« December 2007 | Main | February 2008 »

Wednesday, January 30, 2008

akulah si telaga

akulah si telaga, berlayarlah diatasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan

bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkanlah begitu saja perahumu

biar aku yang menjaganya...

(sapardi djoko damono)

   
                            

Wednesday, January 23, 2008

Amien Sunaryadi : Detektif Pemalu Dari Rawalumbu II


Siang itu terasa matahari menikam kepala. Jumat 8 April 2005. Sekelompok orang berompi abu-abu memasuki Hotel Ibis di Jakarta Barat menyisakan dingin tanpa ekspresi di wajah mereka. Badge berlogo burung garuda bertuliskan tiga aksara yang akan membuat para koruptor ciut nyalinya tersembunyi dalam rompi penyidik Kejaksaan Agung. Jelas mereka tegang. Sang informan memberitahukan akan ada upaya penyuapan atas audit BPK terhadap pengadaan barang infrastuktur Pemilu 1999. Peyuapan ini diduga akan dilakukan oleh ”orang-orang penting” di negeri ini.


Lelaki berambut tipis itu, sang pemimpin operasi, juga seolah tak bisa menyembunyikan ketegangannya. Ia teringat, sepekan sebelumnya ia bertemu sang informan. Lelaki itu kedatangan seorang sahabat lama. Teman sekampusnya. ”Amien, lama tak jumpa.” ia menyapa duluan. ”Bang Khairansyah, bagaimana kabar keluarga, sehat Bang?” ujarnya. Jabatan tangannya terasa hangat. Ia masih tetap yang dulu, dengan tambahan aksen janggut tipis, khas wajah aktivis masjid. Menyejukkan. Mereka berdua saling melempar senyum dan mulai membicarakan sebuah persoalan penting dan rencana penjebakan.


Setelah check-in di Hotel Ibis, Jakarta Barat. Mereka memesan dua kamar besar. Menyodorkan uang sewa, mereka meluncur ke lantai enam. Dua kamar yang dipesan saling berhubungan. Tiba di kamar 609 mereka langsung beraksi. Seperti kisah para telik sandi dalam film spionase: alat sadap dipantek di plafon, juga di sudut kamar. Jejak penyadapan ditutup rapi. Setelah beres, mereka bergegas ke kamar 607. Amien-lah yang mengendalikan operasi dari kamar itu.


Dari kamar berkamera tersembunyi mereka bisa memantau seluruh gerak-gerik di kamar pertama. Setelah dicek berkali-kali, aksi pasang alat perekam itu rampung menjelang magrib.


Sesudah itu mereka menunggu. Sekitar pukul sembilan malam, dari CCTV terlihat masuk sang target operasi. Seorang mantan aktivis, yang juga seorang Doktor Ilmu Kriminologi. Lelaki berambut tipis itu seolah tidak percaya bahwa sosok yang selama ini menjadi panutan di masyarakat, seorang dosen terpelajar, dan sangat memahami hukum akan melakukan tindakan ini : penyuapan. Mulyana Wira Kusumah masuk kamar 609. Petinggi Komisi Pemilihan Umum  (KPU) datang sendirian. Dia menenteng sebuah tas berukuran sedang.


Di situ Khairiansyah, sang informan, seorang auditor Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), sudah menunggu. Keduanya bercakap sebentar. Lalu Mulyana menyerahkan uang dan cek. Empat lembar cek dijejerkan di atas tempat tidur. Di tengah transaksi itu, delapan penyidik KPK dari ruang 607 meluncur masuk. Mulyana dibekuk. Ia digelandang ke kantor KPK.


Mantan aktivis itu kemudian diseret ke pengadilan dan divonis penjara 2 tahun 7 bulan. Mulyana terbukti menyuap auditor BPK. Belakangan, ia juga dihukum karena melakukan korupsi pengadaan kotak suara pada Pemilihan Umum 2004. Mereka yang masuk bui karena kasus ini, Kepala Biro Logistik KPU Richard Manusun Purba, dan Direktur Utama PT Survindo Indah Prestasi, Sihol P. Manulang (divonis 4 tahun). Kasus korupsi ini mengakibatkan kerugian negara Rp 15,7 miliar.

(bersambung)

Soalnya


bukan air kopi secangkir

untuk diminum pagi-pagi

sebelum berangkat kerja

 

Soalnya

bukan nasi sepiring

yang menyebabkan tangan kurus

mengangkat tinju

 

Soalnya

bukan “apa kata dunia”

sehingga kantor pratama

juga kantor madya ada

 

Teramat hina

jika soal kerongkongan dan perut

menjadi sebab untuk bangkit

 

Terlampau rendah

kalau yang menyebabkan kita bangkit

air kopi secangkir dan nasi sepiring

 

Terlalu dangkal

apabila hanya “apa kata dunia”

menjadi musabab kita berubah

 

Kita bangkit

demi hak dan keadilan

yang ditimbun keserakahan

 

Kita berubah

demi  Indonesia

 

digubah dari aslinya karya Rachmat M. Sas. Karana yang ditulis dalam bahasa Sunda dan dimuat dalam Majalah Sunda, Bandung Th. II, no. 4, 5 April 1966

 

Amien Sunaryadi : Detektif Pemalu dari Rawalumbu I

Gandrung membongkar pelbagai skandal, ia terlibat pengungkapan kasus korupsi kelas kakap. Di puncak prestasinya, Amien Sunaryadi malah terpental dari Komisi Pemberantasan Korupsi. -  Tempo


CERITA ini terjadi pada Ramadhan, tahun 1983. Ketika itu pimpinan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)  sedang gundah: soal ujian bocor ke sejumlah mahasiswa. Tak jelas siapa pelaku pembocoran itu. Lalu, diutuslah seorang asisten dosen melakukan investigasi.


