1993, Masjid di Rawalumbu hanya ada satu
buah yaitu Al Hikmah di blok enam.
Waktu itu saya kelas 1 SD, setiap Ramadhan
orang-orang dari seluruh blok di Rawalumbu harus berebutan ramai-ramai sholat
di sana.Terpal warna biru digunakan untuk menampung jamaah yang meluber sampai
pekarangan luar. Sebelum tarawih kami selalu bermain perang-perangan
menggunakan sarung sebagai senjatanya. Atau main petasan roket dan petasan
jang-wei di lapangan luasnya. Meski sudah dilarang tapi hayoh sajah, suara
dar-der-dor menghiasi malam khidmat puasa. Seolah puasa tidak lengkap tanpa
petasan.
Hari itu, saya kena batunya. Aa Andeti
(semoga Allah memuliakannya) guru ngaji lulusan Gontor yang pernah nyantri di
Brunei, bertampang sangar berkumis baplang, menghukum jewer telingaku dan si
bandel Pidie karena ketauan bikin ribut pas sholat Tarawih. Meski saya sempat
membuat alibi. Laksana pengacara kawakan Juan Felix Tampubolon. Membela diri
dengan penuh meyakinkan: “Aa, bener nih si pidie yang ngajakin maen petasan
duluan. Bukan saya A. Sumpah. Orang saya dari tadi duduk diem aja koq”
Sayang, Benar-benar sial. Guru ngaji satu
ini ternyata tidak mudah dibohongi. Apalagi oleh seorang anak kecil, kataku
sambil mengusap-usap telinga yang merah karena jewerannya. Setelah dewasa saya
belajar satu hal penting. Jika anda ingin menipu orang dewasa, anda harus jadi
pengacara.
1996, bangunan masjid itu tegak berdiri
seadanya. Kini kami tidak harus numpang lagi untuk sekadar jum'atan di
blok 6. Kami membangun masjid sendiri. Masjid Al Ikhlas namanya.
Lantainya masih cor-an kasar. Dindingnya
belum di plester. Mimbarnya hanya sebuah kursi tua berhiaskan speaker sember
diatasnya. Waktu itu, yang paling rajin jadi muadzin adalah seorang pemuda
bernama Drs. Sdr. Kukuh dan seorang perantau kurus tampan bernama Mas Thohir.
Tentang Drs. Sdr. Kukuh ini ada kisah di
balik namanya. Ceritanya, malam itu ybs menjadi khatib tarawih. Namanya ditulis
pakai spidol di atas whiteboard dekat mimbar. Entah kenapa, beliau yang belum
sempat mengenyam pendidikan sarjana itu, seharusnya ditulis nama khatib :
Sdr. Kukuh, tetapi koq malah ditulis Drs. Kukuh dan sempat dibaca
sambil terkikik-kikik oleh jama’ah sholat Tarawih. Entah sengaja, entah iseng,
entah apakah ada keterlibatan sindikasi pemalsu gelar disini. Wallahu a’lam.
Yang pasti, setelah kejadian itu lafaz : “Amien”, sering keluar dari lisan Drs.
Sdr. Kukuh ini. Adapun, muadzin satu lagi, Mas Thohir si kurus tampan, memang
tampan orangnya dan bagus bacaannya. Dia memiliki qiroat langka untuk ukuran orang Indonesia saat mengimami sholat. Qiro'at tinggi nan meliuk indah : Sayaikh Hani ar-Rifa'i.
Menurut saya orang Indonesia itu hebat-hebat. Jago-jago. Siapa sangka Belanda bisa angkat kaki dari
bumi pertiwi ini. Bayangkan jika saat ini, londo-londo itu masih mendudukkan
kakinya di sini. Bisa-bisa negeri kita menjadi persemakmuran Hindia Belanda dan
bisa ikut Piala Eropa juga. Disamping itu, negeri kita memang terkenal religius
dan Islami. Sejarawan Mansyur Suryanegara, bahkan termasuk yang yakin 100%
bahwa agama Islam masuk ke Indonesia saat Rasulullah saw masih hidup di Mekkah.
Kira-kira tahun 810-an. Itulah sebabnya Lombok dikenal sebagai Negeri Seribu Masjid dan Ternate dikenal sebagai negeri seribu menara.
