« March 2008 | Main | May 2008 »

Monday, April 28, 2008

Teleportasi


Stasiun Kereta Api Bekasi

Pagi ini kira-kira pukul 06.05 saya sampai di stasiun Bekasi.

Membolak-balik Koran ABC, beberapa headline berita tampak begitu biasa-biasa saja .

Contohnya :

JAKSA ENAM MILYAR TERTANGKAP TANGAN

(kayaknya dulu istilah yang dipakai tertangkap basah deh?);

TKW DIDEPORTASI MALAYSIA 

(mungkin balas dendam atas  deportasi asap kebakaran hutan kita ke negeri  mereka)

INKONSTITUSIONAL, KETUA PARTAI ABC DILENGSERKAN

(disyukuri saja pak, khan jadi punya banyak waktu buat ngemong anak istri di rumah)

SETAN MERAH (LAGI-LAGI) BUNGKAM PUBLIK ANFIELD

(Kang Ronaldo is the one!)

PEJABAT X : BUKAN-BUKAN SAYA YANG TEKEN!

(saya cuma terima bersihnya aja koq :P)

TEWAS KELAPARAN, IBU DAN BALITA MAKAN NASI AKING DI KABUPATEN XYZ

(astaghfirullaha adzim, Lurahnya bilang meninggal karena diare! )

 

Kalau ditumpuk dengan formasi vertikal, saya yakin problem negeri ini pasti sampai ke bulan saking banyaknya. Ah, bangsa yang carut marut. Namun, lebih carut-marut lagi orang seperti saya. Cuma bisa jadi pengamat dan pemerhati masalah sosial, dan berlagak so-sial.

 

15 meter sejurus mata memandang, di pojok stasiun, tampak ada kerumunan penumpang kereta api. Diantara mereka, tampak ada seorang lelaki yang sepertinya saya kenal. Saya agak lupa siapa dia, namun setelah mengingat-ingat, akhirnya saya mengenali lelaki agak gemuk berkacamata tebal itu.

 

Setelah berucap salam dan saling menggugurkan dosa melalui mekanisme jabat tangan erat, saya ikut nimbrung dan ikut mendengarkan obrolan lelaki itu dengan seorang tukang asongan. Kemudian datang pula seorang remaja penjual koran keliling, 4 urban pekerja dari Bekasi, dan seorang ibu-ibu karyawati usia 30-an. Kami berbincang tentang masalah sosial dan transportasi, khususnya seputar kereta api ekonomi. Saya sempat berkeluh tentang buruknya sistem transportasi di kota kita.

 

Anda pernah dengar kata “debus”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “debus” atau “dabus” (banten)  adalah semacam pertunjukan kekebalan terhadap senjata tajam atau api dengan menyiksa diri, menusuk, menyayat, atau membakar tubuh. Saya kaget setengah mati, hampir melompat jantung ini keluar, saat menyaksikan pria gondrong didepan saya ini menusukkan besi tajam ke permukaan kulit lehernya. Masya Allah, otak saya yang sangat rasional ini berkata, pemuda bertampang sangar di depan saya ini pasti lagi kesakitan berat. Tapi tidak! Nyatanya, dia cengar-cengir aja tuh.


Gile beneer! Sakti-sakti dah orang Indonesia, Hebatnya lagi, anda tidak perlu pergi ke Banten untuk menonton adegan luar biasa itu. Cukup di atas kereta api ekonomi jurusan Bekasi-Kota.

 

Lain waktu, anda bisa juga menikmati pertunjukan topeng monyet. Tentu saja, lengkap dengan monyet-nya yang lucu itu. Sambil memegangi payung dan pura-pura naik sepeda ke pasar.


Para penumpang kereta ekonomi, terutama ibu-ibu sering ketakutan saat didatangi si monyet. Seorang pelajar bahkan sampai berteriak saking kesalnya karena digoda oleh primata sepupu Lutung Kasarung itu, dasar monyet loe!, katanya.

 

Anda butuh sisir, lem sepatu, batu batere, peniti, pakaian anak, kacamata baca, jarum jahit, atau tambalan panci rombeng? Tidak usah jauh-jauh pergi ke pasar. Cukup naik saja kereta api ekonomi jurusan Bekasi Kota. Dengan uang Rp5.000, anda sudah bisa membeli belanjaan itu. Kereta api ekonomi juga menyediakan kebutuhan untuk mainan si kecil anda seperti mobil-mobilan, pistol-pistolan, dan robot-robotan.


Semua itu hanya dapat anda temui di kereta api ekonomi. Lain waktu lagi, ada orkes tanjidor, dengan musik gambus atau ala grup musik Ungu.

Ada berupa-rupa pengamen mulai yang memiliki kualitas vokal ala Ebiet G. Ade hingga yang  mirip Bob Marley.


