« April 2008 | Main | June 2008 »

Monday, May 26, 2008

Lari

 
Oh angan… mungkinkah semalam saja

aku dapat tidur

di suatu lembah, dan rumput idkhir

serta teman di dekatku?

 

Mungkinkah sehari saja

aku mendatangi mata air mijannah

Mungkinkah Syamah dan Thafil

menampakkan diri padaku?

(Syair Bilal bin Rabbah kala rindu dengan tanah airnya tercinta : Mekkah)

 

Indonesia, 25 Mei 2008.

Kaos bola berlogo timnas seharga Rp25.000, beli di Senayan

dengan badge Garuda nan gagah di saku kirinya.

Sebuah celana training cokelat muda.

Sepasang sepatu kets


Pukul 06.30 sang surya mulai memperlihatkan keperkasaannya. Seolah menunjukkan bahwa tanpa dirinya fotosintesis tidak akan terjadi. Tanpa dirinya bunga cempaka tidak akan pernah tumbuh. Tanpa kehadirannya para sales marketing sunblock cream akan kehilangan pekerjaannya.

 

Di Rawalumbu, setiap ahad pagi begini banyak sekali orang yang berlari.

Masyarakat modern semakin sadar bahwa olahraga bisa mengurangi klaim asuransi kesehatan mereka. Dan hanya berlari yang modalnya paling murah meriah. Anda tidak perlu tongkat golf, atau raket tenis mahal. Anda juga tidak butuh peralatan fitness nan ribet itu. Cukup sepatu kets anda bisa berlari. Nyeker pun oke.

 

Dulu ritual lari pagi seperti ini tidak pernah absen dilakukan oleh tiga orang : Bang Okiy, Mas Andy, dan saya. Namun pekerjaannya sebagai drafter memaksa Bang Okiy begadang semalaman dan mulai meninggalkan momen kebersamaan ini. Mungkin beliau sedang berusaha “mempertahankan” berat badannya yang sudah ideal itu. Adapun, lelaki satunya lagi mas Andy, hmm, dia sudah punya teman berlari khusus sekarang.

 

Baiklah, saya sendiri sekarang.

Tidak apa-apa. Lumayan ngebakar-bakar kalori sedikit. Mencoba melepaskan diri dari jabatan ketua PONGR (Perhimpunan Orang Nyaris Gendut Rawalumbu).

 

Pagi itu saya ingin berlari. Sendirian.

Saya ingin berlari dari kehidupan.

Setelah sedikit peregangan. Klak. Klik. Kluk. Putar-putar leher. Goyang-goyang bahu dan tumit. Menghela nafas panjang, sayapun mulai berlari. Saya pernah noton film asing terbaik festival Cannes 1999, Children of Heaven, seorang anak kecil tampak sedang berlari. Ia rupanya berhutang sepatu pada adiknya. Ia harus memenangkan kontes lari ini. Harapannya, ia harus finis di posisi ketiga. Tapi rasa sayangnya pada sang adik tercinta memaksa ia mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya dalam berlari : agar ia finish di urutan ketiga. Si bocah justru memenangkan lomba itu di urutan pertama.

 

Dan sayapun terus berlari.

Dalam 500 meter pertama, tampak sepasang orang tua. Kira-kira 60-an usia mereka. Mereka juga sedang berlari. Mereka terlihat kompak. Entah sudah berapa ratus kali mereka menikmati momen kebersamaan ini : lari. Entah sudah berapa kali mereka saling mengusap peluh dalam kompetisi lari terpanjang dalam hidup mereka. Dalam suka maupun duka.

 

Dan sayapun terus berlari. Tetes keringat mulai mengaliri dahi saya.

Di sebelah kiri jalan, tampak empat orang gadis muda berusia 15 tahunan. Pakaian olahraga yang mereka kenakan menyadarkan bahwa saya tidak sedang berada di Mesir atau di Yordania sekarang. Saya menyalip mereka di tikungan.

 

Beberapa bulir air mulai membasahi pelipis dan ketiak saya. Tapi saya terus berlari.

Saya ingat bahwa sebelum mencapai keparipurnaan dalam prestasi sepakbolanya : Ryan Giggs, winger terbaik Eropa sepanjang masa, menunaikan tugas mulianya. Berlari. Menyayat sisi kiri pertahanan lawan. Tanpa lelah selama 16 tahun. Saya ingat bahwa kebodohan dapat dikalahkan dengan berlari. Seperti Forrest Gump yang mencetak prestasi dengan berlari sekencang-kencangnya.

 

Asam laktat menumpuk. Rasa lelah menyengat. Beban berat mulai terasa di kaki.

Jantung saya mulai berdebar kencang. Namun saya tetap berlari.

Saya ingat bahwa 1400 tahun yang lalu, dua manusia mulia itu-pun berlari. Aisyah berkata “Rasulullah sering mengajakku berlomba lari. Dulu ketika muda, aku selalu mengalahkannya. Namun ketika badanku mulai gemuk, Ia bisa mengalahkanku.”

 

Pepohonan mulai bergerak cepat. Saya sudah melintasi kantor kecamatan.

Telunjuk kaki kiri saya sudah mulai terasa panas.

Saat itu, dalam berlari saya melihat dua orang pemulung.

Mungkin ayah dan anak. Mengais-ais sampah. Mencari potongan rizki yang diberikan sang pencipta langit. Saya tidak tahu apakah segala instrumen omong kosong makroekonomi dapat menyelamatkan mereka. Supaya tidak harus lari dari kenyataan, bahwa satu-satunya cara hidup di negeri ini, adalah lari dari kehidupan itu sendiri? Menyerahkan kehormatan dan harga diri mereka pada syetan yang terkutuk demi selembar-dua lembar kupon BLT senilai Rp100.000? Atau memilih menjadi perampok dan penjahat demi sepiring nasi?