Sang asisten lalu merancang investigasi berjenjang. Ditelusurinya lapisan terbawah sekolah itu: dari mulai pesuruh sekolah sampai dosen senior. Dari tukang sapu sampai mahasiswa. Teknik investigasinya tak istimewa: saban sahur hingga menjelang imsak, asisten dosen itu mewawancarai pelbagai orang di warung makan. Berhari-hari, informasi sedikit demi sedikit dikumpulkan.


Dari berbagai cerita, akhirnya diketahui bahwa jual-beli soal dilakukan sebuah jaringan yang rapi. Motornya sejumlah mahasiswa senior. Berbekal sejumlah fakta dan kesaksian, si asisten itu menemui mahasiswa senior itu.


Dari mereka diperoleh kabar bahwa kejahatan itu diotaki oleh tiga mahasiswa senior. Sejumlah pegawai kampus juga terlibat karena menjual soal kepada mahasiswa. Terhadap mereka yang bersalah, petinggi kampus menjatuhkan sanksi. Sang asisten jadi pahlawan.


Dosen muda itu adalah Amien Sunaryadi—pria berambut tipis, sedikit pemalu, yang 24 tahun kemudian menyala namanya di dunia pemberantasan korupsi.


Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (2003–2007) itu adalah salah satu juru kunci di balik terungkapnya sejumlah kasus korupsi raksasa di

Indonesia

. Ia, misalnya, adalah otak penyergapan anggota Komisi Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah, saat berusaha menyuap auditor Badan Pemeriksa Keuangan. Ia pula aktor di balik pengungkapan korupsi Direktur Badan Urusan Logistik, Widjanarko Puspoyo.


Inilah kisah heroik seorang sahabat sekaligus kakak kelas saya tercinta : Amien Sunaryadi...

Maraji :
Majalahtempo.com, Indonesian Corruption Watch files, Jurnal Purnawarman 2007

Friday, January 18, 2008

Purnama

purnama menggantung di langit Jakarta
temani aku susuri jalan menuju pulang
tiba-tiba, aku rindu purnama di sudut jiwa
masihkah ia bersemayam disana?
dan gerimispun menjelma

Monday, January 07, 2008

Bunda

bunda adalah kejora

karena setiap geriknya benderang sayang

bunda adalah bunga

selalu berseri, berwarna dan memesona

bunda adalah surga

helai nafasnya tidak hanya cinta tapi juga do'a

dalam semesta

tak ada yang lebih kemilau menyala

kecuali bunda

Thursday, January 03, 2008

(Bukan) Roman Picisan

Amir bin Hudzafah, seorang sahabat Nabi SAW, telah menceritakan kisah berikut:

Aku melihat di Shuhara seorang gadis yang sedang menempelkan pipinya di sebuah kuburan sambil menangis seraya mengucapkan bait-bait syair.

Amir melanjutkan kisahnya bahwa sesudah itu dia menanyakan kepada gadis itu kuburan yang ditangisinya.

Ia menjawab: “Seorang pemuda yang menjadi kekasihku semenjak kecil.” Kemudian gadis itu kembali melantunkan bait-bait syairnya:

Dahulu kami bak sepasang merpati di sebuah sarang nan rindang

Kami hidup menikmati kesehatan dan masa muda kami

Namun kemudian zaman mencerai-beraikan segalanya hingga aku berpisah dengannya

Dan memang zaman itu selalu memisahkan orang-orang yang dicintai

‘Amir bin Hudzafah, mengatakan bahwa dia hanyut dan ikut menangis sedih karena kelembutan syairnya, lalu gadis itu kembali melantunkan bait-bait syair berikut:

Kamu tangisi dia, padahal kamu tidak tahu keadaannya;

maka aku sungguh akan memberitahu kepadamu tentang keadaannya dengan jelas.

Tiada seorang pun yang meminta kebajikan darinya,

melainkan pasti akan diberi olehnya;

tetapi jika diminta tolong,

jadilah dia seorang pendekar yang pilih tanding.

Dia tidak pernah melirikkan matanya kepada tetangga,

dan tidak pernah menggoda kaum wanita tetangganya yang cantik-cantik.

Dia seorang yang suci batinnya, begitu pula lahirnya;

tetapi apabila haknya dianiaya, engkau lihat dia seorang yang tangguh dan perkasa menuntut haknya.

Aku [’Amir] bertanya: “Beritahukanlah kepadaku, siapa dia sebenarnya.”

Gadis itu menjawab: “Dia adalah Sinan bin Wabrah, sebagaimana yang dikatakan oleh penyair lain melalui bait syair berikut.”

Wahai orang yang meminta bantuan, untuk menolong bencana kaumnya;

cukuplah bagimu meminta bantuan, kepada Sinan nan dermawan

Gadis itu pun berkata: “Wahai orang yang tidak kukenal, demi Allah, seandainya engkau bukan orang yang asing, tentulah aku tidak akan menyenangkanmu dengan kisahku.”

Aku bertanya: “Bagaimanakah cintanya kepadamu?”

Ia menjawab: “Dia tidak pernah memberiku bantal bila aku tidur, kecuali hanya tangannya; dan aku berpacaran dengannya selama empat tahun, namun aku tidak pernah tidur menggunakan bantal, selain tangannya, kecuali dalam keadaan yang tidak mengizinkan baginya.”

===============

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan”, hlm. 657-658.

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31