Ada juga pengamen yang sulit di bedakan, dia ini lelaki atau wanita. Kemudian berturut-turut masuk pula ke dalam gerbong rakyat  itu : karyawan kelas menengah yang ingin berhemat ongkos, pelajar SMP sambil merokok, para mahasiswa peraih beasiswa, ibu-ibu pekerja, pedagang sayur,  gadis-gadis muda SPG, pengemis, pemulung, gelandangan, orang gila, eksibisionis, PNS, tukang copet, kyai, tukang jual rokok, dan tentu saja tidak ketinggalan, si masinis yang berbaju gagah itu. Tiketnya murah meriah : Rp1500.

Semoga anda selamat (dan tidak berkeringat) sampai tujuan.

 

Yah, saya pikir para anggota DPR yang bergaji Rp50juta per bulan itu, sesekali perlu juga naik kereta ekonomi jurusan Bekasi-Kota. Saya pikir ada filosofi berbagi rasa dan belajar memposisikan menjadi rakyat, bukan sekadar "wakil" rakyat.

 

Oh ya, hampir lupa, lelaki berkacamata tadi. Yang saya temui dan sempat ngobrol di stasiun kereta api. Dia juga pengguna setia kereta ekonomi lho. Dan,.. ehm, lelaki itu dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat dua minggu kemudian.

 

Kreta





Stasiun Bekasi, 15 April 2008

sebelum naik kereta

                            

Substansi

Lepas semua

yang kuinginkan

Tak akan ku ulangi


Maafkan jika

Kau kusayangi

Dan bila ku menanti


Pernahkah engkau

Coba mengerti?

Lihatlah ku disini!

 

Mungkinkah jika

aku bermimpi?

Salahkah tuk menanti?

 

Tak kan lelah

Aku menanti

Tak kan hilang 

cintaku ini

 

Hingga saat

Kau tak kembali

 

Kan kukenang

di hati saja

 

Kau telah tinggalkan

hati yang terdalam

 

Dan kau lah cinta

yang tersisa di jiwa

 

(lyrics from “yang terdalam”)

Sunday, April 27, 2008

apresiasi

SabatSaya terus terang agak kesulitan mendefinisikan arti kata “kawan”. Dahulu waktu masih kecil, saya pikir anak-anak yang satu tim sepakbola dengan saya berarti adalah kawan saya. Lainnya berarti musuh saya yang harus ditumpas, alias dijebol gawangnya. Definisi ini segera berubah ketika gawang tim saya justru kebobolan oleh “kawan” sendiri. Bener-bener, makan ati juga euy. Bunuh diri ala John Arne Riise di quarter-final Liga Champion kemarin.

 

Kemudian saya pernah beranggapan bahwa “kawan” itu artinya orang-orang yang gembira bersama kita. Tertawa dan saling mengisi kehidupan kita. Saling berbagi suka duka. Lagi-lagi definisi ini berubah setelah saya mendapati sebagian “kawan” itu menganut teologi oportunistik : “Kalo acara makan-makan, kita memang bersahabat bro. Tapi kalo agendanya kerja bakti gini, sorry men. Gue ada janji ama bokin gue.” Pengkhianaaat! gerutu saya sambil ngedumel membersihkan got di depan kantor RW.


Belakangan saya mulai bisa mendeskripsikan makna kata “kawan”, adalah berarti kehadiran 15 orang teman saat saya di rumah sakit, membawa delapan kaleng susu beruang, sekotak crackers, dan sekantung buah piir kesukaan saya. Ketulusan dan kehangatan membentuk komponen terpentingnya.

 

Kata seorang ahli hikmah, sesungguhnya derajat persahabatan ter-rendah adalah tiadanya rasa ghil “rasa sebal” di dalam hatinya. Dan derajat tertinggi persahabatan adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara kita lebih dari kepentingan kita sendiri). Artinya, jika anda sedikit saja merasa”sebal” saat berjumpa muka kawan anda, maka anda tidak layak menyebutnya dengan sapaan “kawan”,

 

Hari itu, saya semakin bisa memahami kata “kawan”, Kawan adalah ketika lagi enak-enaknya tidur, jam setengah empat buta, tiba-tiba hape ini berbunyi nyaring : “Wake up, bro. Jangan molor mulu. QL yuk.!” Atau kata ini terdefinisikan, saat seorang pria meminjami uang Rp100.000, tanpa ragu-ragu waktu saya lagi bokek di kampus dulu. Kata Umar bin Khatab ra, teman baik adalah seseorang yang bisa engkau akses dengan mudah kantongnya.

 

Lalu perlahan-lahan, saya mulai bisa mengumpulkan definisi puzzle kata-kata itu satu per-satu. Kata “kawan”, “teman”, “saudara”, “ikhwah”, dan “sahabat”. Tahukah anda wahai pembaca tulisan ini? Sungguh, mereka telah melengkapi kehidupan saya dengan sangat sempurna.

 

Sesekali, saya juga ingin dapat piala Oscar untuk pemeran pembantu pria terbaik. Di depan karpet merah, di atas podium, saya ingin sekali mengucapkan salam hormat dan rasa terima kasih atas kehadiran mereka yang begitu luar biasa dalam kehidupan ini.


