« Grafiti | Main | Eksistensi »

Sunday, June 29, 2008

Ekspektasi


 

Apa yang terjadi jika anda berharap mendapat nilai 8 dalam ujian akhir semester, ternyata nyatanya hanya mendapat 7. tentu anda sedikit kecewa. Namun bagaimana jika anda berharap mendapat nilai 6, tetapi justru kenyataannya anda mendapat 6,5? Mungkin anda akan sedikit terhibur. Ini disebut ekspektasi.

 

Kata orang-orang tua, tidak terlalu baik meng-ekspektasi kehidupan ini lebih dari yang kita harapkan. Takutnya kalau tidak tercapai, malah kecewa. Sama halnya dengan pernikahan. Menarik kritisi yang dilayangkan kepada seorang penulis muda Salim A. Fillah. Jadi si penulis ini konon pernah dikomentari oleh seorang ikhwah senior bahwa tulisan-tulisannya, “begitu melangit dan kurang berpijak ke bumi. Endah-endah melulu dah pokoknya perkawinan itu.” Padahal tidak demikian, boleh jadi pernikahan itu lebih banyak tidak indahnya ketimbang indahnya. (halah, sotoy banget kayak yang udah tau aja. hehe)

 

Menjadi akuntan, menurut saya berarti wajib mematri sebuah teori akuntansi dalam hati kita : konservatisme. Yang lebih disederhanakan menjadi “pesimisme”. Menurut PSAK yang dikeluarkan IAI, akuntansi harus bergerak dalam diagram dimana kemungkinan terburuk dari suatu kondisi, lebih didahulukan ketimbang kemungkinan terbaik. Inilah konservatisme. 

 

Ekspektasi berarti juga mengukur orang lain menggunakan parameter kita. Dan repotnya jadi murid Horngren, Fess dan Warren, hasilnya ya pasti itu : konservatisme tadi. See the patterns?

 

Maka beruntunglah kita menjadi muslim.

Ternyata, pandangan manusia sama sekali tidak berpengaruh terhadap eksistensi kita di hadapan Allah. Boleh jadi kita mulia didepan manusia tetapi hina di depan Allah, dan bisa jadi kita hina di dunia tetapi mulia di hadapanNya. Tidak ada ceritanya seorang Hudzaifah al Yamani menundukkan kepala didepan Najasyi. Ketika para pemuka agama lain, memberi penghormatan pada raja Habsyi itu dengan membungkuk. Sampai kapanpun seorang muslim punya izzah.

 

Namun marilah kita selami sebuah kisah lain tentang ekspektasi.

Adalah Hassan al Bashri ra, seorang hufazh mahsyur dari Baghdad yang menghafal ratusan ribu matan dan sanad hadits, ia mengeluh merasa rendah diri. Ia meng-underestimate dirinya dengan berkata : “Duhai, andai seluruh kehidupanku, bisa menyamai satu jam dari kehidupan Abdullah Ibnu Mubarok.”

 

Simak pula ratapan seorang lelaki mulia Umar bin Abdul Aziz yang selama 2 tahun 5 bulan periode pemerintahannya mampu menggelar kejayaan dan kemakmuran ala Khulafaur Rasyidin. Menjelang kematiannya, ia melihat keluar jendela dan menangis di depan istrinya, :”Celakalah aku! Andai saja saat ini aku hanya seorang tukang sapu di bawah sana"

 

Atau pengakuan paling mengharukan Abu Bakar as Shidiq ra. Sosok manusia yang kata Nabi saw, “jika iman seluruh umat manusia (termasuk iman Umar, Utsman, Ali dan seluruh nabi lainnya) dilletakkan disatu timbangan dan iman Abu Bakar diletakkan di sisi satunya lagi, niscaya iman Abu Bakar lebih berat”. Ayahanda Aisyah rha itu justru berkata, “Lihatlah burung itu. ia bebas terbang mencari makan dan minum, tanpa perlu ada hisab dan siksa kelak. Andai saja aku hanya seekor burung!”   

 

Inilah ekspektasi.

 

Penjaringan, 30 Juni 2008

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31