Wednesday, July 23, 2008

Ironi


Bogor, Pekarangan rumah dr. Fardinand Rabain

 

Ada ironi ketika saya harus duduk melakukan pekerjaan bodoh ini.

Empat belas tahun lalu saat masih kecil, saya pernah punya teori bahwa pekerjaan paling bodoh yang pernah dilakukan umat manusia ada 3 (tiga) macam : pertama, main bola, kedua, naik gunung, dan ketiga, memancing.

 

Pertama, apa sih tujuannya 22 orang berlari mati-matian, berebut sebuah bola bundar di tengah lapangan, sampai seperti mau bunuh-bunuhan begitu? Kenapa mereka tidak dikasih bola saja satu-satu. Biar tidak berantem lagi. Itu protes keras saya sambil tersedu lantaran ayah, paman, dan kakak-kakak sepupu tidak bisa diganggu gugat saat nonton Piala Dunia 1994, Brasil vs Italia di tivi. Sementara saya mesti kehilangan kesempatan liat aksi jagoan Airwolf : Stringfellow Hawk.

 

Kedua, untuk apa pula seseorang harus naik ke puncak gunung, kalau nanti dia harus turun lagi? Lagipula, kenapa juga harus mendaki? bukankah banyak medan tempuh lain yang relatif cukup datar. Pantai misalnya. Kurang kerjaan amat sih.

 

Dan Ketiga, ngapain juga orang melakukan perbuatan sia-sia. Duduk sepanjang hari di pinggir kolam. Berjam-jam menunggu. Berharap sesuatu yang tak pasti (red. Ikan maksudnya). Kenapa dia tidak pergi saja ke pasar, mengeluarkan selembar dua puluhribuan, membeli ikan lalu menggorengnya. Bukankah itu terdengar lebih mudah? Sekali lagi, teori ini hanya ada di benak seorang anak kecil usia 12 tahun.

 

Dan mungkin ini juga yang ada dalam pikiran para aktivis mahasiswa eksponen ‘98 beberapa jam setelah Soeharto jatuh. Ini idealisme bung! Berdiri di luar kekuasaan berarti menciptakan garis demarkasi antara idealisme dan non-idealisme. Pemerintah adalah pengejawantahan absurdisme. Bahkan kalau harus menjadi guru SD, para eksponen 98 pasti memberi nilai raport merah buat pemerintah saat itu.

 

Maka, kalau 10 tahun kemudian Anas Urbaningrum sudah jadi politisi Partai Demokrat, Rama Pratama sudah jadi aleg PKS, Budiman Sudjatmiko mantap di PDIP itu sudah lain perkara. Siapapun boleh berubah pendapat bukan? Konsistensi disini bukanlah definisi Abu Nawas yang suatu hari pernah ditanya Harun Al-Rasyid, “Berapa umurmu wahai Abu Nawas?” Jawabnya,“ 45 tahun paduka”. Dua tahun kemudian Sang Khalifah bertanya hal yang sama, ia tetap menjawab “45 tahun paduka” Khalifah bertanya lagi “Lho koq sama dengan dua tahun lalu?” Abu Nawas hanya berkata, “Saya konsisten, paduka.” 

 

Maka wajar saja kalau 12 tahun kemudian saya malah jadi “penggila” bola dan mencintai pegunungan. Manusia bisa berubah 180 derajat bukan. Tapi memancing…?

 

Rumah dr. Fardinand Rabain berlantai tiga. Punya dua buah kolam ikan. Rumah ini sering sekali dijadikan the-S Team tempat dauroh (semacem Achievement Motivation Training gitu). Selain sejuk karena dirimbuni pohon mangga di halaman depan, tempat tinggal dokter terapis narkoba yang ternyata (aktivis) beragama Islam ini, punya fasilitas lengkap. Mulai sound system, kamar tidur, ruang pertemuan dan,.. tempat memancing. Ah, lagi-lagi pekerjaan bodoh ini. Kenapa disini tidak ada perpustakaan saja ya? Dan saya masih menganggap memancing adalah hal sia-sia. Adakah buku yang bisa dibaca disini, tanya saya pada kang Aat. Dia juga lagi khusyuk memancing.