Para anggota klub mesin waktu di SD Pengasinan : Eggy, Ardi dan Heri. Rekan-rekan di SMP 2 Bekasi : mamat the one, Kidoy si jago catur, Dian si Aktor, Didik Liverpool mania, dan Fajar cs. Para sahabat saya di The Greens 1.9, The Quarters 2.5, dan Republik IPA 3. Rekan-rekan Irman dan Rohis SMUN 1 Bekasi. Komunitas Al Ghifari : Iswar, Daimun, Syahid, Novan, Window, Windu, Feri, Richard dan Abdi. Saya mencintai kalian semua.

 

Segenap sahabat di Komasatu, Unit Karang Taruna RW 05, KaRisma Al Ikhlas, specially for “dua manusia penyayang”, Mbak Rahma dan Mas Andy, juga Okiy si master design, Wendy MU-mania, Zaky titisan ”Himura”. Sulit menyebutkan nama anda semua satu persatu.


Para akhwat yang manis-manis di keputrian Karisma. Para hansip RW 05 yang sibuk ronda di malam hari, Para tukang ojek di jembatan dua, si Lek, tukang nasi goreng yang paling lezat di muka bumi ini (tanpa MSG lho kang). Bang Somad merbot mesjid, dan tak ketinggalan Bang Is yang nggak pernah absen mengambil sampah dapur dari rumah ibu saya.


Teman-teman seperjuangan di Sinergi, IM, dan Progresif  Training Center : Imunk yang bijak, Emin yang meledak-ledak, Eri my soulmate, Eha yang lucu, Iin yang emosional, Aat yang tilawahnya paling enak didengar sedunia, Eka yang muhasabahnya bisa bikin mata ini bengkak-bengkak, serta tidak ketinggalan, Bro Saheed en Teh Feby, juga Joko-Yanuar sang “kakak-beradik”. Sungguh, saya mencintai kalian semua.

 

Rekan sekampus STAN dan Universitas Taliban ; Mr. J, Rio, Arief, Asep, Aswie, Edi dan Uun. Ana uhibbuka fillah yaa akhi. Para rekan majelis haditsnya Ust. Muhidin, Rahman, Anan, Jun, Dul, Abu Ilham, dan Miftah. majelis dhuhanya Ust. Muchson, rekan-rekan BMT Harum. Semoga Allah merahmati kalian semua.

 

 

Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Yang saya ingat, dan mungkin sudah saya lupakan. Maafkan saya. Hiks. (terharu Mode ON).


Apresiasi ini dipersembahkan setulus-tulusnya dari hati terdalam saya kepada anda semua teman, sohib, konco, cs, saudara, ikhwah, sahabat karib, dan teruntuk seorang “teman sejati” yang kelak akan hadir dalam salah satu episode terbaik kehidupan ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

 

Di akhir tulisan ini, izinkanlah saya bertutur satu kisah dari langit. Sebuah contoh paripurna dari persahabatan. Sebuah fragmen sejarah yang membuat pipi dan janggut manusia mulia Rasulullah Saw basah karena menahan haru.  Satu episode  persahabatan yang layak dikenang sepanjang masa.

 

Alkisah 1419 tahun yang lalu, tersebutlah dua sosok sahabat yang saling berkasih karena Allah. Selalu berdua kemana-mana. Ke pasar, ke masjid, ke majelis Nabi. Dua personifikasi berbeda dalam satu ruh yang sama: mencintai kebenaran. Saling bercengkerama dalam nasehat. Mereka saling bertegur sapa dalam kehangatan. Saling mengundang jamuan makan malam. Saling mendoakan dalam pernikahan dan kelahiran anak-anak mereka. Merekalah dua lelaki teduh. Tak terpisahkan satu sama lain. Abdullah bin Amr bin Haram ra, dan Amr ibnul Jamuh, ra.

 

Pagi itu tidak seperti biasanya. Adzan dikumandangkan di ambang fajar. Takbir bergemuruh bersahutan. Panji-panji ditegakkan. Dua mata sahabat itu mendelik, meyakini telah datang seruan yang dinantikan. Panggilan perang. 

 

Ibnu Jabir, panggilan Abdullah bin Haram, dinisbatkan pada kunyah putranya Jabir bin Abdullah, ra. Ia berpesan pada anaknya supaya melunasi hutang-hutangnya sebelum berangkat ke medan jihad. Sementara itu Amr Ibnul Jamuh, sibuk mengasah pedang sambil tiada henti memanjatkan doa untuk kemuliaan agamanya.

Siang itu, pasukan Islam berguguran. Mereka mulai terdesak setelah situs penting Jabal Uhud ditinggalkan. Mengetahui agamanya sebentar lagi akan hancur lebur, Ibnu Jabir tanpa ragu berlari kencang ke medan perang.


Ia tidak lagi mempedulikan tatkala tangan kirinya sudah putus tertebas pedang. Ia tidak mengeluh tatkala 20 buah anak panah beracun menembus punggung dan dadanya yang putih. Yang ia tahu hanya bayangan syurga yang telah dijanjikan. Maka iapun berlari dan terus berlari. Menghantam barikade musuh. Laksana gelombang. Dan ia tidak merasakan apapun, ketika segenap malaikat penghuni langit dan bumi bertasbih seraya menyelimuti ruhnya dalam harum kain kesturi.