 

Tidak, mereka jauh lebih mulia dari para pemulung berdasi itu.

Segelas-dua gelas aqua bekas terkonversi menjadi enam ribu perak dari pagi hingga sore, tidak serta merta menjadikan mereka hina. Justru Raqib as akan mencatat peluh mereka, yang telah berjalan ribuan kilometer demi sesuap makanan halal, menjadi amal kebaikan. Saya mulai gerimis.

 

Tapi saya terus berlari. Meski kaki terasa sangat berat. Meski mata mulai terasa perih.

Meski rasa lelah mulai menghujam sendi-sendi metatarsal dan ligamen, saya harus terus berlari.


Saya ingat dulu, 26 tahun yang lalu, ada seorang wanita yang jauh lebih lelah dari yang saya rasakan saat ini. Ia pun berlomba dalam keringat dan rasa pedih yang menyayat. Berpacu waktu. Bertaruh nyawa. Agar saya bisa berlari pagi ini.


Maka sayapun terus berlari.

Melarikan diri dari kehidupan.

Sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya.

Saya tidak tahu apakah kelak saya akan berlari secepat ini di shirat-Nya kelak. Nabi berkata bahwa di atas titian di hari kiamat nanti, ada orang yang akan melintasi shirat laksana kilat, ada yang melintasinya sambil berlari dan ada yang berjalan dengan mempergunakan wajahnya. Sahabat terkejut, “bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan dengan wajahnya?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menjadikan manusia bisa berjalan dengan kakinya. Pasti bisa juga menjadikan manusia berjalan dengan wajahnya.” Tiba tiba mata saya mulai basah.

 

Allah berfirman dalam Al Qur’an, katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja."

 

Sungguh saya lelah karena berlari.

Tetapi, saya harus berlari. Karena diam itu mati. Karena jumud itu tergilas. Lihatlah kejayaan Al Hambra yang hancur lebur dalam kehinaan karena umat Islam berhenti berlari. Berhenti berputar. Berhenti menggunakan fungsi akalnya. Bahwa statis itu degradasi. Retardasi. Tercecer. Bahwa kita sudah benar-benar kalah dalam perlombaan ini. Habis. Terkoyak.

 

Lihatlah kota seribu satu malam Baghdad yang saat ini luluh lantak karena kepengecutan itu. Lari dari kenyataan bahwa Islam, sebenarnya dan sepantasnya layak memenangkan perlombaan ini. Bahwa kita (pernah) punya kemuliaan. Tetapi para pemimpin Arab lebih mengutamakan setetes dua tetes minyak, selembar cek anuit coeptis bernilai jutaan dollar. Ditandatangani iblis bermata satu. Serta menukar izzah ini dengan harga yang murah. Saya makin tersesak.

 

Sungguh saya harus terus berlari. Meski saya sudah tidak kuat lagi berlari.

Dulu, syaikh Ahmad pernah ditanya, “Ya syaikh, kapankah dakwah ini bisa beristirahat?” ia menjawab, “nanti jika kaki kita sudah menginjak syurga”

 

Saya tidak tahu sampai kapan saya kuat berlari.

Sungguh saya tidak tahu apakah saya akan mencapai garis finish, atau justru mati di tengah lintasan ini. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan menepi. Memperlambat lari saya. Berhenti, seraya mendengarkan tawaran-tawaran itu, “ayo, beristirahatlah. Jangan terburu-buru. Masa mudamu masih panjang. Hidupmu masih lama. Bersenang-senanglah bersama kami. Ayo, kemari,” Sungguh saya tidak kuat lagi berlari karena rasa lelah ini. Akankah ini jadi lari saya yang terakhir?

 

Namun tiba-tiba dalam berlari saya bermimpi, ada sebuah tangan yang menopang rapuhnya kaki saya. Mengusap peluh saya. Dalam mimpi saya melihat penuntun lintasan lari saya, yang mulai kabur tertutup air mata kepalsuan dan kemunafikan saya. Sebuah cahaya berwarna merah. Saya akan mengikuti cahaya itu.

 

Pukul 08.15 saya berhenti berlari.

Adik saya sudah menyiapkan segelas teh manis. Saya menghirupnya sambil menyadari bahwa ternyata sampai detik ini, saya belum berhasil menghitung nikmatNya. Setelah beristirahat, saya mandi. Kemudian mulai membaca.

 



Rawalumbu, Ahad 25 Mei 2008

Sehabis lari pagi.

Images

                            

Thursday, May 22, 2008

Visualisasi

Sebenarnya meski kecil buku ini cukup bagus.

Saya mendapatkannya di Toko Buku Gunung Agung Bekasi seharga Rp13rebu perak. Mengisahkan 30 sahabat Nabi yang gugur dimedan perang. Waktu itu saya sedang asyik-asyiknya membaca adegan pertempuran Khubaib bin Adiy Al Anshoriy dengan kuda-kuda berbaju besinya, serta tertegun menyimak salah satu episode perang paling fenomenal dalam sejarah Islam : Perang Muktah.

 

Alkisah tiga sahabat utama : Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah hanya berpanjikan 25.000 orang mesti berhadapan dengan 200.000 tentara gabungan Syam dan Romawi pimpinan Heraklius. Gugurnya tiga pahlawan ini saya pikir lebih hebat daripada aksi kepahlawanan jagoan Skotlandia, William Wallace yang dibintangi Mel Gibson dalam Film Brave Heart.


Simak saja adegan heroik saat Ja'far yang tatkala di medan perang sudah 5 hari tidak makan. Siang itu, ia mendapatkan sekerat kecil daging panggang yang kelihatannya cukup nikmat untuk mengganjal perutnya yang memang sudah demikian payah itu. Baru saja ia memasukkan sekerat daging itu ke dalam mulutnya, datang kabar bahwa Zaid sudah gugur di  medan laga.


