Visualisasi
Sebenarnya meski kecil buku ini cukup bagus.
Saya mendapatkannya di Toko Buku Gunung Agung Bekasi
seharga Rp13rebu perak. Mengisahkan 30 sahabat Nabi yang gugur dimedan perang.
Waktu itu saya sedang asyik-asyiknya membaca adegan pertempuran Khubaib bin Adiy
Al Anshoriy dengan kuda-kuda berbaju besinya, serta tertegun menyimak salah
satu episode perang paling fenomenal dalam sejarah Islam : Perang Muktah.
Alkisah tiga sahabat utama : Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah hanya berpanjikan 25.000 orang mesti berhadapan dengan 200.000 tentara gabungan Syam dan Romawi pimpinan Heraklius. Gugurnya tiga pahlawan ini saya pikir lebih hebat daripada aksi kepahlawanan jagoan Skotlandia, William Wallace yang dibintangi Mel Gibson dalam Film Brave Heart.
Serta merta Ja’far memuntahkan daging yang sudah ada di mulutnya itu seraya memaki dirinya sendiri : “Wahai, manusia celakalah engkau! Sahabatmu sudah meregang ruhnya membela kemuliaan agama Islam, sedangkan engkau malah enak-enak menikmati dunia”. Ia berlari mencabut pedangnya dan bertempur hingga gugur d medan Muktah.
Asli Kezuhudan dan kebersihan hati para jenderal mulia itu begitu menaikkan tensi darah saya. Wuih, jadi semangat buanget buat bikin aksi-aksi heroik. Pokoknya buku ini keren deh, sekonyong-konyong saya merinding, merasa Izzah keIslaman saya naik terus menerus kayak roller coaster. Sebelum tiba-tiba turun drastis menghantam bumi. Remuk. Redam. Nadir.
Dodol. Susah benar
hidup di zaman seperti sekarang, ujar saya sambil istighfar.
Gimana nggak, pagi itu saya lagi asyik-asyik baca buku perang gini di atas
kereta Bekasi-Kota, Nah berhubung tidak kebagian korsi duduklah saya di atas
selembar koran di pinggir pintu kereta. Sedang menyelami kezuhudan para
pahlawan Islam lewat buku ini, tidak sadar di sebelah saya ada seorang wanita
karier masih muda yang sialnya koq mengenakan rok mini seksi gitu sih. Maka pahala
nambah-nambah tsaqofah Islamiyyah hapus sudah karena pemandangan betis-betis nan
putih itu.
Astaghfirullah. Gusti. Maksud hati menaikkan nilai
Dasa Dharma Pramuka nomor 1 : iman dan takwa kepada Tuhan YME. Nah yang ada
malah pemandangan yang merusak ingatan dan hafalan. Saya pikir tingginya kasus
pemerkosaan dan pelecehan seksual pada wanita tidak serta –merta dipicu mental
serigala kaum lelaki, tapi kaum hawa-nya sendiri kadang-kadang suka
men-stimulasi gitu sih. Yah, pria normal manapun pasti terpacu adrenalinnya disuguhi view seperti ini. Cappe deh.
Menjaga
pandangan mata di zaman kini bukanlah perkara yang mudah.
Apalagi
di kota-kota besar, setiap sudutnya bertaburan pemandangan tak sedap yang
membuat hati-hati ini menjadi miris. Memang tak mudah menghindar, tapi bukan
berarti kita menjadi sah melakukan perbuatan yang oleh Rasulullah digolongkan
sebagai orang yang terkena panah-panah syetan ini. Coba renungkan potongan
nasihat Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya ,“Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata.
Bila mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang Allah maka pemiliknya
berada ditepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh kedalam
jurang”.
Hal ini juga digambarkan dengan gamblang oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauzy: “mata adalah penuntun, sementara hati adalah
pendorong dan juga pengikut. Mata memiliki kenikmatan pandangan sementara hati
memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang
mesra. Namun ketika terpuruk dalam kesulitan keduanya akan saling mencela dan
mencerai”.
Menarik
jika kita menyimak dialog imajiner antara mata dan hati yang beliau tulis dalam
kitab Raudhatul Muhibbin. Dalam kitab tersebut antara hati dan mata saling
menyalahkan. Hati berkata pada mata : …“Kaulah
yang menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku
mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan
kebun yang tidak sehat. Kau salahi firman Allah, Hendaknya mereka menahan
pandangannya... Dan kau salahi sabda Rasulullah, Memandang wanita adalah panah
beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena
takut kepada Allah maka Allah akan memberikan balasan iman dan akan mendapat
kelezatan iman dalam hatinya”.(HR Ahmad)
Tak mau kalah, mata menjawab:
“Kau dzalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau
kukuhkan dosaku lahir dan batin padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat
dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya
dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik
pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal
daging itu adalah hati” (HR. Bukhori-Muslim)
Imam Ahmad dalam bab zuhud menceritakan, Abu Bakar r.a. bersama sahabat lainnya
sedang memasuki perkebunan kurma di Madinah. Saat itu bunga kurma sedang
bermekaran dan sebagian mulai berbuah. Sebuah pemandangan yang elok dan sangat
menakjubkan. Sementara sahabat yang lain beristirahat, Abu Bakar duduk sambil
menangis. Mereka bertanya,”Apa yang
terjadi wahai amirul mukminin?”. Dengan mata yang masih sembab Abu Bakar
menjawab,”Lihatlah burung itu,
alangkah bahagianya. Ia hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain dan makan
dengan bebasnya. Ia mendatangi mata air dan minum dengan bebas pula, kemudian
mati tanpa ada hisab dan siksa. Andaikan saja aku menjadi seekor burung?”.
Simak pula pada suatu hari, “'Umar, dalam sholat fajar membaca ayat: Faidzaa
nuqira fin naaquur, "Apabila ditiup sangkakala," (QS.
Al-Muddatstsir: 8) Seketika itu juga beliau menangis, tubuhnya tersungkur dan
sakit beberapa hari hingga sahabat-sahabat lain datang menjenguknya. Ibnu
Mas'ud juga tak jauh berbeda, ia selalu mengkaitkan apa yang ia lihat dengan
kehidupan akhirat, pernah suatu ketika ia melihat alat peniup pandai besi
sampai-sampai ia terjatuh. Pernah juga ketika ia menyaksikan para pandai besi,
begitu menyaksikan besi yang terpanggang ia langsung menangis.
Ada banyak
kisah yang tertoreh, seakan menjadi saksi atas perilaku mata orang-orang shalih.
Kebeningan air mata mereka adalah mimpi saya pada hari ini.
Namun, perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui
oleh orang lain. Termasuk saya sendiri. Ibnu Majah dari Tsauban meriwayatkan,
aku mendengar Rasulullah bersabda,”Sungguh
aku melihat sekelompok orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala yang
menyerupai gunung Tihamah Bidh, namun Allah menjadikan semuanya seperti debu
yang beterbangan.”
Ampuni kedua mata saya ini Rabb.
Rawalumbu, 22 Mei 2008


Comments