« February 2008 | Main | April 2008 »

Friday, March 28, 2008

resonansi


Kadang aku merasa

hidup ini bagaikan sebuah bayangan

yang terlukis dalam tembok kenangan

Semua bergulir tanpa terasa

membawa umur menuju senja

Inilah jalanku

Kan kupertaruhkan dengan sukmaku

Sampai seuntai senyuman

Dalam saat perpisahan

Selamanya…

                            

Monday, March 24, 2008

Masjid al Ikhlas

 

1993, Masjid di Rawalumbu hanya ada satu buah yaitu Al Hikmah di blok enam.

Waktu itu saya kelas 1 SD, setiap Ramadhan orang-orang dari seluruh blok di Rawalumbu harus berebutan ramai-ramai sholat di sana.Terpal warna biru digunakan untuk menampung jamaah yang meluber sampai pekarangan luar. Sebelum tarawih kami selalu bermain perang-perangan menggunakan sarung sebagai senjatanya. Atau main petasan roket dan petasan jang-wei di lapangan luasnya. Meski sudah dilarang tapi hayoh sajah, suara dar-der-dor menghiasi malam khidmat puasa. Seolah puasa tidak lengkap tanpa petasan.

 

Hari itu, saya kena batunya. Aa Andeti (semoga Allah memuliakannya) guru ngaji lulusan Gontor yang pernah nyantri di Brunei, bertampang sangar berkumis baplang, menghukum jewer telingaku dan si bandel Pidie karena ketauan bikin ribut pas sholat Tarawih. Meski saya sempat membuat alibi. Laksana pengacara kawakan Juan Felix Tampubolon. Membela diri dengan penuh meyakinkan: “Aa, bener nih si pidie yang ngajakin maen petasan duluan. Bukan saya A. Sumpah. Orang saya dari tadi duduk diem aja koq”

 

Sayang, Benar-benar sial. Guru ngaji satu ini ternyata tidak mudah dibohongi. Apalagi oleh seorang anak kecil, kataku sambil mengusap-usap telinga yang merah karena jewerannya. Setelah dewasa saya belajar satu hal penting. Jika anda ingin menipu orang dewasa, anda harus jadi pengacara. 

 

1996, bangunan masjid itu tegak berdiri seadanya. Kini kami tidak  harus numpang lagi untuk sekadar jum'atan di blok 6. Kami membangun  masjid sendiri. Masjid Al Ikhlas namanya.


Lantainya masih cor-an kasar. Dindingnya belum di plester. Mimbarnya hanya sebuah kursi tua berhiaskan speaker sember diatasnya. Waktu itu, yang paling rajin jadi muadzin adalah seorang pemuda bernama Drs. Sdr. Kukuh dan seorang perantau kurus tampan bernama Mas Thohir.

 

Tentang Drs. Sdr. Kukuh ini ada kisah di balik namanya. Ceritanya, malam itu ybs menjadi khatib tarawih. Namanya ditulis pakai spidol di atas whiteboard dekat mimbar. Entah kenapa, beliau yang belum sempat mengenyam pendidikan sarjana itu,  seharusnya ditulis nama khatib : Sdr. Kukuh, tetapi koq malah ditulis Drs. Kukuh dan sempat dibaca sambil terkikik-kikik oleh jama’ah sholat Tarawih. Entah sengaja, entah iseng, entah apakah ada keterlibatan sindikasi pemalsu gelar disini. Wallahu a’lam. Yang pasti, setelah kejadian itu lafaz : “Amien”, sering keluar dari lisan Drs. Sdr. Kukuh ini. Adapun, muadzin satu lagi, Mas Thohir si kurus tampan, memang tampan orangnya dan bagus bacaannya. Dia memiliki qiroat langka untuk ukuran orang Indonesia saat mengimami sholat. Qiro'at tinggi nan meliuk indah : Sayaikh Hani ar-Rifa'i.