 

Hingga pada suatu waktu, di tengah purnama tujuhbelas, masih di rumah berlantai tiga ini, tepat pukul 22.07. Setelah merenungi hiruk pikuk kehidupan dalam sepi, menikmati riuh nyanyi jangkrik dan rinai bambu ditepuk angin, dan tentu saja sambil melakukan tindakan bodoh : memancing, setelah 15 menit, kail saya bergerak perlahan. Ada sensasi yang tak bisa terungkap dengan kata-kata saat saya menarik mata pancing itu. Benarkah ini ikan? Ikan mas? Atau jangan-jangan sepatu butut seperti di film Benyamin S. Seumur hidup saya belum pernah memancing dan malam itu saya menarik seekor ikan. Cukup besar. Jantung saya berdegup kencang.

 

 

Mungkin ini yang disebut filosofi dan nilai rasa.

Sebuah sensasi yang sulit sekali dijelaskan dengan aksara. Bahkan ketika kang Aat bercanda sambil mengatakan, “Welah, si bro dah bisa mancing ikan. Tinggal mancing akhwat nih.” Saya masih saja terdiam. Terpana melihat ikan itu.

 


Bogor, sebelum Ramadhan tahun 2007

                            

Tuesday, July 15, 2008

Eksistensi

Sukakah engkau, jika aku bertutur sebuah impian?

Tentang sebuah rumah kecil di kaki bukit.

Dan gemerisik pancuran bambu beralir sejuk berselimut embun.

Dan sebuah musholla sederhana ditengahnya.

 

Ada anak-anak kecil yang berlarian.

Berkejaran sipengerat wortel.

Tertawa terbahak-bahak.

Berjilbab imut dan lucu.

Gemas.

 

Ada patah-patah kata

Mengeja hija’iyyah

juga doa pada orang tua

 

Ada pertanyaan-pertanyaan dari lisan polos itu

Mengapa bintang itu bersinar terang Ayah ?

Mengapa siang di timur dan barat berlainan waktunya ?

Mengapa kurva waktu selalu diproteksi tertutup?

 

Juga tentang teriakanmu membahana : GOAL

Saat Zaenal Arief melesakkan bicycle kick

Dan membawa Persib Bandung

Menjuarai Liga Indonesia.

 

Ada sebuah langkah kecil yang kurindu

Saat kotak makan itu, tergenggam tangan kirinya

Sementara tangan kanannya, menghangatkan tanganku

Menuju sebuah SDIT Nurul Jannah

 

Ada peluk yang kudamba

Saat penat laporan kerja, dan ocehan para konsultan keuangan

Menghujani synaps-synaps di kepala

Terobati

Tatkala beban mungil 24 kilogram itu

Menggelayuti leherku

Sambil berceloteh hafalan Juz Ammanya.

 

Ada konsep yang harus kujelaskan

Saat mimpimu pertama kali

Juga permintaan nasehat pada Umi-mu

Tentang kehadiran ’si dia’

 

Ada tandatangan yang harus kububuhkan diatas raportmu :

Sambil kupandang senyum

Agama 9 Bahasa Indonesia 8 Matematika 9 PPKN 7 IPA 9 IPS 8

 

Ada marah padamu

Ketika engkau sibuk bermain dan melupakan Dzuhurmu

Juga kebohongan-kebohongan kecilmu

 

Ada ciuman yang mendarat di pipi

Juga buat mereka, serta ketulusan berujar :

Maafin Saya Ya Ayah,

Maafin Saya Ya Umi,

Maafin Saya Kakek, Nenek,

Janji deh gak nakal lagi

Dan sayup takbir berkumandang di Ied-Nya yang mulia

 

Dan, ada rasa bangga menyeruak

tatkala engkau menunjukkan

Selembar sertifikat beasiswa

Studi di Al Azhar, Cairo

 

Ada ketertegunan

Tatkala engkau bertutur tentang pertempuran pemikiran Islam

Dirimu melawan kaum rasionalis liberalis

Via email dan japri

Serta diskusi-diskusi hangat itu

 

 

Maka mata ini dipaksa berkaca-kaca

Saat dirimu meminta izin

Memutuskan bergabung dengan barisan kebenaran

Di Yerussalem

Seraya berujar : Susul aku, Ayah.

Pasti, mutiaraku, Insya Allah.


