« Emanasi | Main | Apresiasi II »

Sunday, June 08, 2008

Antara Modernisasi, Milisi, dan Tifosi

Baiklah catatan sosial saya minggu ini memantau 3 (tiga) kejadian yang mengutip Ir. Kosasih, bisa menjadi pembelajaran. Mari kita simak bersama:

 

Modernisasi Suap-suapan : Reformasi Birokrasi Tak Berkesudahan

             
(klo suap-suapan ala penganten baru sih oke-oke saja. Lha ini :P)


Headline Koran Tempo 3 Juni 2008:

            4 Pejabat Bea Cukai Ditahan KPK. Uang Suap 14 juta Disembunyikan Dalam Kaus Kaki.   Langsung saja saya mengirimkan sms ini pada kawan saya, Bang A, auditor KPU-BC :

 

Saya :   “Aslm. Pakabar bro. Kantor ente masuk koran tuh. Gak ikut kegaruk KPK?”

Bang A : “Wslm. Slama msh istiqomah insya Allah aman. Kyk awal2 pajak dl lah banyak yg k tangkep. Hehe” (sms versi asli tidak ada editing)

Saya : “duit 500jt banyak bener bro. mana ada yang diumpetin di kaos kaki lagi. duit siapa tuh?”

Bang A : “tau tuh kagak bagi-bagi sih. Jadinya ketangkep deh. Hehe. Canda dink bro. Btw, kapan nikah?”

  ……..

(mohon maaf sampai disini pembicaraan terpaksa disensor. Berhubung sudah tidak relevan dengan topik yang dibahas :P)

 

Saya pikir reformasi birokrasi sudah bagus entry pointnya.

Rumus kimianya : Remunerasi + sanksi Administrasi = UU Tipikor + Rutan Pondok Bambu.

Modernisasi administrasi tidak bisa diterapkan setambun-tambun bagi 2 juta PNS di republik ini. Pelan-pelan tapi pasti. Pionir empat instansi itu sebetulnya sudah cukup baik : MA, BPK, Kementerian PAN, dan Depkeu. Reformasi birokrasi itu mudahnya, pertama mengubah sistem. Kedua mengubah orang. Perkara orang itu tidak mau berubah-ubah juga, tinggal gebuk saja. Susah-susah amat.

 

Bekukan Organisasi FPI : Buntut Insiden Monas 1 Juni 2008

Saya sebenarnya suka sop buntut.

Tapi kalo “buntut” yang satu ini sih tidak ada nikmatnya sama sekali. Selain membuntuti kecurigaan saya kalau insiden ini, mengutip Mitch Pilleggi, penuh konspirasi. Saya tidak mencoba terjebak dalam wacana primordialisme agama atau apapun juga. Sederhana kalau menurut bahasa ekonomi : teori permintaan penawaran. Yang lebih disilogismekannya lagi dalam bahasa khas Slankers : UUD = Ujung-Ujungnya Duit. Silakan anda bayangkan ada 60 organisasi massa cair. Berkumpul dalam satu aliansi. Memperjuangkan secara “murni” aspirasi sebuah aliran (yang konon di negeri asalnya sana saja sudah dilarang). Kalau saya sih, tidak mau diajak demo model begini. Kecuali kalau di akhir sesi demo, saya diajak makan sop buntut. Atau minimal diberi mentahnya :P (see the paterns?)

 

Euro 2008 : Let’s The Show Begin!

Daripada pusing mikirin “suap-suapan” gak jelas. Atau “sop buntut” utangan negeri asing (red. barat). Mending juga fokus agenda cukup penting satu ini. Minimal pasang weker biar waktu-waktu sholat malem bisa lebih teratur. Setuju?

 

 

Euro

Penjaringan, 5 Juni 2008

Yang juga sedang mempersiapkan agenda penting lain.

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31