 

Menurut saya orang Indonesia itu hebat-hebat. Jago-jago. Siapa sangka Belanda bisa angkat kaki dari bumi pertiwi ini. Bayangkan jika saat ini, londo-londo itu masih mendudukkan kakinya di sini. Bisa-bisa negeri kita menjadi persemakmuran Hindia Belanda dan bisa ikut Piala Eropa juga. Disamping itu, negeri kita memang terkenal religius dan Islami. Sejarawan Mansyur Suryanegara, bahkan termasuk yang yakin 100% bahwa agama Islam masuk ke Indonesia saat Rasulullah saw masih hidup di Mekkah. Kira-kira tahun 810-an. Itulah sebabnya Lombok dikenal sebagai Negeri Seribu Masjid dan Ternate dikenal sebagai negeri seribu menara.  


Orang Indonesia punya dua keahlian utama : pertama, jagoan berdebat. kedua, ahli mengadakan rapat. Sama seperti ketika bangunan masjid Al Ikhlas dibuat dengan konstruksi agak aneh : segilima. Topik ini menjadi perdebatan paling mahsyur di kampung kami saat itu.

 

“Apa-apaan ini, masjid koq segi lima begini. Mesjid pancasila ya ?! 

“Lho, ini khan rukun Islam. Ada sudut. Begitu filosofinya."

“Jangan pikirkan bentuk masjid-nya. Pikirkan-lah bagaimana orang yg tidak sholat jadi sholat disini.”

“Hemat bahan bangunan!”

“Boros bahan bangunan!”

“Arsiteknya orang Golkar ya, pantas saja.”

“Kita umat Islam harus bersatu. Jangan kalah sama umat agama lain. Lihatlah umat Kristen, dengan bangganya pergi ke gereja. Lha, kita??”

“Masjid NU!”

“Masjid Muhammadiyah!” 

dst.dst.dst.

 

Meski perdebatan terlihat cukup sengit dan berapi-api, seingat saya shaf shubuh di masjid Al Ikhlas waktu itu, dan mungkin sampai sekarang, tidak pernah lebih dari 3 shaf saja. Yang pasti kata ayahku, sejak perdebatan itu, masjid Al Ikhlas sempat dibongkar dua kali untuk menentukan apakah mau dibuat segi empat atau tetap segilima. Proyek ini memakan waktu lama dan biaya cukup besar.

Tapi orang-orangnya, jamaahnya, amat ramah bukan kepalang. Ibu saya bahkan harus berubah menjadi Mpok Minah, tokoh dalam sitkom Bajaj Badjuri, berulang kali mengucapkan maap dan terima kasih karena tetangga kami, yang juga ketua pengajian ibu-ibu Masjid Al Ikhlas, setiap hari tidak pernah absen mengirim makanan pada tetangga-tetangganya. Meski hanya kuah soto saja. Mak Ik, wanita tua asal Bangka itu seolah sedang mempraktekan ajaran Nabi yang mulia untuk memperbanyak kuah jika memasak  lalu membagikannya pada tetangga sekeliling rumah.  


Para merbot, musafir, pengemis, pemulung, atau anak-anak TPA selalu berkumpul harap-harap cemas menjelang buka puasa. Menunggu kiriman penganan berbuka, kolak, lemper, kurma, atau nasi bungkus seharga Rp3500, yang biasanya dikirimkan warga sekitar ke masjid ini. Jika ada rezeki berlebih Ketua DKM tidak segan-segan mengeluarkan koceknya untuk menyediakan gulai kambing, acar bawang dan kerupuk udang. Sehingga kami bisa benar-benar merasakan nikmatnya berbuka.

 

Saat malam takbiran, beduk bertalu-talu. Anak-anak begadang di masjid sambil bertakbir tidak karuan. Mirip tarzan di tengah hutan. Jika sudah agak cape, suara takbiran diganti dengan kaset. Para muzakki berbondong menyerahkan zakatnya, dan para amil sibuk mencatat dengan cermat. Jangan sampai menyia-nyiakan amanah ini. Sementara saya, ehm, seperti biasa maen petasan. Dar-Der-Dor.