Serta merta Ja’far memuntahkan daging yang sudah ada di mulutnya itu seraya memaki dirinya sendiri : “Wahai, manusia celakalah engkau! Sahabatmu sudah meregang ruhnya membela kemuliaan agama Islam, sedangkan engkau malah enak-enak menikmati dunia”. Ia berlari mencabut pedangnya dan bertempur hingga gugur d medan Muktah.


Asli Kezuhudan dan kebersihan hati para jenderal mulia itu begitu menaikkan tensi darah saya. Wuih, jadi semangat buanget buat bikin aksi-aksi heroik. Pokoknya buku ini keren deh, sekonyong-konyong saya merinding, merasa Izzah keIslaman saya naik terus menerus kayak roller coaster. Sebelum tiba-tiba turun drastis menghantam bumi. Remuk. Redam. Nadir.


Dodol. Susah benar hidup di zaman seperti sekarang, ujar saya sambil istighfar. Gimana nggak, pagi itu saya lagi asyik-asyik baca buku perang gini di atas kereta Bekasi-Kota, Nah berhubung tidak kebagian korsi duduklah saya di atas selembar koran di pinggir pintu kereta. Sedang menyelami kezuhudan para pahlawan Islam lewat buku ini, tidak sadar di sebelah saya ada seorang wanita karier masih muda yang sialnya koq mengenakan rok mini seksi gitu sih. Maka pahala nambah-nambah tsaqofah Islamiyyah hapus sudah karena pemandangan betis-betis nan putih itu.

 

Astaghfirullah. Gusti. Maksud hati menaikkan nilai Dasa Dharma Pramuka nomor 1 : iman dan takwa kepada Tuhan YME. Nah yang ada malah pemandangan yang merusak ingatan dan hafalan. Saya pikir tingginya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual pada wanita tidak serta –merta dipicu mental serigala kaum lelaki, tapi kaum hawa-nya sendiri kadang-kadang suka men-stimulasi gitu sih. Yah, pria normal manapun pasti terpacu adrenalinnya disuguhi view seperti ini. Cappe deh.

 

Menjaga pandangan mata di zaman kini bukanlah perkara yang mudah.

Apalagi di kota-kota besar, setiap sudutnya bertaburan pemandangan tak sedap yang membuat hati-hati ini menjadi miris. Memang tak mudah menghindar, tapi bukan berarti kita menjadi sah melakukan perbuatan yang oleh Rasulullah digolongkan sebagai orang yang terkena panah-panah syetan ini. Coba renungkan potongan nasihat Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya ,“Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang Allah maka pemiliknya berada ditepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh kedalam jurang”.


Hal ini juga digambarkan dengan gamblang oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauzy: “mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan juga pengikut. Mata memiliki kenikmatan pandangan sementara hati memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Namun ketika terpuruk dalam kesulitan keduanya akan saling mencela dan mencerai”.

 

Menarik jika kita menyimak dialog imajiner antara mata dan hati yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin. Dalam kitab tersebut antara hati dan mata saling menyalahkan. Hati berkata pada mata : …“Kaulah yang menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tidak sehat. Kau salahi firman Allah, Hendaknya mereka menahan pandangannya... Dan kau salahi sabda Rasulullah, Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan balasan iman dan akan mendapat kelezatan iman dalam hatinya”.(HR Ahmad)


Tak mau kalah, mata menjawab:

“Kau dzalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhori-Muslim)


Imam Ahmad dalam bab zuhud menceritakan, Abu Bakar r.a. bersama sahabat lainnya sedang memasuki perkebunan kurma di Madinah. Saat itu bunga kurma sedang bermekaran dan sebagian mulai berbuah. Sebuah pemandangan yang elok dan sangat menakjubkan. Sementara sahabat yang lain beristirahat, Abu Bakar duduk sambil menangis. Mereka bertanya,”Apa yang terjadi wahai amirul mukminin?”. Dengan mata yang masih sembab Abu Bakar menjawab,”Lihatlah burung itu, alangkah bahagianya. Ia hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain dan makan dengan bebasnya. Ia mendatangi mata air dan minum dengan bebas pula, kemudian mati tanpa ada hisab dan siksa. Andaikan saja aku menjadi seekor burung?”.


Simak pula pada suatu hari, “'Umar, dalam sholat fajar membaca ayat: Faidzaa nuqira fin naaquur, "Apabila ditiup sangkakala," (QS. Al-Muddatstsir: 8) Seketika itu juga beliau menangis, tubuhnya tersungkur dan sakit beberapa hari hingga sahabat-sahabat lain datang menjenguknya. Ibnu Mas'ud juga tak jauh berbeda, ia selalu mengkaitkan apa yang ia lihat dengan kehidupan akhirat, pernah suatu ketika ia melihat alat peniup pandai besi sampai-sampai ia terjatuh. Pernah juga ketika ia menyaksikan para pandai besi, begitu menyaksikan besi yang terpanggang ia langsung menangis.


Ada banyak kisah yang tertoreh, seakan menjadi saksi atas perilaku mata orang-orang shalih. Kebeningan air mata mereka adalah mimpi saya pada hari ini.

Namun, perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain. Termasuk saya sendiri. Ibnu Majah dari Tsauban meriwayatkan, aku mendengar Rasulullah bersabda,”Sungguh aku melihat sekelompok orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala yang menyerupai gunung Tihamah Bidh, namun Allah menjadikan semuanya seperti debu yang beterbangan.”


Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, bukankah mereka orang-orang Islam?” Beliau menjawab,”Benar, mereka adalah orang-orang Islam. Mereka shalat sebagaimana kalian shalat, puasa sebagaimana kalian puasa, mereka juga menghidupkan malam-malam dengan dzikir dan shalat. Namun ketika mereka dalam kesunyian, mereka menerjang larangan-larangan Allah”. 

