mutasi
Bukan. Kita tidak sedang
membicarakan para superhero yang sekonyong-konyong ber-mutasi dari manusia biasa
menjadi jagoan komik ala the Marvel's : X-Men. Kita juga tidak sedang berada dalam
kelas biologi yang tengah me-mikroskopi Drosophila melanogaster, si lalat buah
yang konon bisa dimutasi sehingga “menyukai” sesama jenisnya sendiri.
Mutasi yang akan saya
angkat kali ini bukanlah “mutilasi” diberi sisipan –il-. Dan bukan pula
“permutasi”, dikasih awalan per-. Sebab kalau demikian, maka tulisan ini
melulu akan membahas seputar kasus pembunuhan berdarah dingin di daerah Bulak
Kapal Bekasi. Dimana kaki dan tangan terpotong dengan mengenaskan. (ini mah
rasanya sudah porsi Buser saja untuk memberitakan, lagian nggak enak juga
ngebayanginnya). Dan tulisan ini-pun tidak ditujukan untuk memecahkan soal UAN persamaan
matematika dasar sub bab “permutasi”.
Jadi gini, saya begitu gembira bulan ini.
Ceritanya pas mau
berangkat ke kantor, di kereta AC jurusan Bekasi-Kota, saya berjumpa seorang
teman lama: Ichan. Eh, mohon maaf ralat : sohib tercinta. Tiga tahun di SMA
yang sama, tiga tahun di kampus perjuangan, sekos juga dan parahnya-sekamar
pula, rasanya panggilan teman terlalu “kering makna” buat pria ikal penyabet
IPK tertinggi nomor tujuh di kampus STAN ini. Tidak saja karena malam-malam
suntuk belajar kami habiskan dengan berteriak-teriak tidak karuan sambil nonton
Liga Champion di kos-kosan. Tapi karena satu hal, saya sempat haru biru saat
tahun lalu, sahabat saya ini mengirimkan sms : “aku segera menjalani hari di
tempat baru, di utara Maluku, Ternate. Doakan saudaramu ini tetap istiqomah."
Itu kejadian satu tahun
yang lalu.
Waktu itu, saya pikir
nanti setelah 10 tahun bakal baru bisa ketemu beliau lagi. Ealah, ternyata
nggak perlu lama karena mulai Senin itu, gitaris the Alcatraz Band itu seterusnya
akan ngantor di Lapangan Banteng. Beliau pindah lintas ditjen ke Jakarta lagi. Artinya, hampir tiap hari kami akan bertemu lagi di kereta. Dan tentu saja akan kembali ngobrolin seputar : Persib Bandung dan Liga Inggris.
Mutasi. Saya pikir kata
ini jadi kata nomor dua paling menakutkan di kantor saya, setelah KPK. Saking
menyeramkannya, dulu waktu zaman jahiliyyah, pra modernisasi, banyak pegawai
yang mengeluarkan segenap cara agar tidak sampai di-mutasi. Anda bisa bayangkan
sehari-hari menikmati kemacetan Casablanca, Jakarta, kemudian harus ditemani suara jangkrik di pelosok kabupaten Nabire, Papua sana. Yah, itulah definisi mutasi.
Tapi, inilah konsekuensi tugas. Dulu lima tahun lalu, pas masuk kampus ini, kabid pendidikan sudah minta tanda tangan saya (walah, serasa artis saja). Bukan buat meneken proyek bikin jembatan, bukan. Tapi tanda tangan surat pernyataan : "bersedia ditempatkan dimana saja di seluruh teritorial negara Republik Indonesia."
Kedengarannya cukup heroik dan nasionalis, bukan? Tapi nyatanya, saya memilih menyilangkan jari tengah dan telunjuk sambil bergumam hati: saya bersedia kok pak, ditempatkan dimana saja di Indonesia,...... asalkan di Jakarta :P
Jadi kemudahan akses informasi. Kuliah. Transportasi dan komunikasi. yang membuat saya betah di Jakarta meski macetnya kian menjengkelkan. Disamping itu, di wilayah kekuasaannya Muhtar Muhammad dan Fauzi Bowo ini : Bekasi dan Jakarta, saya masih ditinggali beberapa amanah untuk dijalankan dan akan terhambat jika sampai harus dimutasi.