 

Masjid Al Ikhlas tetap berdiri kukuh. Speakernya masih sember. Tapi warga patungan membeli speaker baru, mimbar baru, karpet dan sajadah baru. Mengeramik lantainya. Mengecat dan membuat kaligrafi indah pada dindingnya.

 

Masjid Al Ikhlas masih berdiri indah. Hijaunya mengkilap menawan diterpa siluet senja. Banyak orang-orang tua mengawinkan anak-anak mereka di sini. Banyak penganten sunat digiring masuk sukuran ke dalamnya. Banyak jenazah-jenazah disholatkan di masjid ini.

 

Masjid Al Ikhlas mengajarkan keikhlasan. Ikhlas untuk bangun shubuh-buta. Ikhlas untuk kehilangan sendal baru merk Carvil yang dibelikan ayah. Ikhlas tidak ikut mudik karena harus menimbang berkarung beras pada malam ied. Ikhlas menerima dan memahami al-Islam sebagai agama yang penuh ikhtilafiyah. Penuh rahmah. Penuh hikmah.

 

Masjid Al Ikhlas, kapan gerangan ku disholatkan didalamnya?

 

Penjaringan, 25 Maret 2008

 


Tuesday, March 18, 2008

tauriyah


Versus dalam bahasa latin berarti lawan.

Bisa lawan debat, lawan tanding, atau lawan di pengadilan. Istilah versus disingkat vs (red. baca ve es) sering kita jumpai pada tahun 70-an saat pertandingan tinju : Ali vs Frazier. Atau di Euro 2000 : Prancis vs Italia. Yang artinya Prancis me-lawan (dan mengalahkan) Italia.


Contoh penggunaan ve-es yang salah yaitu ketika saya masih SD kelas satu. Seorang anak nakal tinggi besar bernama Rio mencoret-coret dengan kapur di tembok sekolah : Sistia vs Ryan. Kemudian mengata-ngatai saya, Ryan pacaran. Ryan pacaran. Yang ada langsung saja saya menonjoknya sambil berkata : “enak aja loe klo ngomong. Loe tau gak sih klo ve es itu artinya lawan tau!”


Adapun tauriyah dalam bahasa syariah, berarti mengucapkan sebuah lafaz yang mengandung dua arti. Yang mendengar lafaz itu menyangka salah satu maknanya, padahal yang diinginkan oleh pembicara adalah makna yang lain. Mengambil jalan tauriyah yakni lafaz musytarak (makna ganda). Seperti perkataan Ibrahim as saat seorang raja lalim menginginkan istrinya Sarah, ia berkata : “Ini adalah saudari saya.”. Maksudnya benar Sarah adalah saudari seiman Ibrahim, dan raja lalim itupun tidak jadi merampas Sarah. Atau ketika Abu Bakar berkata saat ditanya, siapakah orang itu? “Ia penunjuk jalanku” tatkala Nabi SAW kebagian giliran menuntun unta yang dinaiki oleh Abu Bakar ra.

 

Tauriyah tidak dianggap sebagai berbohong. Apalagi dalam siasat berperang.. Hanya bicara tidak lengkap saja. Sama seperti seorang bocah jujur di masa Harun al Rasyid berkata, “ sejak menginjakkan kakiku disini, aku tidak pernah melihat orang yang kau maksud.” Itu ketika ia berjumpa seorang pembunuh yang mencari pemuda yang sedang bersembunyi itu.