 

Ampuni kedua mata saya ini Rabb.

Rawalumbu, 22 Mei 2008

Kacamata

Wednesday, May 21, 2008

Sublimasi

"Ada kecenderungan bahwa orang-orang baik, kurang banyak yang turun ke sektor publik. Sudah semestinya orang-orang shalih, yang bening hatinya, yang punya struktur kepribadian solid merambah ke dunia bisnis, ke bank-bank, ke proyek- proyek, ke legislatif, ke eksekutif, ke semua tempat. Jangan ada satu pun tempat yang tidak tersentuh oleh dakwah. Sudah semestinya seorang muslim memiliki visi jauh ke depan, punya wawasan yang lebih luas daripada apa yang ada di sekelilingnya. Jangan malah ketakutan dan bersembunyi di balik tembok-tembok masjid. Masjid itu basis, tempat bermula. Bukan tempat melarikan diri dari urusan dunia. Dan harus segera! Harus cepat, karena kita diburu waktu!"

(kutipan dari Ari Nur, 2004, Dilatasi Memori, Bandung : Mizan hal. 85)

Dilatasi


Monday, May 12, 2008

Literasi

 

Judul         : Konstelasi Sastra
Penulis      : Ibnu Wahyudi
Halaman    : 413 hlm
Subjek       : Literatur
Penerbit     : Perpustakaan Pusat UI
Harga         : Rp.0,00

Book swap kalo kata orang Inggris mah.

Bulungan, 11 Mei 2008
After the event : 1st  Indonesian Goodreads Gathering

Diskusi

 

ah, selamat datang kumparan waktu yang baru.

bergulung-gulung dalam hari untuk mengukir cerita-cerita baru lagi. mari, duduk disini, di bangkutaman ini. sengaja saya pindahkan ke sisi dermaga panjang yang menjorok ke pantai, pun namanya tak menjadi bangkutaman lagi? ah saya tak peduli kawan, saya tetap menyebutnya bangkutaman.


ayo kawan duduk disini, ditepi lautan, bersama jejak pasir lembut sapuan buih ombak, mengamati batas samudera dan lazuardi yang menyatu di ujung sana. indah khan ?

duduk, duduklah disini, disamping saya, di bangkutaman di tepi lautan.. kita akan menjemput senja pertama kita, menyentuh gemintang malam di langit bening nanti malam, dan menyambungnya hingga fajar. menyambangi terik mentari di musim panas. dan bermain dengan riak-riak air hujan kala musim penghujan. melihat daun-daun menghijau lagi dari tunas-tunas pohon, dan menunggunya menguning kecoklatan sampai jatuh..


bagaimana?

sudahkah nyaman dudukmu?

merapatlah kalau sepoi angin membuatku sedikit menggigil. dan rengkuhlah saya kalau guncangan bahu ini tiba-tiba tak beraturan dan membuatmu khawatir. menurutmu, bagian mana yang paling mengasyikkan kawan, mengenang atau merencanakan? mana yang kita mulai dahulu? atau kita bercerita saja tanpa arah, ikuti saja alur ini, sampai kita menemukan tikungan untuk sejenak bersandar dan melepas peluh dan penat.. kita tak akan pernah tau apa yang sudah terlalui sampai benar-benar melewatinya.. jadi, yah, begitu saja..

mari, duduk disamping saya, kita memulai pembicaraan kita…


 

Kutipan dari eva melukis pelangi

Penjaringan, 12 Mei 2008

Sunday, May 11, 2008

Fragmentasi Memori

(Renungan seorang pria di pertengahan usia 26-nya)

 

Ikhwah juga pernah merasakan jatuh cinta.

Bila itu bisa disebut cinta. Pernah dilaluinya hari-hari indah bersama seseorang, karena kala itu kata ikhwah belum dikenal dalam kamus hidupnya. Belum terpikir untuk menikah, karena kebersamaan itu dilaluinya ketika SMA. Sebuah romansa, gita cinta dari SMA. Judul yang indah untuk sebuah hubungan yang tak indah. Tak indah karena lambat laun hati kecilnya mulai berteriak bahwa ini tak benar.

Ada yang salah dengan jalinan ini. Tapi dia tidak tahu apa.

Kegundahan itupun menjadi bias, terkikis perlahan oleh rasa yang syahdu. Tatapan matanya, canda tawa dan senyum yang selalu setia, seakan hanya itu yang bisa memuaskan hausnya akan dunia. Cukup di sini saja. Makna hidup jadi kabur. Hingga terperosoklah ia tanpa sadar dalam tipu daya.


Tapi nuraninya terus berteriak-teriak. Ada yang salah, dia tahu ada yang salah. Apalagi ketika dia mulai mengikuti kajian-kajian keislaman di kampusnya. Terlebih ketika mentoring demi mentoring mulai jadi kegiatan rutin. Aktivitas da'wah kampus mulai menyeretnya, dan halaqoh demi halaqoh jadi agenda utamanya. Sementara itu frekuensi pertemuannya dengan sang kekasih tercinta semakin menurun. Kemesraan tak semerbak dulu lagi. Karena hati telah berpaling pada yang lain.

Ada yang mengiris hatinya tiap kali sang kekasih bertanya kenapa? "Aku sedang jatuh cinta" jawabnya pada suatu ketika. Dan jawaban itu cukup membuat sang kekasih pergi. Meski ditahannya luka di hati, namun tak urung dimantapkannya diri memasuki dunia baru yang membuatnya telah memilih. Meski pilihan itu sulit...