 

Amr ibnul Jamuh datang agak terlambat. Menyaksikan sahabat tercinta satu-satunya sudah menjemput Sang Kekasih, ia tidak mau kalah dalam perlombaan ini. Ia sudah tahu kemana harus menjual nyawa.

 

Sembilan jam kemudian perang usai, Nabi mulia itu tercenung pilu.

Ia segera memanggil Jabir, putra abdullah. Nabi berkata, “Tahukah engkau Jabir? Sesungguhnya tidaklah Allah berbicara kepada manusia kecuali dari balik tabir. Tetapi Dia telah berbicara dengan ayahmu langsung tanpa pembatas. Allah bertanya : “Wahai manusia, mintalah kepadaku. Niscaya akan kukabulkan”.

 

Saat itulah, ayahmu menjawab, “Ya, Rabb. Kembalikan aku ke dunia supaya aku bisa syahid sekali lagi.” Allah swt lalu berkata, “Ketetapanku sudah tiba dan tidak mungkin berubah.” Ibnu Jabir berkata lagi, “kalau begitu, kabarkanlah kepada saudara-saudaraku di dunia tentang nikmat besar yang aku peroleh hari ini, supaya mereka bisa menyusulnya.”

 

Saat itu, terlihatlah pemandangan yang begitu mengiris hati.

Membentuk konfigurasi berangkulan, jasad dua sahabat mulia itu tercabik tidak karuan. Dua sahabat yang semasa hidupnya saling mencintai di dunia.


Tak kuasa menahan isak, Nabi lalu berkata : “Kuburkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amir Ibnul Jamuh dalam lubang yang sama, karena dahulu semasa hidup, mereka adalah dua sahabat setia yang saling kasih-mengasihi.”

 

 

Didedikasikan buat semua teman-teman tercinta :

Ana uhibbuka fillah

Penjaringan, 28 April 2008


Thursday, April 24, 2008

mutasi


Bukan. Kita tidak sedang membicarakan para superhero yang sekonyong-konyong ber-mutasi dari manusia biasa menjadi jagoan komik ala the Marvel's : X-Men. Kita juga tidak sedang berada dalam kelas biologi yang tengah me-mikroskopi Drosophila melanogaster, si lalat buah yang konon bisa dimutasi sehingga “menyukai” sesama jenisnya sendiri.

 

Mutasi yang akan saya angkat kali ini bukanlah “mutilasi” diberi sisipan –il-. Dan bukan pula “permutasi”, dikasih awalan per-. Sebab kalau demikian, maka tulisan ini melulu akan membahas seputar kasus pembunuhan berdarah dingin di daerah Bulak Kapal Bekasi. Dimana kaki dan tangan terpotong dengan mengenaskan. (ini mah rasanya sudah porsi Buser saja untuk memberitakan, lagian nggak enak juga ngebayanginnya). Dan tulisan ini-pun tidak ditujukan untuk memecahkan soal UAN persamaan matematika dasar sub bab “permutasi”.

 

Jadi gini,  saya begitu gembira bulan ini.

Ceritanya pas mau berangkat ke kantor, di kereta AC jurusan Bekasi-Kota, saya berjumpa seorang teman lama: Ichan. Eh, mohon maaf ralat : sohib tercinta. Tiga tahun di SMA yang sama, tiga tahun di kampus perjuangan, sekos juga dan parahnya-sekamar pula, rasanya panggilan teman terlalu “kering makna” buat pria ikal penyabet IPK tertinggi nomor tujuh di kampus STAN ini. Tidak saja karena malam-malam suntuk belajar kami habiskan dengan berteriak-teriak tidak karuan sambil nonton Liga Champion di kos-kosan. Tapi karena satu hal, saya sempat haru biru saat tahun lalu, sahabat saya ini mengirimkan sms : “aku segera menjalani hari di tempat baru, di utara Maluku, Ternate. Doakan saudaramu ini tetap istiqomah."

 

Itu kejadian satu tahun yang lalu.

Waktu itu, saya pikir nanti setelah 10 tahun bakal baru bisa ketemu beliau lagi. Ealah, ternyata nggak perlu lama karena mulai Senin itu, gitaris the Alcatraz Band itu seterusnya akan ngantor di Lapangan Banteng. Beliau pindah lintas ditjen ke Jakarta lagi. Artinya, hampir tiap hari kami akan bertemu lagi di kereta. Dan tentu saja akan kembali ngobrolin seputar : Persib Bandung dan Liga Inggris.

 

Mutasi. Saya pikir kata ini jadi kata nomor dua paling menakutkan di kantor saya, setelah KPK. Saking menyeramkannya, dulu waktu zaman jahiliyyah, pra modernisasi, banyak pegawai yang mengeluarkan segenap cara agar tidak sampai di-mutasi. Anda bisa bayangkan sehari-hari menikmati kemacetan Casablanca, Jakarta, kemudian harus ditemani suara jangkrik di pelosok kabupaten Nabire, Papua sana. Yah, itulah definisi mutasi.

