuanya untuk kita.” Atau komentar lainnya yang berbeda tapi senada.

>

Izinkan saya mengomentari pertanyaan di atas dengan kembali bertanya, “Dimanakah posisi ayat yang berbunyi: ‘Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak berusaha untuk mengubahnya’?”. Nah, disinilah peran ikhtiar kita dalam ranah ladang amal dunia. Tentu saja, ada persiapan demi persiapan yang harus kita siapkan dan lakukan demi menyambut hari bersejarah itu. Ada rencana demi rencana yang harus kita rancang kala mengarungi biduk rumah tangga itu kelak. Semoga saja, dengan kegigihan usaha kita, Allah berkenan mencurahkan sekian kemurahanNya kepada kita. Amin.

>

Kemudian, apa sajakah persiapan demi persiapan itu? Saya pikir sudah ada banyak buku yang mengulas hal ini, baik secara global sampai mendetail poin per poin. Namun ada dua hal saja yang ingin saya tegaskan di sini, bahwa inti dari semua kesiapan itu adalah niat yang lurus karenaNya, dan benar dalam menjalaninya. Saya percaya, jika hati kita ikhlas menjalani semua ini karena Allah, maka tanpa uluran tangan manusia pun, Dia pasti akan memudahkan jalannya.

>

Yakin. Itu kata kunci selanjutnya. Yakinlah, bahwa Allah tak akan menelantarkan hambaNya yang berikhtiar demi menjaga kesucian diri dan agamanya. Allah pasti akan beri jalan-jalannya. Allah akan kirimkan pertanda-pertandaNya di segenap mayapada. Bahkan di dalam hati kita.

>

Di sinilah ruhiyah yang kokoh memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengarungi proses menuju hari bersejarah itu. Ruhiyah ini pulalah yang akan menjernihkan segala ikhtiar kita dari polusi kejahilan dan keputusasaan. Oleh karenanya, interaksi kita dengan Allah kala menapaki proses menuju menikah jangan sampai terlemahkan dengan kemalasan kita. Karena di atas semua usaha yang kita lakukan, Dialah Pemegang keputusan yang kelak akan menentukan apakah akan begini atau begitu jadinya. Apapun itu, yakinlah bahwa itu yang terbaik dari kita.

>

Terakhir, saya ingin merapalkan sebuah do’a. Do’a ini saya tujukan kepada saya, dan juga saudara-saudara saya lainnya yang sedang berada di ruang ikhtiar yang sama: ketika hari bersejarah itu (akan) tiba.

>

Saudaraku, di kala malam kian melarut dalam sepi, mari angkat tangan kita, lapangkan hati kita, tundukkan ia hanya kepada keagunganNya, dan mari bersama kita munajatkan do’a ini:

>

Ya Allah, Yang Menguasai hati-hati kami. Yang membolak-balikkannya dengan kuasaMu. Ya Allah, ya Rahman. Wahai Engkau yang memperjalankan unta di malam hari, wahai Engkau yang memasukkan malam kepada siang, wahai Engkau yang membuka pagi setelah malam. Ya Rabb anta ya Rahiim, wahai Engkau yang mempermudah dan mempersulit segala urusan, wahai engkau yang melapangkan dan menyempitkan semua jalan. Izinkan hambaMu yang lemah ini untuk meminta kepadaMu.

>

Ya Allah, sesungguhnya hamba berniat untuk menjaga diri hamba, menjaga kesucian agama yang ada di dalam diri hamba ini. Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon dengan IlmuMu pilihan yang paling tepat, dengan KuasaMu atas alam semesta, dengan keagunganMu yang tiada kira. Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon karuniaMu yang sangat besar. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, sedangkan aku tidak. Engkau Maha Mengetahui baik yang tersurat maupun yang tersirat, sedangkan aku tidak.

>

Ya Allah, jika Engkau menghendaki bahwa perkara ini baik bagi dunia maupun akhirat hamba, maka tetapkanlah dan mudahkanlah. Lapangkanlah jalan menujunya, ringankanlah beban yang memberatinya. Jagalah niat di dalam ini agar senantiasa lurus karenaMu. Jauhkanlah hati dan diri ini dari hal-hal yang menjauhkannya dari kehendakMu. Jauhkanlah dari jalan ini pertentangan dan kerentanan. Kokohkanlah urusannya, perbaikilah akhirnya.

>

Ya Allah, jika Engkau menghendaki bahwa perkara ini buruk bagi hamba, maka jauhkanlah hamba daripadanya. Berikanlah kepada hati ini kekuatan dan kesabaran dalam menerimanya, dan jadikan ia ridha atas ketentuanMu. Ya Allah, jika kau menghendaki perkara ini bukan untuk hamba, maka berikanlah kepada hamba gantinya yang jauh lebih baik daripadanya di MataMu ya Allah, dan tetapkanlah hati ini agar tidak keluar ia dari keridhaanMu.

Amin.

>

Rawalumbu, 3 Ramadhan 1428 H

Tuesday, September 04, 2007

Quote for Today and Ever

Aku tahu rizkiku tak mungkin diambil orang

Karenanya hatiku tenang

Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain

Maka, aku sibukkan diriku bekerja dan beramal

Aku tahu, Allah selalu melihatku

Karenanya aku malu bila Allah

mendapatiku melakukan maksiat

Aku tahu, kematian menantiku

Maka, kupersiapkan bekal

untuk berjumpa dengan Rabbku

--Hasan Al-Bashri

Biar Dramatisasi Jadi Manis

Oleh: Muhammad Anis Matta

Puisi yang terlalu seadanya memang tidak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu gereget. Perlu hentakan. Perlu dramatisasi. Begitu juga ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja kalau ia membara. Dan baranya meletup-letup lewat kata.