Delapan tahun berlalu semenjak itu. Usia tarbiyahnya termasuk senior diantara teman-teman seangkatannya. Aktivitas dakwahnya sudah tak terbilang lagi saking banyaknya. Meski pekerjaan di kantor kadang menyita waktu dan pikiran, tapi tak jua dia melalaikan tugas yang diamanahkan. Ketika jalan cinta ini memanggil maka tak selayaknya dia lari, karena jalan inilah yang telah membuatnya jatuh cinta, yang telah membuatnya pernah memilih, meski pilihan itu sangat sulit....


Dia hanya melalaikan satu hal : hatinya.

Jarang dijaga hingga bisikan setan menyelusup, dan tiap kali ada tawaran menikah dari pembimbingnya ditolaknya dengan halus sambil berkata bahwa calon (yang akan dita’aruf) kurang putih, atau kurang tinggi (dalam hatinya menambahkan, “Tak seputih/ setinggi yang dulu”), kurang mapan, kurang ini kurang itu…

 

Saudaraku, apa yang kau cari? Apakah setiap bakal calon pasangan hidupmu kelak harus jadi bayangan kekasih terdahulu? Pantaskah ini jadi pemakluman atas sifat “kemanusiaan”mu yang cenderung “menyukai keindahan”? Atau hanyalah sebuah alasan agar luka yang membusuk di hatimu bisa terobati?


Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa beruntunglah lelaki yang memilih perempuan karena agamanya, begitu pula sebaliknya? Bukankah perkawinan karena ideologis sejatinya lebih langgeng dan “menguntungkan” daripada perkawinan karena “kesenangan sesaat”?

 

Sesaat karena engkau tahu bahwa kecantikan dan ketampanan fisik itu akan lekang dimakan waktu. Sesaat karena sebenarnya engkau sadar bahwa kecintaan timbul karena ada yang menautkan. Dan sebaik-baik pengikat hati adalah ketaatan dan kecintaan pada Allah. Lain tidak. Lalu kenapa harus terus mengikuti hawa nafsumu?


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. 2 : 216)”


Maka apakah kamu tidak berpikir? Kenapa harus berpijak di dua perahu?

Bila kelak kaudapatkan pendamping hidup sesuai selera, apakah akan menjamin kebahagiaanmu? Kemana hasil tarbiyahmu selama ini? Bila cintamu pada dunia (wanita) pada akhirnya akan melenakanmu, lalu kemana perginya semangat hijrah itu? Euphoria sesaat saja? Atau memang cintamu mulai luntur ditelan masa? Cinta tulus yang agung, yang membuatmu dulu sempat memilih, meski pilihan itu sangat sulit....


Haruskah kalah setelah memenangkan “pertarungan” sebelumnya?

Untuk direnungkan ketika Allah mengingatkan kita melalui QS. 38 : 31-33:

“ 31. (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore; 32. maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’; 33. ‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.”

 

Nilai seorang wanita atau pria tentulah tidak bisa disamakan dg harta, kuda tunggangan, materi, maupun kesenangan duniawi lainnya. Namun tentu bukan itu inti permasalahnnya. Bukan tentang besarnya nilai atau pentingnya arti dari pandangan manusia, tapi tentang sebesar apa usaha kita menutup celah agar musuh terbesar kita tidak bisa memasang perangkap dan menjerumuskan kita, sehalus apapun cara itu.

Dan hanya cinta yang bisa melakukan itu. Cinta suci yang menafikan keindahan fisik dan mengagungkan kebeningan hati. Cinta yang membuat kita berani memilih untuk selalu istiqomah di jalan ini, berani memilih, meski pilihan itu sangat sulit untuk dijalani....

 

Penjaringan, 12 Mei 2008

 

Maraji :

1. Al Qur’an

2. Renungan hati di sudut kantor

3. Da’wah sepanjang hayat.net/insan biasa.on intrablog.file

Mikirimages_2

Monday, May 05, 2008

Emosi

Gede




Bayangkan anda sekarang sedang ada di puncak Gunung Gede.

Kabut tipis menyelimuti anda. Arakan putih awan cumulus nimbus menyapu kisi-kisi Carier anda. Sementara itu, gigil sang pencakar langit 2958 meter begitu menusuk sumsum tulang belakang anda.


Maka di hadapan anda sekarang terdapat kawah jurang selebar 30 meter persegi. Saat itu, lakukanlah instruksi berikut ini : Berteriaklah sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya. Sekeras-kerasnya. Tenang aja. Gak bakal ada Bu RT yang menimpuk anda dengan centong nasinya. Tidak bakal ada Wak Asep yang akan meneriaki anda :”Hei, Gelo. Ulah gandeng siah maneh!” dan pastinya, tidak mungkin ada kaca-kaca jendela yang pecah karena teriakan supersonic-concorde anda.

 

Berteriaklah sampai putus urat leher anda, seperti ini misalnya:

“ALLAHU AKBAR!”

“BANGKITLAH INDONESIAKU!”

“FREEDOM PALESTINE!'

“GUE GAK MAU BAYAR KOS-KOSAN LAGI!"

“SAYA MENCINTAIMU”

“WO AI NI”

“TURUNKAN JFK”

“HIDUP BURUH SEDUNIA”

“JANGAN GUSUR KAMI”

…. de el el de el el

 

Atau apa saja lah yang anda suka.

Berteriaklah, karena terus terang, momentum ini sangat mengesankan sekali buat saya. Saya menyebutnya : meluapkan emosi.

 

Kemarin siang, acara Karindra di masjid saya spesial membahas tema Emotional Quotient. Pembicaranya psikolog muda asisten pribadinya Mbak Romi AFI : Eri, MPSi, temen sebangku jaman SMA dulu. Jujur kalo ngebahas aspek psikologis begini, tidak hanya IQ saja, tetapi EQ saya termasuk rendah sekali kalo bisa diukur.