Tapi sekali lagi, inilah
konsekuensi tugas. Cepat atau lambat saya pasti dimutasi. Meskipun
diiringi peningkatan remunerasi yang signifikan, mutasi akan menyisakan satu
kata yang paling tidak enak didengar di bumi ini : mengucapkan salam
perpisahan. Namun demikian, saya akan menganggapnya sebagai bentuk ibadah kepada
sang Khalik.
Saya jadi ingat perkataan
Kumail Musthafa Daud, personil grup nasyid Debu yang sudah berkeliling dunia
mulai Maghribi hingga Vancouver. Dari Oregon hingga Alexandria, menahan haru ia berkata : "Betapa mengagumkan Indonesia. Karena disini, setiap datang panggilan sholat. Setiap itu pula gemuruh adzan berkumandang dari masjid-masjidnya. Begitu menggetarkan hati."
Inilah Indonesia.
Dan selama adzan-Mu
berkumandang Rabb.
Disanalah Indonesia.
Tanah bangsa negeri saya.
Penjaringan, 9 Februari
2008

Hiks...terharu kalo mengingat ada besar sekali kemungkinan suamiku tercinta akan kehilangan salah seorang ikhwan yang benar-benar dia cintai dan kagumi di RW 05...
Terharu kalo ingat Karisma Al Ikhlas harus kehilangan salah satu dari The Three Muketeers-nya, tiga orang penggerak geliat dakwah dan dinamisasi remaja di RW 05...
Terharu kalo ingat betapa besarnya spirit dari Akh Ryan ini bagi pendewasaan spiritualitas remaja di RW 05 pada umumnya dan pendewasaan spiritualitas seorang lelaki yang kemudian menjadi belahan hatiku...
Sebuah mutiara akan terus mengkilat walaupun tenggelam di kolam lumpur terdalam
Sebuah lentera akan selalu menerangi di pelosok hutan terpencil di tengah-tengah Amazon
Jadi, ke mana pun antum akan dimutasi, kami berdua tak akan berhenti mengenang dan berdoa untuk saudara kami yang luar biasa ini...
Allohu Akbar!!!
(Wah, jujur, saya nangis nih... di warnet...)
Posted by: kusumastuti | April 24, 2008 08:49 PM
daerah terpencil.., ditengah hutan.., sepi.., sunyi.., jauh dari kota.., jauh dari ortu....hiks..
perpisahan....., berpisah..., entah sampai kapan...entah...
berat emang, saat kata-kata itu mengisi semua syaraf2 otak dan mengalir dalam aliran darah, rasanya jantung tak kuat untuk memompanya, begitu berat...menyesakan..hiks...
ane pun merasa berat kalo nanti antum di mutasi, orang se-kaliber (bukan senjata lho..) antum harus pergi dari tanah rawa lumbu.. hiks.. sepi deh.., tapi mau bagaimana lagi, ada tugas yang harus tetap di jalankan. ada banyak episode yang harus kita lalui, episode saat kita lahir, jadi anak2, remaja, masuk kuliah, mulai kerja, rindu menikah, berkeluarga, punya anak, jadi bapak, jadi kakek, trus jadi mayat deh..
episode tertawa, tersenyum, cemberut, menangis, bertemu teman, bertemu lawan, bertemu "cinta"...:)
kalo kemaren2 kita syuting di episode mesjid al ikhlas, yang lucu, ceria, banyak senyum, banyak tertawa.. mungkin nanti kita syuting di episode meng-ikhlas-kan diri..
atau episode perpisahan.., yang sedih, berat, nggak percaya, sulit diterima, dan mengapa harus terjadi?
episode itu akan kita lalui, dan hanya Allah-lah yang Tahu.
jazakumullah akh.. terima kasih atas segalanya..,
sidik2 jarimu telah banyak menempel di tembok2 mesjid al ikhlas, tidak akan pernah hilang,
jejak kaki yang menempel di lantai (kadang bau..:)) tak akan terhapus oleh kain pelnya mas somat, kecuali kalo lantainya diganti.
kangen..rindu..,senantisa akan hadir dalam hati ini...
Posted by: andy | April 26, 2008 03:43 AM
Terima kasih atas doa antum berdua. Kalo kata Leo di Caprio : "selama mungkin, kita harus tetap bertahan di atas kapal ini." :P
Posted by: Ryan | April 28, 2008 12:24 AM