Maka melelehlah air kornea-ku

Tatkala sahabatmu mengisahkan tentangmu

Yang bertempur hebat laksana badai bergemuruh

Melawan kaum pengikut dajjal

Sebelum sebuah senyum terindah mengiringi sebutir peluru

Menembus dadamu yang kecil dan kurus

Dan butiran darah itupun menyentuh bumi,

 

Maka, Mutiaraku....

Aku merindukan syafaat Rasulullah atasku

karena kebajikanmu

Aku merindukan kemudahan melintasi titian ini

Karena doa-doamu di dunia

Aku merindukan kita berjumpa kembali dengan Umi, Kakek, Nenek, Bibi, Paman, dan Saudara-Saudara tercinta,

seraya berangkulan bersama

Menghadiri majelis mulia Para Nabi dan Syuhada

 

Serta memandang wajah-Nya

Di Jannah-Nya kelak

Setiap Pagi dan petang.

Kita.

Sejati.

Selamanya.

Insya Allah. Amien. Ya Robbal Alamien.

 

 

Rawalumbu, 12 Juli 2007

Sunday, June 29, 2008

Ekspektasi


 

Apa yang terjadi jika anda berharap mendapat nilai 8 dalam ujian akhir semester, ternyata nyatanya hanya mendapat 7. tentu anda sedikit kecewa. Namun bagaimana jika anda berharap mendapat nilai 6, tetapi justru kenyataannya anda mendapat 6,5? Mungkin anda akan sedikit terhibur. Ini disebut ekspektasi.

 

Kata orang-orang tua, tidak terlalu baik meng-ekspektasi kehidupan ini lebih dari yang kita harapkan. Takutnya kalau tidak tercapai, malah kecewa. Sama halnya dengan pernikahan. Menarik kritisi yang dilayangkan kepada seorang penulis muda Salim A. Fillah. Jadi si penulis ini konon pernah dikomentari oleh seorang ikhwah senior bahwa tulisan-tulisannya, “begitu melangit dan kurang berpijak ke bumi. Endah-endah melulu dah pokoknya perkawinan itu.” Padahal tidak demikian, boleh jadi pernikahan itu lebih banyak tidak indahnya ketimbang indahnya. (halah, sotoy banget kayak yang udah tau aja. hehe)

 

Menjadi akuntan, menurut saya berarti wajib mematri sebuah teori akuntansi dalam hati kita : konservatisme. Yang lebih disederhanakan menjadi “pesimisme”. Menurut PSAK yang dikeluarkan IAI, akuntansi harus bergerak dalam diagram dimana kemungkinan terburuk dari suatu kondisi, lebih didahulukan ketimbang kemungkinan terbaik. Inilah konservatisme. 

 

Ekspektasi berarti juga mengukur orang lain menggunakan parameter kita. Dan repotnya jadi murid Horngren, Fess dan Warren, hasilnya ya pasti itu : konservatisme tadi. See the patterns?

 

Maka beruntunglah kita menjadi muslim.

Ternyata, pandangan manusia sama sekali tidak berpengaruh terhadap eksistensi kita di hadapan Allah. Boleh jadi kita mulia didepan manusia tetapi hina di depan Allah, dan bisa jadi kita hina di dunia tetapi mulia di hadapanNya. Tidak ada ceritanya seorang Hudzaifah al Yamani menundukkan kepala didepan Najasyi. Ketika para pemuka agama lain, memberi penghormatan pada raja Habsyi itu dengan membungkuk. Sampai kapanpun seorang muslim punya izzah.

 

Namun marilah kita selami sebuah kisah lain tentang ekspektasi.

Adalah Hassan al Bashri ra, seorang hufazh mahsyur dari Baghdad yang menghafal ratusan ribu matan dan sanad hadits, ia mengeluh merasa rendah diri. Ia meng-underestimate dirinya dengan berkata : “Duhai, andai seluruh kehidupanku, bisa menyamai satu jam dari kehidupan Abdullah Ibnu Mubarok.”