 

Tapi, inilah konsekuensi tugas. Dulu lima tahun lalu, pas masuk kampus ini, kabid pendidikan sudah minta tanda tangan saya (walah, serasa artis saja). Bukan buat meneken proyek bikin jembatan, bukan. Tapi tanda tangan surat pernyataan : "bersedia ditempatkan dimana saja di seluruh teritorial negara Republik Indonesia."

Kedengarannya cukup heroik dan nasionalis, bukan? Tapi nyatanya, saya memilih menyilangkan jari tengah dan telunjuk sambil bergumam hati: saya bersedia kok pak, ditempatkan dimana saja di Indonesia,...... asalkan di Jakarta :P


Jadi kemudahan akses informasi. Kuliah. Transportasi dan komunikasi. yang membuat saya betah di Jakarta meski macetnya kian menjengkelkan. Disamping itu, di wilayah kekuasaannya Muhtar Muhammad dan Fauzi Bowo ini : Bekasi dan Jakarta, saya masih ditinggali beberapa amanah untuk dijalankan dan akan terhambat jika sampai harus dimutasi.


Tapi sekali lagi, inilah konsekuensi tugas. Cepat atau lambat saya pasti dimutasi. Meskipun diiringi peningkatan remunerasi yang signifikan, mutasi akan menyisakan satu kata yang paling tidak enak didengar di bumi ini : mengucapkan salam perpisahan. Namun demikian, saya akan menganggapnya sebagai bentuk ibadah kepada sang Khalik.


Saya jadi ingat perkataan Kumail Musthafa Daud, personil grup nasyid Debu yang sudah berkeliling dunia mulai Maghribi hingga Vancouver. Dari Oregon hingga Alexandria, menahan haru ia berkata : "Betapa mengagumkan Indonesia. Karena disini, setiap datang panggilan sholat. Setiap itu pula gemuruh adzan berkumandang dari masjid-masjidnya. Begitu menggetarkan hati."

 

Inilah Indonesia.

Dan selama adzan-Mu berkumandang Rabb.

Disanalah Indonesia.

Tanah bangsa negeri saya.

 

 

Penjaringan, 9 Februari 2008

Sunday, April 13, 2008

Edukasi

Cinta

Sepertinya saya harus sepakat dengan Pak Haji Insinyur Kosasih : “Setiap detik, menit,dan jam kehidupan ini semata-mata adalah pembelajaran.” Belajar, kata master trainer-nya Astra Internasional ini, berarti menangkap hikmah yang terselip. Atau membaca runtutan masalah, lalu men-sintesa-nya menjadi punya nilai utilitas. Manfaat lebih. Buat si manusia pembelajar.


Jadi mesti ada yang bertambah : bisa bertambah hikmah, atau ilmu, bahan bacaan, amal, shodaqoh, hafalan, dsb. Meminjam istilah Nabi Saw : Orang yang beruntung, adalah yang hari ini lebih baik dari kemarin. Orang yang merugi adalah yang hari ini sama dengan kemarin. Dan orang yang celaka, adalah yang hari ini lebih buruk dari kemarin.

Nah, kali ini kita akan sedikit belajar, atau lebih tepatnya, mencari definisi kata belajar itu sendiri. Mata kuliah-nya, ehm, Pengantar Ilmu Politik I. Dengan Asisten Dosen : Kang Eep Saepuloh Fatah (red. masih berstatus suami-nya Mbak Sandrina lho…)


Oke. Pilgub telah usai. Jawa Barat punya nahkoda baru sekarang. Jawa Barat yang saya cintai. Jawa Barat dengan beribu cerita dan mitosnya. Dari mulai Sangkuriang hingga Lutung Kasarung. Dari Perang bubatnya Prabu Pakuan Pajajaran, hingga film “Mereka Kembali”-nya, Dicky Dzulkarnaen. Inilah negeri Pasundan. Negeri rahimnya suku bangsa yang turut melahirkan bayi bernama Indonesia, suku sunda.


Jadi ingat dongeng waktu kecil menjelang tidur. Dahulu kala, Prabu Majapahit mengutus Gajah Mada untuk mempersunting Putri Siliwangi. Untuk dikawinkan dengan Putra Mahkota Majapahit. Sayang, entah kenapa, karena satu kesalahpahaman, Gajah Mada membantai seluruh pengawal Sang Putri. Gadis cantik itu memilih ikut bertempur sampai terbunuh di medan laga. Sejak saat itulah, klan Pakuan Sunda menyimpan dendam terhunus pada Majapahit, Gadjah Mada dan cucu-cicitnya. Walhasil, cobalah anda hang-in out ke daerah Bandung dsk sekarang. Niscaya anda tidak akan menemui satu-pun nama Jalan sebagai berikut : Jalan Majapahit, Jalan Gajah Mada, atau Jalan Hayam Wuruk.


Jawa Barat yang saya cintai. Yang selalu terbayang kebun-kebun teh-nya. Dengan tambahan udara sejuk, sepoinya bikin ngantuk. Para pencakar langit kuasa Illahi Robbi, sebuah mardi grass berbaris rapi, pegunungan : Langdar, Manglayang, Tangkuban Parahu, Geulis dan Sunda.