Qur’an tidak mengingkari itu. Virus penyair yang disebut Qur’an sebenarnya terletak pada kadar kebohongan yang sering menyertai dramatisasi itu. Begitu juga ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar di hati. Bisa juga karena memang tidak mengandung kebenaran. Mungkin juga berakar di hati, tapi tidak mengandung kebenaran. Atau mengandung kebenaran, tapi tidak berakar di hati. Yang benar tapi tidak ada di hati adalah kebohongan. Yang tidak benar tapi ada di dalam hati adalah kesalahan. Yang terakhir ini misalnya lagu berikut ini:

Semua yang ada padamu

Oh membuat diriku tiada berdaya

Hanyalah untukmu

Hanyalah bagimu

Seluruh hidup dan cintaku

Ungkapan itu mungkin memang berakar di hati. Tapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Dan itu tidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesama manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta; bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam jiwa. Yang pertama tentu saja memastikan persoalan dasarnya: apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan bahwa”tidak ada dusta di antara kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan jiwa yang dalam, keakraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Tapi kita harus menakar dengan objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara, atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya memang, kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik semua dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah cinta; selalu mempunyai syaratnya sendiri.

CINTA

Cinta itu bisa disembunyikan, tapi cinta tidak
bisa dibungkam. Maka, katakanlah selagi ada
kesempatan atau kau akan kehilangan dan menyesal

Cinta itu menerima apa adanya. Mencintai karena
adanya perubahan, bukan cinta namanya, melainkan
perjanjian. Dalam cinta tidak ada perjanjian,
melainkan keikhlasan. Cinta itu penuh maaf dan
rela berkorban demi yang tercinta bahagia

Mencintai karena ingin balasan, bukan cinta
namanya, melainkan pamrih. Dalam cinta tidak ada
pamrih melainkan ketulusan. Cinta itu penuh
keindahan meskipun hanya dalam khayalan.

Jangan mencari jawaban cinta dengan logika, tapi
tanyalah hati tentang perasaan cinta dan carilah
pembenarannya melalui logika.

Jika terus memaksakan keyakinan untuk diterima,
tanya pada diri apa itu benar cinta? Cinta tidak
bermain dengan logika, tapi rasa untuk selalu
membuat bahagia, apapun bentuknya.

Jangan salahkan perasaan cinta seseorang
terhadapmu, karena ia pun tidak pernah tahu
tentang rasa cinta yang tumbuh itu.

Jangan kau benci karena cintanya padamu, karena ia
pun tersiksa. Karena rasa cinta itu padamu.

Jangan kau ambil kesempatan karena cintanya
terhadapmu, karena sesungguhnya kau telah berbuat
dzolim karena cintanya terhadapmu

Cinta adalah anugrah Allah yg diberikan kepada
hambaNya yang penuh keindahan dan hanya bisa
dirasakan.

Dengan cinta orang bisa menutupi luka. Dengan
cinta orang bisa menyembuhkan luka. Dengan cinta
orang masih bisa berharap. Karena cinta manusia
masih mempunyai mimpi. Karena cinta manusia bisa
terluka. Karena cinta manusia bisa bahagia

Cinta sejati adalah cinta yg tidak pernah
mengharap untuk dibalas. Cinta sejati hanya
memberi walau tanpa menerima. Cinta sejati bisa
terluka, tapi tidak kuasa memberikan luka.


Hanya cinta sang Khalik yg tak pernah mengharap balasan.

Hanya cinta sang Khalik yang tak pernah pamrih.

Hanya cinta sang Khalik yg selalu setia.

Maka cintailah Dia, maka engkau tak akan dikecewakan.

Cintailah Dia, karena cintamu akan terbalas.
Cintailah Dia, karena Dia selalu setia. Cintailah
Dia, karena kau akan bahagia..

Cinta mengajari di waktu muda, dibutuhkan saat
dewasa, penghibur dikala tua, namun cinta yang
abadi adalah mencintai yang menciptakan Cinta
Illahi Robbi..

Dilatasi

Matahari dhuha merambati waktu

ketika sinarnya menghangatkan

pucuk-pucuk dedaunan

menggiring hati ke kehampaan

yang meradangkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

sungai bening mencumbui tanah

ketika riaknya membasahi

akar-akar pepohonan

melautkan hati ke kehilangan

yang membakarkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

burung kecil menghias langit

ketika kicaunya meramaikan

putih-putih awan

menerbangkan hati ke ketinggian

yang menyesakkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

rokaat pendek mengukir sajadah

ketika dzikirnya membisikkan

rongga-rongga dada

mengkhusukkan hati ke kesucian

yang membersihkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

matahari ashar mengguliri sore

ketika lelahnya menguliti

pori-pori tubuh

mencabikkan hati ke kemeranaan

yang menyakiti diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

aku lelah

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari itu

karena garis finish masih jauh

 

entah,

kan kutulis apa

hamparan hati yang tak berbatas ini

yang adanya hanya denyut

itu - itu saja

 

 

entah,

kan kutulis apa

lembaran waktu yang tak berujung ini

yang adanya hanya detak

itu - itu saja

sedangkan,

hati itu akan berkarat

dan...

waktu itu akan habis

malunya diri

tak membuat segera berbenah

entahlah...

kan kutulis apa lagi

putihnya kertas

untukmu ini...

...........................

(almanfaluthi)

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31