 

Simak pula ratapan seorang lelaki mulia Umar bin Abdul Aziz yang selama 2 tahun 5 bulan periode pemerintahannya mampu menggelar kejayaan dan kemakmuran ala Khulafaur Rasyidin. Menjelang kematiannya, ia melihat keluar jendela dan menangis di depan istrinya, :”Celakalah aku! Andai saja saat ini aku hanya seorang tukang sapu di bawah sana"

 

Atau pengakuan paling mengharukan Abu Bakar as Shidiq ra. Sosok manusia yang kata Nabi saw, “jika iman seluruh umat manusia (termasuk iman Umar, Utsman, Ali dan seluruh nabi lainnya) dilletakkan disatu timbangan dan iman Abu Bakar diletakkan di sisi satunya lagi, niscaya iman Abu Bakar lebih berat”. Ayahanda Aisyah rha itu justru berkata, “Lihatlah burung itu. ia bebas terbang mencari makan dan minum, tanpa perlu ada hisab dan siksa kelak. Andai saja aku hanya seekor burung!”   

 

Inilah ekspektasi.

 

Penjaringan, 30 Juni 2008

Tuesday, June 24, 2008

Apresiasi II

beribu salam bagimu ya ukhti…

yang dengannya semakin indah taman surga ini

beribu pesona terpancar dari sanubari

seperti cinta yang menebar mewangi  

siapa bilang jadi akhwat itu menyebalkan?

siapa bilang engkau harus kehilangan jati diri?

karena tiap desah nafasmu

engkau gerakkan cita-cita tertinggi

entah engkau lembut, cergas, tomboy,

bahkan super cuek sekalipun

detakmu itu akan selalu sama

mengalirkan darah cinta para Nabi dan syuhada


(didedikasikan buat seluruh akhwat di muka bumi ini)

Monday, May 26, 2008

Lari

 
Oh angan… mungkinkah semalam saja

aku dapat tidur

di suatu lembah, dan rumput idkhir

serta teman di dekatku?

 

Mungkinkah sehari saja

aku mendatangi mata air mijannah

Mungkinkah Syamah dan Thafil

menampakkan diri padaku?

(Syair Bilal bin Rabbah kala rindu dengan tanah airnya tercinta : Mekkah)

 

Indonesia, 25 Mei 2008.

Kaos bola berlogo timnas seharga Rp25.000, beli di Senayan

dengan badge Garuda nan gagah di saku kirinya.

Sebuah celana training cokelat muda.

Sepasang sepatu kets


Pukul 06.30 sang surya mulai memperlihatkan keperkasaannya. Seolah menunjukkan bahwa tanpa dirinya fotosintesis tidak akan terjadi. Tanpa dirinya bunga cempaka tidak akan pernah tumbuh. Tanpa kehadirannya para sales marketing sunblock cream akan kehilangan pekerjaannya.

 

Di Rawalumbu, setiap ahad pagi begini banyak sekali orang yang berlari.

Masyarakat modern semakin sadar bahwa olahraga bisa mengurangi klaim asuransi kesehatan mereka. Dan hanya berlari yang modalnya paling murah meriah. Anda tidak perlu tongkat golf, atau raket tenis mahal. Anda juga tidak butuh peralatan fitness nan ribet itu. Cukup sepatu kets anda bisa berlari. Nyeker pun oke.

 

Dulu ritual lari pagi seperti ini tidak pernah absen dilakukan oleh tiga orang : Bang Okiy, Mas Andy, dan saya. Namun pekerjaannya sebagai drafter memaksa Bang Okiy begadang semalaman dan mulai meninggalkan momen kebersamaan ini. Mungkin beliau sedang berusaha “mempertahankan” berat badannya yang sudah ideal itu. Adapun, lelaki satunya lagi mas Andy, hmm, dia sudah punya teman berlari khusus sekarang.

 

Baiklah, saya sendiri sekarang.

Tidak apa-apa. Lumayan ngebakar-bakar kalori sedikit. Mencoba melepaskan diri dari jabatan ketua PONGR (Perhimpunan Orang Nyaris Gendut Rawalumbu).

 

Pagi itu saya ingin berlari. Sendirian.

Saya ingin berlari dari kehidupan.

Setelah sedikit peregangan. Klak. Klik. Kluk. Putar-putar leher. Goyang-goyang bahu dan tumit. Menghela nafas panjang, sayapun mulai berlari. Saya pernah noton film asing terbaik festival Cannes 1999, Children of Heaven, seorang anak kecil tampak sedang berlari. Ia rupanya berhutang sepatu pada adiknya. Ia harus memenangkan kontes lari ini. Harapannya, ia harus finis di posisi ketiga. Tapi rasa sayangnya pada sang adik tercinta memaksa ia mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya dalam berlari : agar ia finish di urutan ketiga. Si bocah justru memenangkan lomba itu di urutan pertama.

