« May 2008 | Main | July 2008 »

Sunday, June 29, 2008

Ekspektasi


 

Apa yang terjadi jika anda berharap mendapat nilai 8 dalam ujian akhir semester, ternyata nyatanya hanya mendapat 7. tentu anda sedikit kecewa. Namun bagaimana jika anda berharap mendapat nilai 6, tetapi justru kenyataannya anda mendapat 6,5? Mungkin anda akan sedikit terhibur. Ini disebut ekspektasi.

 

Kata orang-orang tua, tidak terlalu baik meng-ekspektasi kehidupan ini lebih dari yang kita harapkan. Takutnya kalau tidak tercapai, malah kecewa. Sama halnya dengan pernikahan. Menarik kritisi yang dilayangkan kepada seorang penulis muda Salim A. Fillah. Jadi si penulis ini konon pernah dikomentari oleh seorang ikhwah senior bahwa tulisan-tulisannya, “begitu melangit dan kurang berpijak ke bumi. Endah-endah melulu dah pokoknya perkawinan itu.” Padahal tidak demikian, boleh jadi pernikahan itu lebih banyak tidak indahnya ketimbang indahnya. (halah, sotoy banget kayak yang udah tau aja. hehe)

 

Menjadi akuntan, menurut saya berarti wajib mematri sebuah teori akuntansi dalam hati kita : konservatisme. Yang lebih disederhanakan menjadi “pesimisme”. Menurut PSAK yang dikeluarkan IAI, akuntansi harus bergerak dalam diagram dimana kemungkinan terburuk dari suatu kondisi, lebih didahulukan ketimbang kemungkinan terbaik. Inilah konservatisme. 

 

Ekspektasi berarti juga mengukur orang lain menggunakan parameter kita. Dan repotnya jadi murid Horngren, Fess dan Warren, hasilnya ya pasti itu : konservatisme tadi. See the patterns?

 

Maka beruntunglah kita menjadi muslim.

Ternyata, pandangan manusia sama sekali tidak berpengaruh terhadap eksistensi kita di hadapan Allah. Boleh jadi kita mulia didepan manusia tetapi hina di depan Allah, dan bisa jadi kita hina di dunia tetapi mulia di hadapanNya. Tidak ada ceritanya seorang Hudzaifah al Yamani menundukkan kepala didepan Najasyi. Ketika para pemuka agama lain, memberi penghormatan pada raja Habsyi itu dengan membungkuk. Sampai kapanpun seorang muslim punya izzah.

 

Namun marilah kita selami sebuah kisah lain tentang ekspektasi.

Adalah Hassan al Bashri ra, seorang hufazh mahsyur dari Baghdad yang menghafal ratusan ribu matan dan sanad hadits, ia mengeluh merasa rendah diri. Ia meng-underestimate dirinya dengan berkata : “Duhai, andai seluruh kehidupanku, bisa menyamai satu jam dari kehidupan Abdullah Ibnu Mubarok.”

 

Simak pula ratapan seorang lelaki mulia Umar bin Abdul Aziz yang selama 2 tahun 5 bulan periode pemerintahannya mampu menggelar kejayaan dan kemakmuran ala Khulafaur Rasyidin. Menjelang kematiannya, ia melihat keluar jendela dan menangis di depan istrinya, :”Celakalah aku! Andai saja saat ini aku hanya seorang tukang sapu di bawah sana"

 

Atau pengakuan paling mengharukan Abu Bakar as Shidiq ra. Sosok manusia yang kata Nabi saw, “jika iman seluruh umat manusia (termasuk iman Umar, Utsman, Ali dan seluruh nabi lainnya) dilletakkan disatu timbangan dan iman Abu Bakar diletakkan di sisi satunya lagi, niscaya iman Abu Bakar lebih berat”. Ayahanda Aisyah rha itu justru berkata, “Lihatlah burung itu. ia bebas terbang mencari makan dan minum, tanpa perlu ada hisab dan siksa kelak. Andai saja aku hanya seekor burung!”   

 

Inilah ekspektasi.

 

Penjaringan, 30 Juni 2008

                            

Tuesday, June 24, 2008

Grafiti


kota cahaya, dengan kerlip indah dari angkasa. selalu menyita banyak tarikan nafas, dengan belalak mata yang enggan berkedip. dan saat kaki menjejak tanah, saya tau kota itu menyambut saya ramah dengan segala senyumnya. semakin dalam langkah menyeruak ditemani penasaran, saya tau akan lebih banyak lagi yang bisa saya temukan. dan kemudian menciptakan kepuasan dalam benak.


sekali, saya jatuh cinta. berkalikali, pada bangku taman yang sama, di tepi trotoar depan sebuah gedung wakil rakyat yang masih sama, di sebuah kota yang jauh. berkalikali. terlebih saat bangku itu terisi oleh saya dan dirinya. di bawah temaram cahaya lampu taman yang seadanya. dalam rintik lembut. riuh lalulalang orang tak saya pedulikan, dan saya membiarkan diri ini tenggelam dalam perasaan jatuh cinta. sekali lagi. dan selalu. setiap saat saya kembali ke kota itu, meski dalam waktu yang tak pernah lama.


kemarin, dalam sebuah perjalanan sehari, lagilagi saya jatuh cinta pada sebuah kota cahaya. dengan pendar siang harinya yang menuai kagum. pada sebuah pelabuhan udara tepi laut. dengan jalanjalan panjang, yang terkadang terasa jauh tapi tidak nyatanya. pada bahasa yang untuk pertama kalinya saya dengar. pada pohonpohon tak bernama yang berbaris rapi dengan dedaunan bergaris mungil yang bergesekan lembut ketika ditepuk angin. teduh. membuai saya dalam angan. kemudian menuntun saya membisikkan satu lagi janji temu dengan sebuah kota.


untuk kota cahaya, dimana rasa meluruh bersama waktu, dan mengikat mimpimimpi saya dalam ceritanya, saya akan kembali. entah kapan. tapi saya akan kembali.