 

Saya suka sulit mengontrol emosi. Contohnya : baca novel sedih dikit aja langsung berkaca-kaca. Pura-pura kelilipan debu gitu :P. Sementara saat nonton Empat Mata, saya bisa tertawa ngakak seperti tokoh Darth Vader di fiksi Star Wars. Begitu membahana. Belakangan saya sedang mencoba jaim alias jaga imej dengan tidak terlalu ekspresif dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Tapi hari itu, saya benar-benar tidak bisa mengontrol emosi. Perasaan saya benar-benar di blender habis : Haru, sedih, takut, khawatir, gembira, campur aduk jadi satu.

 

Sabtu-Ahad kemarin, the Key-Team mengikuti uji nyali.

Kami mendapat kesempatan menginap di penjara anak pria di Tangerang dalam rangka Pesantren Kilat LP. Formasi team kali ini terdiri dari 8 orang : Kak Hikmah (mahasiswa jebolan tafsir hadits IAIN Makassar), Kang Andy ( pria pemikir yang punya senyum menawan), Wendy (ko-fas), Bang Okiy (supir merangkap tukang beli nasi bungkus), Aa Dicky dan Mas Sakti (tukang poto-poto) dan saya sendiri. Oh ya hampir lupa, Abang Donda, mantan Para Pencari Tuhan :P

 

Kalau anda pernah nonton film Con Air yang diproduseri Jerry Bruckheimer, dibintangi saudara kembar saya : Nicholas Cage. Kisah tentang seorang polisi yang naik pesawat, berpenumpang para penjahat kelas kakap. Nah, seperti itulah kondisi kami saat itu.

 

Emosi saya, atau lebih tepatnya rasa was-was, mulai terbangun setelah mendengar kisah dari seorang sipir penjara. Ceritanya, di dalam LP seluas 3500 meter persegi itu, terdapat seorang anak yang dihukum 15 tahun penjara karena tega membantai empat anggota keluarganya sendiri. Seorang sipir menghina sang pemuda berdarah dingin itu. Merasa tersinggung, beberapa hari kemudian sang anak memilih ikut menghabisi nyawa si sipir penjara. Teknik pembantaiannya juga terhitung lumayan fantastis. Ia memotong leher si sipir saat ia sedang tidur dengan pisau dapur. Mirip filmnya Tony Leung, Prison on Fire.

 

Pukul 09.30 kami tiba di lokasi.

LP terlihat berdiri kukuh setinggi 8 meter vertikal. Dan lebar 2900 meter horisontal. Laksana benteng Rotterdam. Dilapisi kawat besi tajam. Pintu utama adalah gerbang seukuran 8 x 5 meter seberat 700kg. Terbuat baja dengan gerendel lapis ganda sebanyak tiga buah. Okiy sempat ngomel saat saya minta mengunci mobil dengan kunci setir tambahan. “Gila loe Yan. Tiga lapis pintu baja. Dua belas gerendel. Ditambah polisi mondar-mandir, loe masih minta mobil dikonci setir juga? Kalo mobil sampe ilang mah berarti ada konspirasi atuh bos.” Ia tergelak. Saya manggut-manggut.  Tersenyum bodoh.

 

Di dalam LP jeruji besi tajam-tajam terhasung setinggi 8 meter. Terdapat lapangan sepakbola dan sebuah masjid di tengahnya. Rumput-rumput hijau tertata rapi. Terdapat beberapa narapidana di luar sel kamar mereka. Beberapa pasang mata mulai menatap kami menyeringai tajam laksana macan mengintai mangsanya. Apalagi saat melihat Wendy. Sepertinya lelaki putih ganteng besar ini cukup enak untuk dimakan. Slurp. Nyam-nyam.

 

Setelah pembukaan Sanlat oleh Kalapas, saya baru sadar sedang duduk ditengah-tengah 35 anak remaja. Usia kira-kira 8 s.d. 20 tahun. Anak-anak yang terlihat baik. Berkoko, sarung dan kopiah. Mereka begitu bersemangat meneriakkan yel-yel : LUAR BIASA. Siapa sangka di balik jiwa dan jasad fisik mereka, terdapat masa lalu yang begitu kelam dan memilukan hati. Sesuatu yang sulit diterima akal sehat dilakukan oleh anak-anak selugu dan semuda mereka.

 

Maka reaksi fusi dimulai cepat. Episode emosi-pun diawali saat kami membaur. Menyublim.  Dan menyatu dengan mereka. Menyelami samudera hidup nan gelap. Menghirup aroma keindahan masa kecil mereka yang tiba-tiba tercerabut oleh rasa ketidakadilan hukum. Merasakan tiap pukulan dan tendangan bertubi-tubi sipir penjara jika anak-anak ini melakukan kesalahan. Saya begitu marah saat itu, karena Syamsul Nursalim, Sukanto Tanoto, Marie Pauline Lumowa dan Anthony Salim lebih layak mengisi sel-sel karatan yang menyedihkan itu. Bukan mereka. Bukan anak-anak itu.

 

“Alhamdulillah kak. Kami bisa makan ayam di sanlat kali ini. Biasanya ketemu daging paling setaun sekali.” Kata Kastiyan (red. nama disamarkan) seorang remaja pengurus masjid LP yang ditahan selama 8 tahun karena tuduhan membunuh itu. Sementara itu, seorang bocah imut, berwajah lucu bernama Ilham tersenyum dan minta diperlihatkan game komputer di laptop saya.

 

Ah, usianya baru 8 tahun. Dulu saat dibawa ke tempat ini ia masih berumur lima tahun dan masih menghisap dot. Anak ini sangat pintar karena bisa mengoperasikan komputer dengan baik. Dan sungguh terkejut bukan kepalang ketika ia berkata : “Kak, kasih saya waktu 10 menit. Saya bisa bikin motor di depan hilang”. Saya tercengang mengetahui kalau bocah imut ini adalah anggota sindikat eksekutor curanmor spesialis pembongkar kunci-T. Saya geleng-geleng kepala. Profesional.