 

Dan sayapun terus berlari.

Dalam 500 meter pertama, tampak sepasang orang tua. Kira-kira 60-an usia mereka. Mereka juga sedang berlari. Mereka terlihat kompak. Entah sudah berapa ratus kali mereka menikmati momen kebersamaan ini : lari. Entah sudah berapa kali mereka saling mengusap peluh dalam kompetisi lari terpanjang dalam hidup mereka. Dalam suka maupun duka.

 

Dan sayapun terus berlari. Tetes keringat mulai mengaliri dahi saya.

Di sebelah kiri jalan, tampak empat orang gadis muda berusia 15 tahunan. Pakaian olahraga yang mereka kenakan menyadarkan bahwa saya tidak sedang berada di Mesir atau di Yordania sekarang. Saya menyalip mereka di tikungan.

 

Beberapa bulir air mulai membasahi pelipis dan ketiak saya. Tapi saya terus berlari.

Saya ingat bahwa sebelum mencapai keparipurnaan dalam prestasi sepakbolanya : Ryan Giggs, winger terbaik Eropa sepanjang masa, menunaikan tugas mulianya. Berlari. Menyayat sisi kiri pertahanan lawan. Tanpa lelah selama 16 tahun. Saya ingat bahwa kebodohan dapat dikalahkan dengan berlari. Seperti Forrest Gump yang mencetak prestasi dengan berlari sekencang-kencangnya.

 

Asam laktat menumpuk. Rasa lelah menyengat. Beban berat mulai terasa di kaki.

Jantung saya mulai berdebar kencang. Namun saya tetap berlari.

Saya ingat bahwa 1400 tahun yang lalu, dua manusia mulia itu-pun berlari. Aisyah berkata “Rasulullah sering mengajakku berlomba lari. Dulu ketika muda, aku selalu mengalahkannya. Namun ketika badanku mulai gemuk, Ia bisa mengalahkanku.”

 

Pepohonan mulai bergerak cepat. Saya sudah melintasi kantor kecamatan.

Telunjuk kaki kiri saya sudah mulai terasa panas.

Saat itu, dalam berlari saya melihat dua orang pemulung.

Mungkin ayah dan anak. Mengais-ais sampah. Mencari potongan rizki yang diberikan sang pencipta langit. Saya tidak tahu apakah segala instrumen omong kosong makroekonomi dapat menyelamatkan mereka. Supaya tidak harus lari dari kenyataan, bahwa satu-satunya cara hidup di negeri ini, adalah lari dari kehidupan itu sendiri? Menyerahkan kehormatan dan harga diri mereka pada syetan yang terkutuk demi selembar-dua lembar kupon BLT senilai Rp100.000? Atau memilih menjadi perampok dan penjahat demi sepiring nasi?

 

Tidak, mereka jauh lebih mulia dari para pemulung berdasi itu.

Segelas-dua gelas aqua bekas terkonversi menjadi enam ribu perak dari pagi hingga sore, tidak serta merta menjadikan mereka hina. Justru Raqib as akan mencatat peluh mereka, yang telah berjalan ribuan kilometer demi sesuap makanan halal, menjadi amal kebaikan. Saya mulai gerimis.

 

Tapi saya terus berlari. Meski kaki terasa sangat berat. Meski mata mulai terasa perih.

Meski rasa lelah mulai menghujam sendi-sendi metatarsal dan ligamen, saya harus terus berlari.


Saya ingat dulu, 26 tahun yang lalu, ada seorang wanita yang jauh lebih lelah dari yang saya rasakan saat ini. Ia pun berlomba dalam keringat dan rasa pedih yang menyayat. Berpacu waktu. Bertaruh nyawa. Agar saya bisa berlari pagi ini.


Maka sayapun terus berlari.

Melarikan diri dari kehidupan.

Sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya.