 

Kalau kedua istilah ini – Ve eS dan tauriyah – bertatap muka di Salemba UI, maka yang terjadi adalah perasaan malu yang cukup lumayan menohok saya. ^-^

 

Ceritanya saya mengikuti Executive Tax Program di FE-UI empat bulan terakhir ini. Kuliah tiap senin, rabu dan jum’at. Kuliah brevet ini memang ditujukan sebagai prasyarat ujian sertifikasi konsultan pajak dan biasanya dikuti wakil atau manajer akunting perusahaan swasta. Jarang sekali pegawai publik (baca pemerintahan) ikut diklat ini.

 

Brevet ABC lebih menitik beratkan pematangan konsep maupun studi kasus bidang perpajakan di dunia nyata. Para peserta kuliah bebas bertanya pada instruktur seputar problem yang dihadapi mereka di dunia kerja. Bagaimana mereka mensiasati pajak. Melakukan taz planning dalam rangka penghindaran pajak secara legal-formal. Atau bagaimana beradu argumen saat menghadapi fiskus (baca. Pemeriksa pajak) yang , meski tidak semua, kadang suka brengsek dan arogan.

 

Pernah nonton film James Bond, ada adegan ketika seorang kadet Nikita Kruschev menyamar jadi tentara Amerika dan ikut dalam apel akbar yang isinya 1000 orang prajurit US Army, sementara dia sendiri adalah seorang kamerad Sovyet. Well, kira-kira begitulah posisi saya.^-^

 

Dari awal saya memang mengintro, bahwa kapasitas saya dalam kursus ini adalah sebagai mahasiswa. Bukan sebagai seorang auditor pajak. Saya mengaku seorang konsultan lepas. Saya tidak berbohong dalam hal ini. Saya memang sekarang adalah konsultan sebuah Baitul Maal Wat Tamwil, semacam Koperasi Simpan Pinjam di Bekasi. Saya juga pernah jadi konsultan perusahaan kontraktor di Jakarta.


Tapi saya tidak pernah mengaku sebagai wakil institusi pemerintahan yang sering disorot para calon konsultan di ruangan ini. Para manusia2 penghitung yang di lapangan nanti, kelak harus ber-Ve-eS alias berhadapan ria dengan saya. (red. dalam adu argumen pekerjaan tentunya).

 

Maka interaksi dengan peserta kursus lain yah terjadi biasa-biasa saja. Normal-normal saja. Kami bahkan sering berbincang bagaimana cara mengakali pajak negara dengan sangat liciknya. Hehehe (belom tau die).

 

Kekonyolan paling memalukan pun terjadi. Sang kamerad benar-benar kena batunya hari itu.

Ceritanya instruktur hari itu ternyata kakak kelas saya di STAN dulu. Orang DJP juga. Dan sialnya, dia mengabsen lengkap sore itu. Mulai nama, asal kuliah, juga tempat kerja sekarang. Gawat penyamaran bisa terbongkar nih.

 

Rekan kantor saya si Hanin, kamerad juga, belum apa-apa sudah kabur duluan keluar kelas. Pura-pura ke toilet. Dan saya, ehm, memang tidak punya bakat dan tidak punya mental bagus buat jadi pembohong dari zaman nenek moyang. Yah saya jawab saja sejujurnya, kalau saya sebenarnya kuliah di STAN. Sang instruktur nyengir lebar, sambil bertanya lagi dimana tempat kerja saya. Maka habis sudah kisah seru detektif Conan, Senin, 16 Maret 2008 lalu. Diiringi dengan tatapan senyum penuh arti dari 40 orang pengusaha swasta di sekeliling saya.

 

Duh, sampai kapan sih gini terus. Sektor publik mencurigai privat. Sektor privat meng-akali kebijakan publik. Pengusaha kabur dari hukum. Pejabat negara mengkorupsi proyek-proyek APBN. Tidakkah kita sama-sama tinggal di Indonesia? Kenapa sih, kita tidak saling bersinergi dan bekerjasama saja dalam kebaikan.

 

Raditya menulis buku : Gokil: Sebuah Kompilasi Kedodolan.

Tapi kalau begini, saya lebih sepakat dengan perkataan adik saya tercinta,

“singkong diragiin, tapee deh!!”