 

Okiy dan Donda tidur di ruangan sempit berukuran 2x1 milik penjaga masjid satunya lagi. Di dinding kamar itu saya sempat melihat puluhan piagam penghargaan : Juara Satu Debat Calon Gubernur DKI versi anak jalanan; Juara Satu Diskusi Bahasa Inggris PLAN Jepang-Australia, Pelajar berprestasi anak jalanan, dan sederet piala berharga lainnya.

 

Nama anak itu sebut saja Febian, 19 tahun. Tampan. Berkacamata minus. Menyukai fotografi. Cerdas bahkan bisa dibilang jenius. Toeflnya diatas 500. Orangnya intelek dan shalih sekali. Siang itu bada Dzuhur, ia memberi kultum dengan suara berapi-api. Mengutip Qs Ar Radu tentang manusia yang tidak akan berubah nasibnya jika tidak mau mengubah dirinya sendiri.

 

Dua akhwat teman saya Re-Ri sempat berdecak kagum saat sosok muda itu sempat berkisah bahwa banyak ulama yang menjadikan penjara sebagai uzlah dan penempa sejati hidup mereka. Hamka menulis Al Azhar. Sayyid Qutb menulis Zhilal. Begitu pula Ahmad bin Hanbal, yang menulis ribuan tafsir di dalam penjara.

 

Namanya adalah Febian. Sore itu, sahabatnya dihabisi sekelompok orang tak dikenal di daerah Cileduk. Ia melakukan aksi balas dendam bersama tiga temannya. Ialah sang otak konseptor pembunuhan berencana terhadap seseorang yang tega menyakiti sahabatnya sendiri. Baginya persahabatan adalah segala-galanya. Ia tuntas membalaskan dendamnya. Dalam aksi itu, satu temannya tewas. Satu kawannya yang juga eksekutor ditangkap, tapi karena memiliki katebelece dengan pejabat pemerintah, ia dibebaskan. Sementara Febian harus menjalani pahitnya jeruji penjara bertahun-tahun. Mulai saat itulah, ia merasa keadilan tidak ada lagi di dunia ini jika sudah menyangkut pejabat tertentu. Saya teriris pilu.

 

Sungguh saya gerimis. Ketika saya meminta mereka meneriakkan yel-yel takbir. Anak-anak ini berteriak sekencang-kencangnya seperti sudah berada di Ghaza saja. Sungguh saya berkaca-kaca ketika, keinginan salah seorang anak itu adalah :”Keluar dari sini saya ingin menikah saja kak.” Ia ditahan karena memperkosa seorang anak-anak. Silahkan anda nilai sendiri apakah Pemred majalah Playboy brengsek itu layak ikut diseret ke tempat seperti ini atau tidak.

 

“saya ingin dapat ijazah SD kak” “saya ingin bertemu ibu saya kak. Tapi… saya masih disini 2 tahun lagi”, ujar Jay, yang ternyata adalah tetangga saya di Rawalumbu. Ya Rabb. Sungguh saya gerimis. Emosi saya benar-benar dikuras habis hari itu. “saya ingin jadi polisi” kata Riki, anak kecil sembilan tahun yang dijebak mencuri oleh tetangganya, dan ia harus dikriminalkan di tempat itu selama tiga tahun. Allahu Akbar, tunjukkanlah kasih sayangmu pada mereka Rabb.

 

“kami kotor kak. Kami berdosa, apakah Allah akan mengampuni kami?”

Saya menahan gugu. Sama dik, saya juga berdosa. Tidak kalian saja.

“kami ingin hidup ini menjadi berarti kak. Kami ingin menjadi orang berguna.” Kata Rifa’i sambil memegang mushaf kecil.” Beberapa detik lagi emosi ini pasti tumpah ruah.

“Kirim kami ke Palestina atau Irak, Kak. Kami mau berperang. Biarkan kami mati disana. Membela agama Islam. Kami sudah siap” senyum pemuda itu. Tulus. Sosoknya semakin lama semakin kabur, kornea saya sudah terlanjur basah.

 



Tangerang, 4 Mei 2008

Elpe

Sunday, May 04, 2008

Diksi

"Rabb, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS 20 : 25-28)


Melongo artinya menatap nanar. Nyaris tanpa berkedip. Terkesima. Dengan mata membulat. Bibir terbuka dan segenap fokus perhatian, pikiran, perasaan dan atmosfer hati melesat. Tertuju pada objek perhatian. Terpesona. Begitu kira-kira gambar seorang konstituen. Foto hasil bidikan seorang fotografer pada headline The Jakarta Post pagi ini. Di bawah foto tersebut, terdapat tulisan : Kampanye Capres Demokrat Barrack Husein Obama di Pennsylvania.

 

Beberapa pengamat mempersamakan Obama dengan Bung Karno – salah satu tokoh idola saya – Mereka sama-sama jago beretorika. 60 tahun lalu si singa podium itu menggelorakan semangat revolusi dan agitasi untuk mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Bung Karno bicara, maka 200.000 rakyat Indonesia saat itu juga langsung mengalungkan granat-granat tangan di leher mereka seraya mengasah golok dan bambu runcing. Menurut saya, orang ini benar-benar agitator sejati.

 

Barangkali hanya Bung Tomo, dengan seruan terkenalnya “Jihad” dan “Allahu Akbar”, yang bisa menandingi kemampuan bicara presiden pertama RI itu. Pidato terakhir beliau sangat layak dikenang, diberi judul Nawaksara. Mengisahkan kondisi sosial politik pasca pengkhianatan G-30S/PKI. Pembelaan atas keterlibatan dirinya, yang akhirnya ditolak sidang istimewa MPRS. Berujung pada dihabisinya karier politik nan cemerlang insinyur lulusan arsitektur ITB itu.

