Emosi
Bayangkan anda sekarang sedang ada di puncak Gunung Gede.
Kabut tipis menyelimuti anda. Arakan putih awan cumulus nimbus menyapu kisi-kisi Carier anda. Sementara itu, gigil sang pencakar langit 2958 meter begitu menusuk sumsum tulang belakang anda.
Maka di hadapan anda sekarang terdapat kawah jurang selebar 30 meter
persegi. Saat itu, lakukanlah instruksi berikut ini : Berteriaklah
sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya. Sekeras-kerasnya. Tenang aja. Gak bakal
ada Bu RT yang menimpuk anda dengan centong nasinya. Tidak bakal ada Wak Asep yang akan meneriaki anda :”Hei,
Gelo. Ulah gandeng siah maneh!” dan pastinya, tidak mungkin ada kaca-kaca
jendela yang pecah karena teriakan supersonic-concorde anda.
Berteriaklah
sampai putus urat leher anda, seperti ini misalnya:
“ALLAHU
AKBAR!”
“BANGKITLAH
INDONESIAKU!”
“FREEDOM PALESTINE!'
“GUE
GAK MAU BAYAR KOS-KOSAN LAGI!"
“SAYA
MENCINTAIMU”
“WO AI
NI”
“TURUNKAN
JFK”
“HIDUP
BURUH SEDUNIA”
“JANGAN
GUSUR KAMI”
…. de
el el de el el
Atau
apa saja lah yang anda suka.
Berteriaklah,
karena terus terang, momentum ini sangat mengesankan sekali buat saya. Saya menyebutnya
: meluapkan emosi.
Kemarin
siang, acara Karindra di masjid saya spesial membahas tema Emotional Quotient.
Pembicaranya psikolog muda asisten pribadinya Mbak Romi AFI : Eri, MPSi, temen
sebangku jaman SMA dulu. Jujur kalo ngebahas aspek psikologis begini, tidak
hanya IQ saja, tetapi EQ saya termasuk rendah sekali kalo bisa diukur.
Saya
suka sulit mengontrol emosi. Contohnya : baca novel sedih dikit aja langsung
berkaca-kaca. Pura-pura kelilipan debu gitu :P. Sementara saat nonton Empat
Mata, saya bisa tertawa ngakak seperti tokoh Darth Vader di fiksi Star Wars.
Begitu membahana. Belakangan saya sedang mencoba jaim alias jaga imej dengan
tidak terlalu ekspresif dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi
hari itu, saya benar-benar tidak bisa mengontrol emosi. Perasaan saya
benar-benar di blender habis : Haru, sedih, takut, khawatir, gembira, campur
aduk jadi satu.
Sabtu-Ahad
kemarin, the Key-Team mengikuti uji nyali.
Kami
mendapat kesempatan menginap di penjara anak pria di Tangerang dalam rangka Pesantren
Kilat LP. Formasi team kali ini terdiri dari 8 orang : Kak Hikmah (mahasiswa jebolan
tafsir hadits IAIN Makassar), Kang Andy ( pria pemikir yang punya senyum
menawan), Wendy (ko-fas), Bang Okiy (supir merangkap tukang beli nasi bungkus),
Aa Dicky dan Mas Sakti (tukang poto-poto) dan saya sendiri. Oh ya hampir lupa,
Abang Donda, mantan Para Pencari Tuhan :P
Kalau
anda pernah nonton film Con Air yang diproduseri Jerry Bruckheimer, dibintangi
saudara kembar saya : Nicholas Cage. Kisah tentang seorang polisi yang naik
pesawat, berpenumpang para penjahat kelas kakap. Nah, seperti itulah kondisi
kami saat itu.
Emosi
saya, atau lebih tepatnya rasa was-was, mulai terbangun setelah mendengar kisah
dari seorang sipir penjara. Ceritanya, di dalam LP seluas 3500 meter persegi
itu, terdapat seorang anak yang dihukum 15 tahun penjara karena tega membantai
empat anggota keluarganya sendiri. Seorang sipir menghina sang pemuda berdarah
dingin itu. Merasa tersinggung, beberapa hari kemudian sang anak memilih ikut menghabisi
nyawa si sipir penjara. Teknik pembantaiannya juga terhitung lumayan fantastis.