 

 

Salemba,19 Maret 2008

Teh Ninih


Pagi itu, Pukul 05.45

 

“Dia penyabar ya.”

Saya terkesiap.

“Siapa bu?” tanyaku.

“Teh Ninih” jawabnya sambil membetulkan antena radio tua agar siaran ta’lim pagi itu terdengar lebih jelas.

 

Saya tersenyum sambil ikut memasang telinga. Ikut mendengarkan tausiyah di radio itu. Topik yang dibahas seputar akhlak dan interaksi seorang muslim pada anak-anak. Ibuku khusyuk sekali mendengarkannya.

 

“zaman sekarang bu” aku mengambil tas ransel,

“orang seperti Teh Ninih jarang ada.” kataku sambil menghirup wangi tangan wanita mulia yang 26 tahun lalu itu mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran seorang bayi mungil.

 

Ada fenomena menarik dibalik kehebatan para lelaki perkasa di masa lalu maupun sekarang. Kisah seorang wanita. Kurasa sebuah anomali. Begini, kebanyakan para lelaki agung di masa lampau berhasil mengukir sejarah tanpa seorangpun mengenali siapa wanita di balik mereka. Dalam konteks istri atau ibu.

 

Sejarah mencatat ada dua wanita yang cukup menonjol kiprahnya dalam tarikh Islam. Pertama, Atikah binti zaid, istri Umar bin Khattab yang berprofesi sebagai bidan/paramedis. Beliau rha, terkenal sering membantu persalinan para ibu muda pada masa itu. Kedua, adalah Aisyah, rha. Seorang penyair, muhadits mahsyur, yang juga turut serta dalam berbagai kiprah politik pasca wafatnya Nabi SAW. Namun adakah yang mengenal para shahabiyah lainnya?

 

Hampir semua orang mengenali Al Banna rhm, tapi adakah yang tahu istri beliau? Imam Syafi’i, Ibnu Hazm, Al Ghazali, dan kini Muhammad Abdul Wahab, Jamaluddin al Afghani, siapapun tahu kiprah mereka. Tetapi adakah yang tahu nama istri-istri mereka?

 

Tapi Teh Ninih adalah anomali. Mungkin agak jauh membandingkan pasangan dai-daiyah tersebut dengan para ulama besar masa lalu. Namun ada ulasan menarik dari salah seorang ikhwan senior yang saya kenal. Beliau mencermati fenomena munculnya daiyah-daiyah di media televisi kita. Sang ikhwan, yang juga mahasiswa syari’ah ini, menyoroti kehadiran mereka cukup menarik. Di satu sisi memberi kemanfaatan besar dalam menjawab masalah umat dari perspektif wanita. Namun di sisi lain, kehadiran mereka, meski tidak semua, kurang dibekali pemahaman syariah yang cukup.

 

Pertama, Ia mengambil contoh, Hj. Irene Handono. Penulis Buku Islam Di Hujat. Sang daiyah terjebak dalam penafi’an teologi kristiani bahwa Yesus atau Isa as, akan datang ke dunia sebagai juru selamat. Irene tidak mengakuinya. Padahal dalam Islam, jumhur ulama sepakat atas keshahihan hadits tentang kedatangan kembali Isa bin Maryam, bukan sebagai juru selamat, tapi justru sebagai penegak tauhid Laailahailallah di bumi ini. Irene keliru dalam berpendapat.