 

Jawa Barat dengan Bandung sebagai ibukotanya. Dihiasi bangunan-bangunan tua heritage. Tema art-deco yang begitu memesona. Neo classic, Romantic, Indische Empire Stijl. Dan tentu saja, terminal Cicaheum dengan kebrengsekan sopir-sopir angkotnya. Yang suka sembarangan ngetem tanpa wajah berdosa. Bikin macet 12 kilometer panjangnya.


Jawa Barat dengan tim sepakbola kebanggaannya : Persib Bandung. Atau para jawara silatnya di Cimande dan Cikalong. Jawa Barat dengan sudut-sudut kota nan memesona. Tasik yang  nyantri. Garut yang sejuk. Cianjur yang tenteram. Purwakarta yang adem. Bogor yang hujan. yang hujan, dan Bekasi yang sendu. Jawa Barat dengan para mojangnya.


Secara terminologis-genetis, kata “geulis” dalam Webster’s berarti perpaduan Rianti Rhianon Cartwright dengan Zaskya Adya Mecca. Atau meminjam Istilah Ismail Fahmi, secara arsitektural, kata “geulis” berarti komposisi dari tetralogi kata lainnya : keindahan, bunga, kota Bandung, dan mojang Priangan.


Yup. Jawa Barat punya nahkoda baru sekarang. Perpaduan dua muda unik : seorang hafidz Qur’an dan seorang jagoan taekwondo. Cerita ini dimulai dari sebuah tempat bernama Rawalumbu. Al-kisah pada suatu hari, Eng-ing-eng…(Pembukaan music Cinema XXI ).


Scene I

“Bos, posisi dimana bos?”

“Salemba bro. Ada apa nih."

"Ada  yang bagi-bagi duit bos”

“Waduh, ada yang dapet gusuran tanah, bro?”

"Hehe,.. yah miriplah. Hajatan lima taunan bos"

“Oo,..bulet. (garuk-garuk kepala mode On)”

“Seratus lima puluh..."

“Juta?”

“Rebu.”

Gedubrak!!!

“es-ka-nya dianter bos. Yang nilainya seratus lima puluh rebu tadi. tapi ente kudu stand-by jam enam pagi bos”

“oke-oke, bro”

Pelajaran moral nomor satu (minjem Istilahnya bang Andrea Hirata) : Pilgub buat anak karang taruna yang ditunjuk jadi anggota KPPS, artinya dapat honor 150rebu perak dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% nett jadi Rp146.250,-. Ini nantinya bisa ditabung di Café Edam terdekat, mister Ice Cream jembatan Satu, atau dibeliin pulsa XL-Bebas buat es-em-es-an murah.

 

Scene II

“Bu. Ibu-Ibu yang cantik-cantik udah pada masak belum?’

“sudah… (serentak mode on)”

“Masak apa neeeh?”

Ibu Ahmad, “sayur asem”, Ibu Kusno, “pepes tongkol”, Ibu Imas, “rendang ayam”

“wah enak-enak dong. Oh iya nih, besok ada pemilihan gubernur. pada nyoblos, nggak?”

“Nyobloss…(koor mode on)”

“Eh, ibu-ibu pada milih siapa nih?”

“Yang paling ganteng…(serempak mode on)”

Pelajaran moral nomor dua : kalau anda ingin menjadi pimpinan Jawa Barat, anda haruslah cukup tampan. Kemudian anda juga harus pernah membintangi film Catatan Si Boy 2, atau minimal, pernah jadi presenter Kuis Tak Tik Boom. (Tambahan syarat : anda juga mesti rajin minum bodrex kalau lagi sakit kepala).

 

Scene III

“ Kak, kapan neh foto-fotonya? (nyengir sambil megang kartu KPPS mode on)”

Pelajaran moral nomor tiga : Pilgub berarti menginstal foto narsis digital anda sebanyak 86 lembar kedalam PC. Dengan total ukuran 128 Mb. Lengkap dengan berbagai pose : pose memasukkan kartu suara, pose bergaya di depan foto calon gubernur, pose sok sibuk lagi nulis surat suara, de el el. Untuk kemudian selanjutnya, dapat anda tampilkan di situs friendster, facebook, atau multiply.com, lalu anda bercerita kepada teman sekampus, eh gue kemaren jadi anggota KPPS lho. Mo liat gak fotonya?

 

Scene IV

Lho-lho-lho sudah tiga scene. Trus mana pelajaran politiknya?

Kang Eep, sang asdos, tersenyum.

Ia berdeham pelan. Menutup kuliahnya.

Sambil mengutip pidato Barrack Obama di Pennsylvania pekan lalu.

Ia berkata : “I’m asking you to believe. We believe. We can change.”

Bravo Jawa Barat!


Tps_1

Rawalumbu, 13 April 2008

 

 

Epicentrum


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa. Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui Apakah kau masih selembut dahulu? Memintaku minum susu dan tidur yang lelap? Sambil membetulkan letak leher kemejaku?

