Amir bin Hudzafah, seorang sahabat Nabi SAW, telah menceritakan kisah berikut:
Aku melihat di Shuhara seorang gadis yang sedang menempelkan pipinya di sebuah kuburan sambil menangis seraya mengucapkan bait-bait syair.
Amir melanjutkan kisahnya bahwa sesudah itu dia menanyakan kepada gadis itu kuburan yang ditangisinya.
Ia menjawab: “Seorang pemuda yang menjadi kekasihku semenjak kecil.” Kemudian gadis itu kembali melantunkan bait-bait syairnya:
Dahulu kami bak sepasang merpati di sebuah sarang nan rindang
Kami hidup menikmati kesehatan dan masa muda kami
Namun kemudian zaman mencerai-beraikan segalanya hingga aku berpisah dengannya
Dan memang zaman itu selalu memisahkan orang-orang yang dicintai
‘Amir bin Hudzafah, mengatakan bahwa dia hanyut dan ikut menangis sedih karena kelembutan syairnya, lalu gadis itu kembali melantunkan bait-bait syair berikut:
Kamu tangisi dia, padahal kamu tidak tahu keadaannya;
maka aku sungguh akan memberitahu kepadamu tentang keadaannya dengan jelas.
Tiada seorang pun yang meminta kebajikan darinya,
melainkan pasti akan diberi olehnya;
tetapi jika diminta tolong,
jadilah dia seorang pendekar yang pilih tanding.
Dia tidak pernah melirikkan matanya kepada tetangga,
dan tidak pernah menggoda kaum wanita tetangganya yang cantik-cantik.
Dia seorang yang suci batinnya, begitu pula lahirnya;
tetapi apabila haknya dianiaya, engkau lihat dia seorang yang tangguh dan perkasa menuntut haknya.
Aku [’Amir] bertanya: “Beritahukanlah kepadaku, siapa dia sebenarnya.”
Gadis itu menjawab: “Dia adalah Sinan bin Wabrah, sebagaimana yang dikatakan oleh penyair lain melalui bait syair berikut.”
Wahai orang yang meminta bantuan, untuk menolong bencana kaumnya;
cukuplah bagimu meminta bantuan, kepada Sinan nan dermawan
Gadis itu pun berkata: “Wahai orang yang tidak kukenal, demi Allah, seandainya engkau bukan orang yang asing, tentulah aku tidak akan menyenangkanmu dengan kisahku.”
Aku bertanya: “Bagaimanakah cintanya kepadamu?”
Ia menjawab: “Dia tidak pernah memberiku bantal bila aku tidur, kecuali hanya tangannya; dan aku berpacaran dengannya selama empat tahun, namun aku tidak pernah tidur menggunakan bantal, selain tangannya, kecuali dalam keadaan yang tidak mengizinkan baginya.”
===============
Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan”, hlm. 657-658.
Recent Comments