 

Kedua, Hj. Lutfiah Sungkar. Beliau pernah menyatakan bahwa seorang suami yang tidak sholat, tidak sah keIslamannya, dan dapat jatuh pada kekufuran. Pendapat ini sangat berbahaya, kata sang Ikhwan, karena konsekuensi yang timbul adalah, berarti pernikahan wanita muslim dengan suami yang tidak sholat menjadi tidak sah. Berati juga, telah terjadi perzinahan, dan tercerabutnya hak waris atas anak karena sang suami dianggap telah keluar dari al Islam. Para ulama sepakat bahwa meninggalkan sholat bagi muslim, tidak sampai jatuh pada kekufuran mutlak, kecuali jika sebelumnya terlebih dahulu dinasehati, diperingatkan dan diberi pemahaman. Hanya pendapat Utsaimin yang mengkufurkan peninggal sholat sehingga jenazahnya tidak perlu disholatkan pula. Lutfiah Sungkar (semoga Allah memuliakannya) agak terburu-buru dalam mengistinbath hukum.

 

Tapi Teh Ninih, masih lanjut sang Ikhwan, adalah anomali lain. Ia bisa dibilang paling bagus ilmunya, paling sedikit kesalahannya. Teh Ninih mampu mengkaitkan sebuah hukum, dalil naqli dan aqli, serta meramunya dalam tata bahasa yang memukau dan menyejukkan hati. Tidak heran, beliau adalah putri seorang ulama kharismatis Tasikmalaya dan dikenal luas sebagai ahli syariah dan sastra Arab di kalangan pesantren tradisional di tanah pasundan. Teh Ninih (kali ini sang ikhwan terkesan sangat subjektif menurut saya), sangat paripurna, katanya. Ia mampu mengimbangi kapasitas Aa Gym dan bahu membahu dalam berdakwah.

 

Maka, Lathifah as Suri, istri al Banna, tidak menjadi kurang mulia jika tidak sampai mencuat seperti sang suami. Cukuplah dirinya menjadi peneguh di rumah, sebagai qowwam dan peneguh kesyahidan atas dirinya. Begitu juga, istri Hamka saat didaulat berceramah. Ia hanya menjawab : saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah tukang masak bagi buya, rendahnya. Cukuplah mereka mulia akan hal itu.

 

Tapi Teh Ninih adalah anomali. Dan saya, demi Allah, mengutuk keras semua infotainment dan media gossip yang setiap hari menzalimi dirinya dan sang lelaki teduh Abdullah Gymnastiar. Semoga Allah meneguhkan kesabaran bagi mereka.

 

Dan Teh Ninih adalah anomali. Karena dia pasti memahami betul hikmah ta’adud yang dialaminya. Meski siapapun, juga punya hati. Sama seperti ibu saya yang bergumam dalam hati kecilnya pagi itu.

“Dia bisa bersabar ya.”

Subhanallah.

 

 

 

 

Rawalumbu, 19 Maret 2008

 

Maraji :

Catatan Hati Seorang Istri, Asma Nadia

Kebebasan Wanita, Abu Syuqqoh

Siaran MQ-FM pagi ini

Majalah Ummi April 2004

 

Thursday, March 13, 2008

book a-holic addicted nice refference

Apa jadinya jika 10.000 orang pencinta buku di muka bumi kumpul bareng dan saling bertukar review2nya tentang suatu buku yang menarik?

 
Para pencinta buku sepertinya harus berterima kasih pada Otis Chandler dan Elizabeth Khuri yang mendirikan situs jaringan sosial Goodreads.com. Diluncurkan pada 30 Januari 2007, Goodreads sangat membantu saya dalam memilih buku yang hendak dibaca. Dengan tampilan yang hampir sama dengan friendster.com, kelebihan dari situs ini adalah kita para pencinta buku dapat saling bertukar informasi, memberi peringkat pada buku dan menulis ulasan mengenai suatu buku serta berdiskusi dengan pengguna lainnya, bahkan para penulisnya langsung.

 

Beberapa penulis beken juga ambil bagian dalam situs ini, sebut saja : Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Sitta Karina, dll. Dan beberapa buku terlaris seperti : Ayat-Ayat Cinta, Tetralogi Laskar Pelangi, Tetralogi Pulau Buru, (yang sudah mampu menembus royalty di atas 1 milyar rupiah) ini tetap masih nangkring pada peringkat teratas buku yang paling banyak dibaca di Indonesia.