Kutipan dari eva melukis pelangi

Apresiasi II

beribu salam bagimu ya ukhti…

yang dengannya semakin indah taman surga ini

beribu pesona terpancar dari sanubari

seperti cinta yang menebar mewangi  

siapa bilang jadi akhwat itu menyebalkan?

siapa bilang engkau harus kehilangan jati diri?

karena tiap desah nafasmu

engkau gerakkan cita-cita tertinggi

entah engkau lembut, cergas, tomboy,

bahkan super cuek sekalipun

detakmu itu akan selalu sama

mengalirkan darah cinta para Nabi dan syuhada


(didedikasikan buat seluruh akhwat di muka bumi ini)

Sunday, June 08, 2008

Antara Modernisasi, Milisi, dan Tifosi

Baiklah catatan sosial saya minggu ini memantau 3 (tiga) kejadian yang mengutip Ir. Kosasih, bisa menjadi pembelajaran. Mari kita simak bersama:

 

Modernisasi Suap-suapan : Reformasi Birokrasi Tak Berkesudahan

             
(klo suap-suapan ala penganten baru sih oke-oke saja. Lha ini :P)


Headline Koran Tempo 3 Juni 2008:

            4 Pejabat Bea Cukai Ditahan KPK. Uang Suap 14 juta Disembunyikan Dalam Kaus Kaki.   Langsung saja saya mengirimkan sms ini pada kawan saya, Bang A, auditor KPU-BC :

 

Saya :   “Aslm. Pakabar bro. Kantor ente masuk koran tuh. Gak ikut kegaruk KPK?”

Bang A : “Wslm. Slama msh istiqomah insya Allah aman. Kyk awal2 pajak dl lah banyak yg k tangkep. Hehe” (sms versi asli tidak ada editing)

Saya : “duit 500jt banyak bener bro. mana ada yang diumpetin di kaos kaki lagi. duit siapa tuh?”

Bang A : “tau tuh kagak bagi-bagi sih. Jadinya ketangkep deh. Hehe. Canda dink bro. Btw, kapan nikah?”

  ……..

(mohon maaf sampai disini pembicaraan terpaksa disensor. Berhubung sudah tidak relevan dengan topik yang dibahas :P)

 

Saya pikir reformasi birokrasi sudah bagus entry pointnya.

Rumus kimianya : Remunerasi + sanksi Administrasi = UU Tipikor + Rutan Pondok Bambu.

Modernisasi administrasi tidak bisa diterapkan setambun-tambun bagi 2 juta PNS di republik ini. Pelan-pelan tapi pasti. Pionir empat instansi itu sebetulnya sudah cukup baik : MA, BPK, Kementerian PAN, dan Depkeu. Reformasi birokrasi itu mudahnya, pertama mengubah sistem. Kedua mengubah orang. Perkara orang itu tidak mau berubah-ubah juga, tinggal gebuk saja. Susah-susah amat.

 

Bekukan Organisasi FPI : Buntut Insiden Monas 1 Juni 2008

Saya sebenarnya suka sop buntut.

Tapi kalo “buntut” yang satu ini sih tidak ada nikmatnya sama sekali. Selain membuntuti kecurigaan saya kalau insiden ini, mengutip Mitch Pilleggi, penuh konspirasi. Saya tidak mencoba terjebak dalam wacana primordialisme agama atau apapun juga. Sederhana kalau menurut bahasa ekonomi : teori permintaan penawaran. Yang lebih disilogismekannya lagi dalam bahasa khas Slankers : UUD = Ujung-Ujungnya Duit. Silakan anda bayangkan ada 60 organisasi massa cair. Berkumpul dalam satu aliansi. Memperjuangkan secara “murni” aspirasi sebuah aliran (yang konon di negeri asalnya sana saja sudah dilarang). Kalau saya sih, tidak mau diajak demo model begini. Kecuali kalau di akhir sesi demo, saya diajak makan sop buntut. Atau minimal diberi mentahnya :P (see the paterns?)

 

Euro 2008 : Let’s The Show Begin!

Daripada pusing mikirin “suap-suapan” gak jelas. Atau “sop buntut” utangan negeri asing (red. barat). Mending juga fokus agenda cukup penting satu ini. Minimal pasang weker biar waktu-waktu sholat malem bisa lebih teratur. Setuju?

 

 

Euro

Penjaringan, 5 Juni 2008

Yang juga sedang mempersiapkan agenda penting lain.

Emanasi

 

selain keindahanmu, tak ada persinggahan bagi ini mata
kau serupa pengakuan orang tentang indahnya permata
kupendarkan pandangan mataku
mengikuti pandangan matamu
kuikuti dirimu selalu
seumpama manis mengikuti madu

(Ibnu Hazm al Andalusi fii Kitabi Thauq Al Hamaamah)

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31