« October 2007 | Main | December 2007 »

Thursday, November 29, 2007

Tragedi Cinta

Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan biologis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita membayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka, memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad Bin Daud AI-Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saat menjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi ternyata Sang Imam justru mencurahkan isi hatinya, kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi yang digubahnya.

Sayyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali pula ia patah hati, kata DR. Abdul Fattah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasi doktornya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid; karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthub tenggelam dalam penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya makin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaaan itu. la bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, realisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka menambatkan harapan kepada sumber segala harapan; Allah.

Begitulah Sayyid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, " Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?" Setelah itu ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fii Dzilalil Qur'an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri! (anis matta)

                            

Wednesday, November 21, 2007

Kesederhanaan

ketika untaian kata bisa terlontar tanpa perlu dorongan yang keras. ketika kalimat kalimat bisa mengalir ke  muaranya, samudera rasa nan luas itu. kala tawa tawa tercipta karena di situ memang terselip suatu canda, cerita ceria, dan buncah bahagia. kala tangis tangis terurai oleh bongkahan resah, sejumput nelangsa, sekeping gulana. lesapan angin, tabuhan rinai hujan, terik mentari, lelehan kabut : ingin duduk diam menikmati, dengan satu pinta sederhana : menjamah kesederhanaan itu sendiri, tanpa janji janji.

karena rumit melelahkan. karena sulit menyesakkan. karena syarat membawa pias menuntun makna membias. mungkin sederhana itu sebatas sekat tipis, garis imajinasi yang memang membaurkan segala untuk tak menjadi sederhana. mungkin.....

(eva indri agule, melukis pelangi)

Saat

kadang, saat kehilangan diri dalam ketakutan dan kesengsaraan. dalam rutinitas dan konstanitas. dalam keputusasaan dan tragedi. kita bisa bersyukur atas satu hal kecil : kue, lagu, ataupun film kesukaan misalnya. dan untungnya jika tak ada kue dan halhal favorit lainnya, kita bisa temukan keyakinan dalam tangan yang dikenal di kulit. atau tindakan yang baik dan penuh cinta. atau dorongan yang lembut. atau pelukan penuh cinta. atau tawaran untuk menyamankan. atau rahasia yang dibisikkan lembut. atau mungkin sedikit potongan fiksi. dan begitu banyak yang mungkin terlewatkan oleh mata awas kita meski telah berpapasan jalan. dan harus diingat, semua ini : perbedaan, anomali, kepelikan yang diasumsikan hanyalah asesoris kehidupan, sebenarnya ada untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. dan mereka disini untuk menyelamatkan.

(quotes from, stranger than fiction)

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31