Orang Indonesia punya dua keahlian utama
: pertama, jagoan berdebat. kedua, ahli mengadakan rapat. Sama seperti ketika
bangunan masjid Al Ikhlas dibuat dengan konstruksi agak aneh : segilima. Topik
ini menjadi perdebatan paling mahsyur di kampung kami saat itu.
“Apa-apaan ini, masjid koq segi lima begini. Mesjid pancasila ya ?!
“Lho, ini khan rukun Islam. Ada sudut. Begitu filosofinya."
“Jangan pikirkan bentuk masjid-nya.
Pikirkan-lah bagaimana orang yg tidak sholat jadi sholat disini.”
“Hemat bahan bangunan!”
“Boros bahan bangunan!”
“Arsiteknya orang Golkar ya, pantas saja.”
“Kita umat Islam harus bersatu. Jangan
kalah sama umat agama lain. Lihatlah umat Kristen, dengan bangganya pergi ke
gereja. Lha, kita??”
“Masjid NU!”
“Masjid Muhammadiyah!”
dst.dst.dst.
Meski perdebatan terlihat cukup sengit dan berapi-api,
seingat saya shaf shubuh di masjid Al Ikhlas waktu itu, dan mungkin sampai
sekarang, tidak pernah lebih dari 3 shaf saja. Yang pasti kata ayahku, sejak
perdebatan itu, masjid Al Ikhlas sempat dibongkar dua kali untuk menentukan
apakah mau dibuat segi empat atau tetap segilima. Proyek ini memakan waktu lama dan biaya cukup besar.
Tapi orang-orangnya, jamaahnya, amat ramah
bukan kepalang. Ibu saya bahkan harus berubah menjadi Mpok Minah, tokoh dalam
sitkom Bajaj Badjuri, berulang kali mengucapkan maap dan terima kasih karena tetangga
kami, yang juga ketua pengajian ibu-ibu Masjid Al Ikhlas, setiap hari tidak
pernah absen mengirim makanan pada tetangga-tetangganya. Meski hanya kuah soto
saja. Mak Ik, wanita tua asal Bangka itu seolah sedang mempraktekan ajaran Nabi yang mulia untuk memperbanyak kuah jika memasak lalu membagikannya pada tetangga sekeliling rumah.
Para merbot, musafir, pengemis, pemulung, atau
anak-anak TPA selalu berkumpul harap-harap cemas menjelang buka puasa. Menunggu
kiriman penganan berbuka, kolak, lemper, kurma, atau nasi bungkus seharga
Rp3500, yang biasanya dikirimkan warga sekitar ke masjid ini. Jika ada rezeki
berlebih Ketua DKM tidak segan-segan mengeluarkan koceknya untuk menyediakan
gulai kambing, acar bawang dan kerupuk udang. Sehingga kami bisa benar-benar
merasakan nikmatnya berbuka.
Saat malam takbiran, beduk bertalu-talu.
Anak-anak begadang di masjid sambil bertakbir tidak karuan. Mirip tarzan di
tengah hutan. Jika sudah agak cape, suara takbiran diganti dengan kaset. Para muzakki berbondong menyerahkan zakatnya, dan para amil sibuk mencatat dengan cermat. Jangan sampai menyia-nyiakan amanah ini. Sementara saya, ehm, seperti biasa maen petasan. Dar-Der-Dor.
Masjid Al Ikhlas tetap berdiri kukuh.
Speakernya masih sember. Tapi warga patungan membeli speaker baru, mimbar baru,
karpet dan sajadah baru. Mengeramik lantainya. Mengecat dan membuat kaligrafi
indah pada dindingnya.
Masjid Al Ikhlas masih berdiri indah.
Hijaunya mengkilap menawan diterpa siluet senja. Banyak orang-orang tua
mengawinkan anak-anak mereka di sini. Banyak penganten sunat digiring masuk
sukuran ke dalamnya. Banyak jenazah-jenazah disholatkan di masjid ini.
Masjid Al Ikhlas mengajarkan keikhlasan.
Ikhlas untuk bangun shubuh-buta. Ikhlas untuk kehilangan sendal baru merk
Carvil yang dibelikan ayah. Ikhlas tidak ikut mudik karena harus menimbang
berkarung beras pada malam ied. Ikhlas menerima dan memahami al-Islam sebagai
agama yang penuh ikhtilafiyah. Penuh rahmah. Penuh hikmah.
Masjid Al Ikhlas, kapan gerangan ku
disholatkan didalamnya?
Penjaringan, 25 Maret 2008
Recent Comments