Ekspektasi
Apa
yang terjadi jika anda berharap mendapat nilai 8 dalam ujian akhir semester,
ternyata nyatanya hanya mendapat 7. tentu anda sedikit kecewa. Namun bagaimana
jika anda berharap mendapat nilai 6, tetapi justru kenyataannya anda mendapat 6,5?
Mungkin anda akan sedikit terhibur.
Ini disebut ekspektasi.
Kata orang-orang tua, tidak terlalu baik
meng-ekspektasi kehidupan ini lebih dari yang kita harapkan. Takutnya kalau
tidak tercapai, malah kecewa. Sama halnya dengan pernikahan. Menarik kritisi yang
dilayangkan kepada seorang penulis muda Salim A. Fillah. Jadi si penulis ini
konon pernah dikomentari oleh seorang ikhwah senior bahwa tulisan-tulisannya,
“begitu melangit dan kurang berpijak ke bumi. Endah-endah melulu dah pokoknya perkawinan
itu.” Padahal tidak demikian, boleh jadi pernikahan itu lebih banyak tidak
indahnya ketimbang indahnya. (halah, sotoy banget kayak yang udah tau aja. hehe)
Menjadi akuntan, menurut saya berarti
wajib mematri sebuah teori akuntansi dalam hati kita : konservatisme. Yang
lebih disederhanakan menjadi “pesimisme”. Menurut PSAK yang dikeluarkan IAI,
akuntansi harus bergerak dalam diagram dimana kemungkinan terburuk dari suatu
kondisi, lebih didahulukan ketimbang kemungkinan terbaik. Inilah konservatisme.
Ekspektasi berarti juga mengukur orang
lain menggunakan parameter kita. Dan repotnya jadi murid Horngren, Fess dan
Warren, hasilnya ya pasti itu : konservatisme tadi. See the patterns?
Maka beruntunglah kita menjadi muslim.
Ternyata, pandangan manusia sama sekali
tidak berpengaruh terhadap eksistensi kita di hadapan Allah. Boleh jadi kita
mulia didepan manusia tetapi hina di depan Allah, dan bisa jadi kita hina di
dunia tetapi mulia di hadapanNya. Tidak ada ceritanya seorang Hudzaifah al
Yamani menundukkan kepala didepan Najasyi. Ketika para pemuka agama lain,
memberi penghormatan pada raja Habsyi itu dengan membungkuk. Sampai kapanpun
seorang muslim punya izzah.
Namun marilah kita selami sebuah kisah
lain tentang ekspektasi.
Adalah Hassan al Bashri ra, seorang hufazh
mahsyur dari Baghdad yang menghafal ratusan ribu matan dan sanad hadits, ia mengeluh
merasa rendah diri. Ia meng-underestimate dirinya dengan berkata :
“Duhai, andai seluruh kehidupanku, bisa menyamai satu jam dari kehidupan
Abdullah Ibnu Mubarok.”
Simak
pula ratapan seorang lelaki mulia Umar bin Abdul Aziz yang selama 2 tahun 5
bulan periode pemerintahannya mampu menggelar kejayaan dan kemakmuran ala
Khulafaur Rasyidin. Menjelang kematiannya, ia melihat keluar jendela dan
menangis di depan istrinya, :”Celakalah aku! Andai saja saat ini aku hanya
seorang tukang sapu di bawah sana"
Atau
pengakuan paling mengharukan Abu Bakar as Shidiq ra. Sosok manusia yang kata
Nabi saw, “jika iman seluruh umat manusia (termasuk iman Umar, Utsman, Ali dan seluruh
nabi lainnya) dilletakkan disatu timbangan dan iman Abu Bakar diletakkan di
sisi satunya lagi, niscaya iman Abu Bakar lebih berat”. Ayahanda Aisyah rha itu
justru berkata, “Lihatlah burung itu. ia bebas terbang mencari makan dan minum,
tanpa perlu ada hisab dan siksa kelak. Andai saja aku hanya seekor burung!”
Inilah
ekspektasi.
Penjaringan,
30 Juni 2008


Recent Comments