Ia memotong leher si sipir saat ia sedang tidur dengan pisau dapur. Mirip
filmnya Tony Leung, Prison on Fire.
Pukul
09.30 kami tiba di lokasi.
LP terlihat berdiri kukuh setinggi 8 meter vertikal.
Dan lebar 2900 meter horisontal. Laksana benteng Rotterdam.
Di
dalam LP jeruji besi tajam-tajam terhasung setinggi 8 meter. Terdapat lapangan
sepakbola dan sebuah masjid di tengahnya. Rumput-rumput hijau tertata rapi.
Terdapat beberapa narapidana di luar sel kamar mereka. Beberapa pasang mata
mulai menatap kami menyeringai tajam laksana macan mengintai mangsanya. Apalagi
saat melihat Wendy. Sepertinya lelaki putih ganteng besar ini cukup enak untuk
dimakan. Slurp. Nyam-nyam.
Setelah
pembukaan Sanlat oleh Kalapas, saya baru sadar sedang duduk ditengah-tengah 35
anak remaja. Usia kira-kira 8 s.d. 20 tahun. Anak-anak yang terlihat baik.
Berkoko, sarung dan kopiah. Mereka begitu bersemangat meneriakkan yel-yel :
LUAR BIASA. Siapa sangka di balik jiwa dan jasad fisik mereka, terdapat masa
lalu yang begitu kelam dan memilukan hati. Sesuatu yang sulit diterima akal
sehat dilakukan oleh anak-anak selugu dan semuda mereka.
Maka reaksi
fusi dimulai cepat. Episode emosi-pun diawali saat kami membaur. Menyublim. Dan menyatu dengan mereka. Menyelami samudera
hidup nan gelap. Menghirup aroma keindahan masa kecil mereka yang tiba-tiba
tercerabut oleh rasa ketidakadilan hukum. Merasakan tiap pukulan dan tendangan bertubi-tubi
sipir penjara jika anak-anak ini melakukan kesalahan. Saya begitu marah saat
itu, karena Syamsul Nursalim, Sukanto Tanoto, Marie Pauline Lumowa dan Anthony
Salim lebih layak mengisi sel-sel karatan yang menyedihkan itu. Bukan mereka.
Bukan anak-anak itu.
“Alhamdulillah
kak. Kami bisa makan ayam di sanlat kali ini. Biasanya ketemu daging paling
setaun sekali.” Kata Kastiyan (red. nama disamarkan) seorang remaja pengurus
masjid LP yang ditahan selama 8 tahun karena tuduhan membunuh itu. Sementara
itu, seorang bocah imut, berwajah lucu bernama Ilham tersenyum dan minta
diperlihatkan game komputer di laptop saya.
Ah, usianya baru 8 tahun. Dulu saat dibawa ke tempat ini ia masih berumur lima tahun dan masih menghisap
dot. Anak ini sangat pintar karena bisa mengoperasikan komputer dengan baik.
Dan sungguh terkejut bukan kepalang ketika ia berkata : “Kak, kasih saya waktu
10 menit. Saya bisa bikin motor di depan hilang”. Saya tercengang mengetahui
kalau bocah imut ini adalah anggota sindikat eksekutor curanmor spesialis
pembongkar kunci-T. Saya geleng-geleng kepala. Profesional.
Okiy
dan Donda tidur di ruangan sempit berukuran 2x1 milik penjaga masjid satunya
lagi. Di dinding kamar itu saya sempat melihat puluhan piagam penghargaan :
Juara Satu Debat Calon Gubernur DKI versi anak jalanan; Juara Satu Diskusi
Bahasa Inggris PLAN Jepang-Australia, Pelajar berprestasi anak jalanan, dan
sederet piala berharga lainnya.