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih. Lembah Mandalawangi. Kau dan aku tegak berdiri. Melihat hutan-hutan  yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu? Ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra. Lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata : “Kudengar detak jantungmu”

Kita begitu berbeda dalam semua. Kecuali dalam cinta.

(dikutip dari Catatan Seorang Demonstran, 1966)

Thursday, April 10, 2008

Elevasi

Eskalator

Suaranya terpantul dari kisi-kisi kaca jendela rumah.

“Assalamualaikum” sapaku.

Belum sempat terdengar jawaban, kusapu sudut-sudut halaman rumahnya. Bermacam tanaman indah menghias petak kontrakan tipe 21 yang hampir rubuh itu. Lelaki muda itu menjawab salam dengan senyum khas. Ia membetulkan letak kacamata tebalnya. Seseorang yang sangat bersahaja. Pendiam tetapi terkadang meledak-ledak ketika bertutur agama yang dicintainya. Ibadah hariannya diatas rata-rata. Hafalan Qur’annya banyak dan punya beberapa majelis ta’lim. Di lingkungan rumahnya dia dipanggil ustadz. Terlalu muda untuk ukurannya, menurut saya.

 

Yang unik adalah motor besar. Scorpio 225cc dengan velg-racing. Kuda besi ini memang sangat empuk dan begitu nikmat dinaiki. Dengan kecepatan tinggi 100km/jam, si Scorpi mampu menekan sentrifugal dan mencegah slip di tikungan setajam bundaran HI sekalipun. Bahkan kalau harus adu cepat dengan si merah Pulsarian 180cc, “istri” saya tercinta, si Scorpi pasti menang dalam perlombaan track cepat ala the Doctor Rossi di Monza, Italia. Inilah persamaan matematika-nya : alumni jebolan syari’ah + motor gede = xyz. Nah sekarang, tinggal anda jumlahkan persamaan diatas menjadi sebuah frase atau sebuah kata.

 

“Biar mobilitas ane gampang akh” kata beliau.

Sekarang giliran saya yang terbengong-bengong melongo ketika “sang ustadz” berkisah begitu fasihnya tentang teknik-teknik stek, cangkok, dan budidaya tanaman hias. Juga cara mengawinkan indukan ikan Cupang hingga bisa bertelur 3000 butir per bulan. Bagaimana pula cara memanfaatkan lahan kosong halaman menjadi ladang bisnis yang menghasilkan pasif income Rp700rb s.d. satu juta rupiah per bulan, melalui tanaman hias.

 

Dan akhirnya, saya benar-benar bertasbih melihat karya indah-nya di dalam rumahnya yang sempit (nyaris tanpa perabotan). Sebuah miniatur fillicium. Elaeagnus multiflora. Bonsai. Tujuh pot adenium, sembilan aglaonema, di tambah anakan anthurium. Ah sang pride of Sumatera nan menawan. Botani? Biologi? cengang saya. Punya studi mayor pendidikan agama Islam, pemuda lulusan akuntansi SMEA ini, ternyata lebih baik dari apa yang pernah saya duga sebelumnya.   

 

“Menanam benih kembang, nyangkok, hobby begini…, terkadang bisa bikin kita ingat sama kuasa Allah, akh. Bayangkan saja, kita hanya perlu menyiramnya dan memupukinya 3 bulan sekali. Dan ia-pun tumbuh, hidup, menguat, dan berubah.” filosofis.

 

Saya tertegun.

Sungguh saya sangat mencintai lelaki ini. Saya menyayanginya, biarlah semua yang disinari matahari menjadi saksi. Tidak saja karena dia terlihat sesak nafas dan begitu menahan haru saat meng-ulang-ulang bacaan Al Muthaffifin, ketika mengimami sholat berjama’ah. Namun juga karena keluasan ilmunya. Dua buah rak besar (mungkin satu-satunya harta paling berharga di rumahnya) berisikan Fathul Bariy edisi lengkap, Tafsir At Thabari, Ibnu Katsir, Taudihul Ahkam, Fiqhus Sunnah, Nailul Author, Risalatul Qusyairiyah, dan Zhilal. Sisanya saya tidak ingat lagi saking banyaknya… Ah, sebuah elevasi.

 
Elevasi dalam transliterasi Inggris berarti elevate (verbal). Dalam bahasa Indonesia berarti menaikkan, mengangkat, meninggikan. Bisa juga artinya menjadikan sesuatu yang sebelumnya rendah, kecil, tidak begitu berharga menjadi lebih berharga dan lebih tinggi.

 

Ketika Nabi saw, di-naikkan, di-angkat, ditinggikan menjadi Rasul, berarti ada perubahan signifikan pada dirinya. Bahwa risalah ini harus tersampaikan pada segenap manusia di muka bumi. Dan tiadalah aku diutus kecuali untuk memerangi manusia hingga semuanya beriman kepada Allah dan apa yang dibawa rasulnya.