 

Diksi adalah kunci kehebatan para orator ini.

Diksi pula yang dimiliki oleh Thariq Ibnu Ziyad 13 abad lampau. Bayangkan saja, hanya berkekuatan 7000 tentara berkekuatan seadanya menghadapi 25.000 pasukan Gothic, ekspedisi pembebasan Spanyol dimulai dengan aksi heroik pembakaran kapal-kapal perang milik tentara Islam. Thariq berkata : “Wahai kaum muslimin. Perahu-perahu kalian sudah saya bakar. Anda tidak bisa lari dari perang ini. Anda hanya punya dua pilihan: menjadi pecundang kemudian terbunuh di pinggir laut atau kita bertempur sampai mati melawan musuh hingga Islam tegak di negeri ini”.

 

Sang panglima perang benar-benar pintar memilih kata.

Penaklukan Spanyol menjadi peristiwa paling mengagumkan sepanjang sejarah ekspedisi Islam. Dan Nama Thariq ibnu Ziyad di abadikan menjadi nama selat : Gibraltar.

 

Contoh lain dari penggunaan diksi yang baik diperagakan oleh Khalifah Mutashim Billah. Ceritanya, ada seorang wanita muslimah yang sedang berbelanja di pasar negeri Syam, Damaskus. Syam ini berada di bawah kekuasaan Romawi Timur.  Pendek kata, wanita ini dilecehkan oleh seorang tentara romawi disana. Sang wanita mengadu kepada khalifah.

 

Al Mutashim hanya mengirim pesan singkat kepada panglima perang Romawi :

“Jika engkau tidak bertanggung jawab atas pelecehan yang menimpa saudariku ini, maka aku akan mempersiapkan pasukan yang kepala pasukannya sudah berada di Syam, sementara ekor pasukannya masih berada di Baghdad"


Panglima Romawi menggigil.

Ia sepertinya cukup waras tanpa perlu lama-lama menghukum si peleceh, kemudian meminta maaf pada Sang Khalifah. Hal itu karena dia membaca pesan Khalifah Islam  versi bahasa gaul seperti ini : “Hey coy, klo loe gak minta maap ama ini cewek. Gue bakal nyiapain lima juta tentara berani mati yang bakal ngelumat loe en konco-konco loe ampe jadi rujak bebek !". Begitu Agitatif. Sangat provokatif. dan tentu saja, diksi yang tepat.

 

Pada masa kontemporer abad 20 sekarang ini, saya menyukai gaya bicara Professor Mohammad Amien Rais dan ustadz Anis Matta, Lc. Diksi mereka sangat menawan. Saya bisa melongo kalau dua orang ini sudah mulai bicara.

 

Saya sendiri bukanlah seorang pembicara yang baik.

Saya sering gugup kalau harus ngomong di depan umum. Dulu waktu masih kecil, saya bisa keringat dingin kalau harus pidato, atau disuruh nyanyi di depan kelas. Bukan karena suara saya memang jelek bukan, tapi karena lagu yang saya bisa ya cuma satu yaitu lagu Rayuan Pulau Kelapa. Andante moderato. Falsetto dengan birama 4/4, dijamin anda mual-mual mendengar suara nyanyi saya. Selain itu, saya juga suka kurang pede-an kalau harus bertanya atau mengemukakan pendapat saya.

 

Takut salah.

Takut ditertawakan.

Takut dibisiki, pertanyaan bodoh koq ditanyakan.

Takut berubah.

 

Tapi masalahnya adalah, kita tidak sedang hidup di hutan rimba seperti Robinson Crusoe, bukan? Kita harus berbicara. Karena konsekuensi menjadi makhluk sosial adalah berbicara dengan orang lain. Dalam situasi apapun. Dalam forum apapun. Setiap hari.

 

Belakangan ini saya sering diminta bicara di depan umum. Ketika pengenalan kampus STAN ke SMA-SMA di Bekasi, waktu jadi presenter em-el-em, saat mimpin rapat, tatkala jualan madu arab, atau saat ngisi pelatihan organisasi di sekolah-sekolah. Dan hey, setelah dipikir-pikir, ternyata ngomong itu mudah sekali lho. Piece-a-cake. Siapapun bisa melakukannya : sekadar bicara. Lupakan dulu aksi dan tindakan yang penting mah “ngomong” saja dululah.

 

Pokoknya kalau bisa sih harus sama kerennya dengan retorika tebar pesona ala presiden republik mimpi yang setia dengan prinsip natonya: no action talk only. Perlahan-lahan, saya jadi terbiasa bicara. Dan akhirnya kemudian, saya dicap jadi tukang-bicara di beberapa institusi yang saya geluti.

 

Tapi sore itu entah kenapa, tiba-tiba saya menjadi sangat enggan untuk bicara. Saya menjadi ketakutan untuk bicara lagi. Dulu ulama Hasan Al Bashri begitu berhati-hati dalam bicara. Bahkan ia harus menunda ceramahnya jika belum melakukan apa yang akan dibicarakannya terlebih dahulu.

 

Saya teringat perkataan Nabi Saw bahwa selain kemaluan, lidah adalah organ tubuh yang paling banyak menggelincirkan manusia ke dalam neraka. Saya merasa bahwa lisan ini sering mengucapkan kata-kata keji dan kotor. Pernah pula lisan ini menyakiti hati orang lain. Lisan yang kerap kali dipakai berbohong, atau mendustai kebenaran.

 

Lisan yang sering dipakai untuk menantang sang Khalik saat Allah bertanya dengan murka: “Wahai umat muslim, kenapa engkau tidak melakukan apa yang engkau katakan?” 

 

Ampuni lisan saya ini Rabb.

 

Rawalumbu, 4 Mei 2008

Soekarno_3

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31