« Sublimasi | Main | Lari »

Thursday, May 22, 2008

Visualisasi

Sebenarnya meski kecil buku ini cukup bagus.

Saya mendapatkannya di Toko Buku Gunung Agung Bekasi seharga Rp13rebu perak. Mengisahkan 30 sahabat Nabi yang gugur dimedan perang. Waktu itu saya sedang asyik-asyiknya membaca adegan pertempuran Khubaib bin Adiy Al Anshoriy dengan kuda-kuda berbaju besinya, serta tertegun menyimak salah satu episode perang paling fenomenal dalam sejarah Islam : Perang Muktah.

 

Alkisah tiga sahabat utama : Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah hanya berpanjikan 25.000 orang mesti berhadapan dengan 200.000 tentara gabungan Syam dan Romawi pimpinan Heraklius. Gugurnya tiga pahlawan ini saya pikir lebih hebat daripada aksi kepahlawanan jagoan Skotlandia, William Wallace yang dibintangi Mel Gibson dalam Film Brave Heart.


Simak saja adegan heroik saat Ja'far yang tatkala di medan perang sudah 5 hari tidak makan. Siang itu, ia mendapatkan sekerat kecil daging panggang yang kelihatannya cukup nikmat untuk mengganjal perutnya yang memang sudah demikian payah itu. Baru saja ia memasukkan sekerat daging itu ke dalam mulutnya, datang kabar bahwa Zaid sudah gugur di  medan laga.


Serta merta Ja’far memuntahkan daging yang sudah ada di mulutnya itu seraya memaki dirinya sendiri : “Wahai, manusia celakalah engkau! Sahabatmu sudah meregang ruhnya membela kemuliaan agama Islam, sedangkan engkau malah enak-enak menikmati dunia”. Ia berlari mencabut pedangnya dan bertempur hingga gugur d medan Muktah.


Asli Kezuhudan dan kebersihan hati para jenderal mulia itu begitu menaikkan tensi darah saya. Wuih, jadi semangat buanget buat bikin aksi-aksi heroik. Pokoknya buku ini keren deh, sekonyong-konyong saya merinding, merasa Izzah keIslaman saya naik terus menerus kayak roller coaster. Sebelum tiba-tiba turun drastis menghantam bumi. Remuk. Redam. Nadir.


Dodol. Susah benar hidup di zaman seperti sekarang, ujar saya sambil istighfar. Gimana nggak, pagi itu saya lagi asyik-asyik baca buku perang gini di atas kereta Bekasi-Kota, Nah berhubung tidak kebagian korsi duduklah saya di atas selembar koran di pinggir pintu kereta. Sedang menyelami kezuhudan para pahlawan Islam lewat buku ini, tidak sadar di sebelah saya ada seorang wanita karier masih muda yang sialnya koq mengenakan rok mini seksi gitu sih. Maka pahala nambah-nambah tsaqofah Islamiyyah hapus sudah karena pemandangan betis-betis nan putih itu.

 

Astaghfirullah. Gusti. Maksud hati menaikkan nilai Dasa Dharma Pramuka nomor 1 : iman dan takwa kepada Tuhan YME. Nah yang ada malah pemandangan yang merusak ingatan dan hafalan. Saya pikir tingginya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual pada wanita tidak serta –merta dipicu mental serigala kaum lelaki, tapi kaum hawa-nya sendiri kadang-kadang suka men-stimulasi gitu sih. Yah, pria normal manapun pasti terpacu adrenalinnya disuguhi view seperti ini. Cappe deh.

 

Menjaga pandangan mata di zaman kini bukanlah perkara yang mudah.

Apalagi di kota-kota besar, setiap sudutnya bertaburan pemandangan tak sedap yang membuat hati-hati ini menjadi miris. Memang tak mudah menghindar, tapi bukan berarti kita menjadi sah melakukan perbuatan yang oleh Rasulullah digolongkan sebagai orang yang terkena panah-panah syetan ini. Coba renungkan potongan nasihat Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya ,“Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang Allah maka pemiliknya berada ditepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh kedalam jurang”.


Hal ini juga digambarkan dengan gamblang oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauzy: “mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan juga pengikut. Mata memiliki kenikmatan pandangan sementara hati memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Namun ketika terpuruk dalam kesulitan keduanya akan saling mencela dan mencerai”.

 

Menarik jika kita menyimak dialog imajiner antara mata dan hati yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin. Dalam kitab tersebut antara hati dan mata saling menyalahkan. Hati berkata pada mata : …“Kaulah yang menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tidak sehat. Kau salahi firman Allah, Hendaknya mereka menahan pandangannya... Dan kau salahi sabda Rasulullah, Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan balasan iman dan akan mendapat kelezatan iman dalam hatinya”.(HR Ahmad)


Tak mau kalah, mata menjawab:

“Kau dzalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhori-Muslim)


Imam Ahmad dalam bab zuhud menceritakan, Abu Bakar r.a. bersama sahabat lainnya sedang memasuki perkebunan kurma di Madinah. Saat itu bunga kurma sedang bermekaran dan sebagian mulai berbuah. Sebuah pemandangan yang elok dan sangat menakjubkan. Sementara sahabat yang lain beristirahat, Abu Bakar duduk sambil menangis. Mereka bertanya,”Apa yang terjadi wahai amirul mukminin?”. Dengan mata yang masih sembab Abu Bakar menjawab,”Lihatlah burung itu, alangkah bahagianya. Ia hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain dan makan dengan bebasnya. Ia mendatangi mata air dan minum dengan bebas pula, kemudian mati tanpa ada hisab dan siksa. Andaikan saja aku menjadi seekor burung?”.


Simak pula pada suatu hari, “'Umar, dalam sholat fajar membaca ayat: Faidzaa nuqira fin naaquur, "Apabila ditiup sangkakala," (QS. Al-Muddatstsir: 8) Seketika itu juga beliau menangis, tubuhnya tersungkur dan sakit beberapa hari hingga sahabat-sahabat lain datang menjenguknya. Ibnu Mas'ud juga tak jauh berbeda, ia selalu mengkaitkan apa yang ia lihat dengan kehidupan akhirat, pernah suatu ketika ia melihat alat peniup pandai besi sampai-sampai ia terjatuh. Pernah juga ketika ia menyaksikan para pandai besi, begitu menyaksikan besi yang terpanggang ia langsung menangis.


Ada banyak kisah yang tertoreh, seakan menjadi saksi atas perilaku mata orang-orang shalih. Kebeningan air mata mereka adalah mimpi saya pada hari ini.

Namun, perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain. Termasuk saya sendiri. Ibnu Majah dari Tsauban meriwayatkan, aku mendengar Rasulullah bersabda,”Sungguh aku melihat sekelompok orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala yang menyerupai gunung Tihamah Bidh, namun Allah menjadikan semuanya seperti debu yang beterbangan.”


Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, bukankah mereka orang-orang Islam?” Beliau menjawab,”Benar, mereka adalah orang-orang Islam. Mereka shalat sebagaimana kalian shalat, puasa sebagaimana kalian puasa, mereka juga menghidupkan malam-malam dengan dzikir dan shalat. Namun ketika mereka dalam kesunyian, mereka menerjang larangan-larangan Allah”. 

 

Ampuni kedua mata saya ini Rabb.

Rawalumbu, 22 Mei 2008

Kacamata

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31