Antara Modernisasi, Milisi, dan Tifosi
Baiklah catatan sosial saya minggu ini memantau 3
(tiga) kejadian yang mengutip Ir. Kosasih, bisa menjadi pembelajaran. Mari kita
simak bersama:
Modernisasi Suap-suapan
: Reformasi Birokrasi Tak Berkesudahan
(klo suap-suapan ala penganten baru sih oke-oke saja. Lha ini :P)
Headline Koran
Tempo 3 Juni 2008:
4 Pejabat Bea
Cukai Ditahan KPK. Uang Suap 14 juta Disembunyikan Dalam Kaus Kaki. Langsung
saja saya mengirimkan sms ini pada kawan saya, Bang A, auditor KPU-BC :
Saya : “Aslm. Pakabar bro. Kantor ente masuk
koran tuh. Gak ikut kegaruk KPK?”
Bang A : “Wslm. Slama msh istiqomah insya Allah aman. Kyk awal2 pajak dl
lah banyak yg k tangkep. Hehe” (sms versi asli tidak ada editing)
Saya : “duit 500jt
banyak bener bro. mana ada yang diumpetin di kaos kaki lagi. duit siapa tuh?”
Bang A : “tau tuh
kagak bagi-bagi sih. Jadinya ketangkep deh. Hehe. Canda dink bro. Btw, kapan
nikah?”
……..
(mohon maaf sampai disini pembicaraan terpaksa
disensor. Berhubung sudah tidak relevan dengan topik yang dibahas :P)
Saya pikir reformasi
birokrasi sudah bagus entry pointnya.
Rumus kimianya : Remunerasi + sanksi Administrasi = UU
Tipikor + Rutan Pondok Bambu.
Modernisasi administrasi tidak bisa diterapkan setambun-tambun
bagi 2 juta PNS di republik ini. Pelan-pelan tapi pasti. Pionir empat
instansi itu sebetulnya sudah cukup baik : MA, BPK, Kementerian PAN, dan
Depkeu. Reformasi birokrasi itu mudahnya, pertama mengubah sistem. Kedua mengubah orang. Perkara orang itu tidak mau berubah-ubah juga,
tinggal gebuk saja. Susah-susah amat.
Bekukan Organisasi FPI : Buntut Insiden Monas 1 Juni
2008
Saya sebenarnya
suka sop buntut.
Tapi kalo “buntut”
yang satu ini sih tidak ada nikmatnya sama sekali. Selain membuntuti kecurigaan
saya kalau insiden ini, mengutip Mitch Pilleggi, penuh konspirasi. Saya tidak mencoba terjebak dalam wacana
primordialisme agama atau apapun juga. Sederhana kalau menurut bahasa ekonomi :
teori permintaan penawaran. Yang lebih disilogismekannya lagi dalam bahasa khas
Slankers : UUD = Ujung-Ujungnya Duit. Silakan anda bayangkan ada 60 organisasi
massa cair. Berkumpul dalam satu aliansi. Memperjuangkan secara “murni”
aspirasi sebuah aliran (yang konon di negeri asalnya sana saja sudah dilarang).
Kalau saya sih, tidak mau diajak demo model begini. Kecuali kalau di akhir sesi
demo, saya diajak makan sop buntut. Atau minimal diberi mentahnya :P (see the
paterns?)
Euro 2008 : Let’s The Show Begin!
Daripada pusing
mikirin “suap-suapan” gak jelas. Atau “sop buntut” utangan negeri asing (red.
barat). Mending juga fokus agenda cukup penting satu ini. Minimal pasang weker
biar waktu-waktu sholat malem bisa lebih teratur. Setuju?
Penjaringan, 5
Juni 2008
Yang juga sedang
mempersiapkan agenda penting lain.


Comments