 

Maka Bilal adalah contoh paripurna elevasi. Dia hanyalah seorang budak legam sub-human. Dalam strata masyarakat Arab saat itu, Bilal si negro, tidak-lah dikategorikan sebagai manusia. Ia hanya seonggok barang dagangan yang kapan saja bisa diinjak, dipekerjakan, disiksa, bahkan dibunuh. (pilu perbudakan selalu mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Tom’s Uncle Cabin diputar di TVRI dahulu). Kemudian rahmat itu turun, Bilal kemudian dinaikkan, diangkat, dan ditinggikan. Ia menjadi mulia karena al-Islam. Bahkan ketika kiamat belum terjadi, Nabi Saw sudah mendengar suara terompah-nya di syurga.

 

Mari kita lihat pula Umar abi Hafsin. Sosok keras nan kasar sebelum hidayah-Nya. Dia hanyalah seorang “preman” peminum arak yang pernah mengikuti kebudayaan Arab jahiliyyah saat itu: mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Maka agama hanif itu mengubahnya secara radikal. Dan ia diangkat, dinaikkan, ditinggikan, dengan Islam. Kini lihatlah, Umar. Bahkan-pun ketika shirat belum ditegakkan, Ia sudah merebut tiket VIP ke firdausnya.

 

Ada Ivonne Ridley yang sebelumnya sangat membenci Islam, sekarang ia menyatakan tidak akan mati melainkan dalam Islam. Ada WS Rendra yang berubah dramatis dari seorang anti-Tuhan. Menjadi seorang perindu-Tuhan. Islam meng-elevasi mereka. Dan juga jiwa-jiwa kita.

 

Maka, ada orang-orang yang bersyukur dan mengganti elevasi itu dengan darah dan nyawanya. Para pahlawan badar, mujahid Moro, Afghan, Iraq, dan Palestine. Ada pula orang-orang yang bersyukur dan menebus dengan keringatnya. Sepanjang hari  mengasuh pesantren dan rumah yatim piatu, atau membina anak jalanan. Atau seperti ustadz itu, yang berubah cekung wajahnya karena banyak mengisi pengajian dan majelis ta'lim.


Sementara itu di tempat lain, di sebuah sudut kantor ber-AC. Di atas kursi empuk. Di  kota Jakarta. Ada seorang pemuda yang tidak pernah bisa menjadi mereka. Tidak mampu menghindar dari kilap silau dunia. Bahkan ia, belum bisa mendefinisikan arti kata “syukur” itu. Apalagi  “elevasi”. Dialah sang tukang tertawa, hamba dunia yang lalai. Yang tidak pernah melewatkan hari tanpa senda gurau dan rasa malas yang tak ketulungan. Seolah telinga berubah tuli saat mendengar puisi panglima perang Al Ayubi :”Duhai, Saladin, bagaimana mungkin anda bisa tertawa padahal Al Quds masih ada di tangan orang-orang kafir’”

 

Tiba-tiba saja saya teringat Imad Aqil. Tiba-tiba saya rindu Yahya Ayash. Saya ingin melihat wajah Abdullah bin Amr bin Haram yang tubuhnya tercabik di  medan Uhud. Yang ketika ditanya Sang Penguasa jagat Raya, apa yang engkau inginkan wahai Ibnu Jabir. Jawabnya, Rabb, kembalikanlah aku ke dunia agar aku bisa syahid sekali lagi.


Ah, elevasi ya Rabb.

Kali ini, izinkanlah saya sendirian kawan. Biarkan saya merenung sejenak. Ber-angan tangan dan kaki ini terputus karena lelahnya. Menjadi serpihan. Saya bermimpi tubuh ini hancur berkeping-keping terkena lontaran mortar. Dan kepala ini putus dari raganya. Saya rindu darah ini mengucur deras ke bumi. Saya bermimpi dan hanya bisa bermimpi. Tanpa pernah bisa mewujudkannya.

Imad Aqil, Yahya Ayyash,  Mush'ab, Hanzalah,…

 

Saya ingin hidup ini memiliki sedikit arti.

Seperti mereka.

 

 

Palestin

Penjaringan, 11 April 2008

Didedikasikan untuk semua yang pernah dinaikkan, diangkat dan ditinggikan oleh al –Islam.

Tuesday, April 08, 2008

Komposisi


Dakwah bagaikan susunan dari kepingan-kepingan puzzle. Logika sederhana dari cara berpikir yang sederhana. Kepingan pertama, jihad fisik. Dilakukan oleh orang-orang yang berjuang di jalannya dengan berperang. Keping kedua, orang-orang yang berjuang dengan hartanya. Orang-orang kaya yang dermawan, para pengusaha yang membuka lapangan kerja, pendiri yayasan dan panti asuhan. Keping ketiga, dan selanjutnya, orang-orang yang berjihad dengan ilmunya. Untuk keping yang ketiga ini, jumlahnya banyak sekali karena ilmu sendiri multidisipliner.

Hanya segitukah jumlah keping yang ada? Tidak. Tidak sama sekali. Jumlah keping itu masih banyak.

Diorama

(dikutip dari Diorama Sepasang Al Banna, Ari Nur, Mizan Media Utama Bandung, hal.28 tahun terbit 2008)

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31