 

Dalam kehangatan ruang diskusi para penikmat kertas papyrus berisi aksara berjuta rasa di seluruh dunia, sepertinya, saya barulah bisa meresapi pernyataan Jorge Luis Borge :

I have always imagined that Paradise will be some kind of library.

 

Kota Tua Jakarta, Maret 2008

Ambillah Resiko

 

        Tertawa adalah mengambil resiko terllihat bodoh, menangis adalah mengambil resiko melankolis. Menjangkau yang lain adalah mengambil resiko terlibat. Mengungkapkan perasaan adalah mengambil resiko menunjukkan diri yang sesungguhnya. Menunjukkan gagasan dan impian adalah mengambil resiko merasa malu. Mencintai adalah mengambil resiko tidak dicintai. Berharap adalah mengambil resiko tidak mendapatkan. Hidup adalah mengambil resiko mati dan berusaha adalah mengambil resiko gagal.

 

        Tapi resiko harus dihadapi, karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak berani mengambil resiko sama sekali. Orang yang tidak berani mengambil resiko tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Mereka mungkin menghindari penderitaan dan kesengsaraan, tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai, dan hidup. Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka adalah budak. Mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri.

 

        Hanya orang-orang yang berani mengambil resiko adalah orang yang kreatif, yang bebas menentukan arah hidup sesuai Al Qur’an dan Sunnahnya. Maka ambillah resiko!

 

Kota Tua Jakarta, Maret 2008 : dari bahan tulisan buletin Ikhlas pra-cetak bulan ini

Monday, March 10, 2008

desolasi

cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab…

(ibnu qayyim al jauziyyah, fii kitabi raudhatul muhibbin)

 

Kepada Dia yang membentuk singgasana surga nan gemerlap. Dia mengatur dunia seorang diri. Dia yang dalam kegelapan hatiku, menyinarkan cahaya-Nya yang tidak terlihat. Dia yang menganugerahi manusia keteguhan hati untuk berdoa dan beribadah padaNya. Hanya pada-Nya kutujukan puji dan syukur atas segala yang diberikan kepada kaum muslimin! Dan hanya pada sang penghulu risalah suci, shalawat serta salam tertuju.

 

Shubuh ini,

Kubuka mataku seirama fajar yang menggelinding menyongsong senja,

begitu pun asaku terlukis dari hari ke hari

mengharap ta'arufmu hingga kini di ujung galah usiaku

yang hampir seperempat abad.

Sukmamu yang melanglang

menjemput sukmaku di sini,

menguatkan tegarku akan kebesaran Illahi.

Tak jauh berbeda nasibku denganmu,

bagaimana mungkin kau bisa mendampingiku

andai saat ini kau tak setegar karang,

bagaimana kau merangkul pundakku

jika saat ini jiwamu hanya serapuh puing-puing yang berserakan....

Sebanyak hitungan nafasmu saat ini,

kau mampu menjaga kesabaranmu,

aku yakin kau pun lebih mampu memeliharanya

karena itu yang akan mengantarkan ta'arufmu padaku.

Jangan pernah berpikir bahwa dirimu hidup sendiri,

karena aku tak pernah bersembunyi,

mungkin Allah masih memisahkan kita sementara waktu

agar kita lebih mampu mendewasakan diri.

Apakah tak cukup bukti akan kesetiaanku?
Lihatlah kerutan hari mengurangi detik demi detik

bilangan usiaku yang entah tinggal berapa,

melukis helai rambut yang mulai berubah warna....

Terima kasih atas do'amu untukku.

Semoga Allah senantiasa menjaga kesabaran di hati kita,

menyempurnakan setengah dien kita, dalam ridho dan cinta kasih-Nya.

Aamiin ya rabbal aalamiin.

 

Bumialam Hijau, 7 Maret 2008

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31