Nama
anak itu sebut saja Febian, 19 tahun. Tampan. Berkacamata minus. Menyukai
fotografi. Cerdas bahkan bisa dibilang jenius. Toeflnya diatas 500. Orangnya
intelek dan shalih sekali. Siang itu bada Dzuhur, ia memberi kultum dengan
suara berapi-api. Mengutip Qs Ar Radu tentang manusia yang tidak akan berubah
nasibnya jika tidak mau mengubah dirinya sendiri.
Dua
akhwat teman saya Re-Ri sempat berdecak kagum saat sosok muda itu sempat
berkisah bahwa banyak ulama yang menjadikan penjara sebagai uzlah dan penempa sejati
hidup mereka. Hamka menulis Al Azhar. Sayyid Qutb menulis Zhilal. Begitu pula
Ahmad bin Hanbal, yang menulis ribuan tafsir di dalam penjara.
Namanya
adalah Febian. Sore itu, sahabatnya dihabisi sekelompok orang tak dikenal di
daerah Cileduk. Ia melakukan aksi balas dendam bersama tiga temannya. Ialah
sang otak konseptor pembunuhan berencana terhadap seseorang yang tega menyakiti
sahabatnya sendiri. Baginya persahabatan
adalah segala-galanya. Ia tuntas membalaskan dendamnya. Dalam aksi itu, satu
temannya tewas. Satu kawannya yang juga eksekutor ditangkap, tapi karena memiliki
katebelece dengan pejabat pemerintah, ia dibebaskan. Sementara Febian harus
menjalani pahitnya jeruji penjara bertahun-tahun. Mulai saat itulah, ia merasa
keadilan tidak ada lagi di dunia ini jika sudah menyangkut pejabat tertentu.
Saya teriris pilu.
Sungguh
saya gerimis. Ketika saya meminta mereka meneriakkan yel-yel takbir. Anak-anak
ini berteriak sekencang-kencangnya seperti sudah berada di Ghaza saja. Sungguh
saya berkaca-kaca ketika, keinginan salah seorang anak itu adalah :”Keluar dari
sini saya ingin menikah saja kak.” Ia ditahan karena memperkosa seorang anak-anak.
Silahkan anda nilai sendiri apakah Pemred majalah Playboy brengsek itu layak
ikut diseret ke tempat seperti ini atau tidak.
“saya
ingin dapat ijazah SD kak” “saya ingin bertemu ibu saya kak. Tapi… saya
masih disini 2 tahun lagi”, ujar Jay,
yang ternyata adalah tetangga saya di Rawalumbu. Ya Rabb. Sungguh saya gerimis.
Emosi saya benar-benar dikuras habis hari itu. “saya ingin jadi polisi” kata
Riki, anak kecil sembilan tahun yang dijebak mencuri oleh tetangganya, dan ia
harus dikriminalkan di tempat itu selama tiga tahun. Allahu Akbar, tunjukkanlah kasih sayangmu pada mereka Rabb.
“kami
kotor kak. Kami berdosa, apakah Allah akan mengampuni kami?”
Saya
menahan gugu. Sama dik, saya juga berdosa. Tidak kalian saja.
“kami
ingin hidup ini menjadi berarti kak. Kami ingin menjadi orang berguna.” Kata
Rifa’i sambil memegang mushaf kecil.” Beberapa detik lagi emosi ini pasti
tumpah ruah.
“Kirim
kami ke Palestina atau Irak, Kak. Kami mau berperang. Biarkan kami mati disana.
Membela agama Islam. Kami sudah siap” senyum pemuda itu. Tulus. Sosoknya
semakin lama semakin kabur, kornea saya sudah terlanjur basah.
Tangerang, 4 Mei 2008



uummm...betapa beruntungnya saya ada di tempat saya sekarang...bergembira dengan "kebebasan" yang bisa kureguk sendiri,,,tapi di belakang saya ada orang-orang yang terkurung...semoga 4W1 memaafkan dosa-dosa kita...
Posted by: aku | May 10, 2008 07:15 AM