Saya tidak tahu apakah kelak saya akan berlari secepat ini di shirat-Nya kelak. Nabi berkata bahwa di atas titian di hari kiamat nanti, ada orang yang akan melintasi shirat laksana kilat, ada yang melintasinya sambil berlari dan ada yang berjalan dengan mempergunakan wajahnya. Sahabat terkejut, “bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan dengan wajahnya?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menjadikan manusia bisa berjalan dengan kakinya. Pasti bisa juga menjadikan manusia berjalan dengan wajahnya.” Tiba tiba mata saya mulai basah.

 

Allah berfirman dalam Al Qur’an, katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja."

 

Sungguh saya lelah karena berlari.

Tetapi, saya harus berlari. Karena diam itu mati. Karena jumud itu tergilas. Lihatlah kejayaan Al Hambra yang hancur lebur dalam kehinaan karena umat Islam berhenti berlari. Berhenti berputar. Berhenti menggunakan fungsi akalnya. Bahwa statis itu degradasi. Retardasi. Tercecer. Bahwa kita sudah benar-benar kalah dalam perlombaan ini. Habis. Terkoyak.

 

Lihatlah kota seribu satu malam Baghdad yang saat ini luluh lantak karena kepengecutan itu. Lari dari kenyataan bahwa Islam, sebenarnya dan sepantasnya layak memenangkan perlombaan ini. Bahwa kita (pernah) punya kemuliaan. Tetapi para pemimpin Arab lebih mengutamakan setetes dua tetes minyak, selembar cek anuit coeptis bernilai jutaan dollar. Ditandatangani iblis bermata satu. Serta menukar izzah ini dengan harga yang murah. Saya makin tersesak.

 

Sungguh saya harus terus berlari. Meski saya sudah tidak kuat lagi berlari.

Dulu, syaikh Ahmad pernah ditanya, “Ya syaikh, kapankah dakwah ini bisa beristirahat?” ia menjawab, “nanti jika kaki kita sudah menginjak syurga”

 

Saya tidak tahu sampai kapan saya kuat berlari.

Sungguh saya tidak tahu apakah saya akan mencapai garis finish, atau justru mati di tengah lintasan ini. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan menepi. Memperlambat lari saya. Berhenti, seraya mendengarkan tawaran-tawaran itu, “ayo, beristirahatlah. Jangan terburu-buru. Masa mudamu masih panjang. Hidupmu masih lama. Bersenang-senanglah bersama kami. Ayo, kemari,” Sungguh saya tidak kuat lagi berlari karena rasa lelah ini. Akankah ini jadi lari saya yang terakhir?

 

Namun tiba-tiba dalam berlari saya bermimpi, ada sebuah tangan yang menopang rapuhnya kaki saya. Mengusap peluh saya. Dalam mimpi saya melihat penuntun lintasan lari saya, yang mulai kabur tertutup air mata kepalsuan dan kemunafikan saya. Sebuah cahaya berwarna merah. Saya akan mengikuti cahaya itu.

 

Pukul 08.15 saya berhenti berlari.

Adik saya sudah menyiapkan segelas teh manis. Saya menghirupnya sambil menyadari bahwa ternyata sampai detik ini, saya belum berhasil menghitung nikmatNya. Setelah beristirahat, saya mandi. Kemudian mulai membaca.

 



Rawalumbu, Ahad 25 Mei 2008

Sehabis lari pagi.

Images

Thursday, May 22, 2008

Visualisasi

Sebenarnya meski kecil buku ini cukup bagus.

Saya mendapatkannya di Toko Buku Gunung Agung Bekasi seharga Rp13rebu perak. Mengisahkan 30 sahabat Nabi yang gugur dimedan perang. Waktu itu saya sedang asyik-asyiknya membaca adegan pertempuran Khubaib bin Adiy Al Anshoriy dengan kuda-kuda berbaju besinya, serta tertegun menyimak salah satu episode perang paling fenomenal dalam sejarah Islam : Perang Muktah.

 

Alkisah tiga sahabat utama : Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah hanya berpanjikan 25.000 orang mesti berhadapan dengan 200.000 tentara gabungan Syam dan Romawi pimpinan Heraklius. Gugurnya tiga pahlawan ini saya pikir lebih hebat daripada aksi kepahlawanan jagoan Skotlandia, William Wallace yang dibintangi Mel Gibson dalam Film Brave Heart.


Simak saja adegan heroik saat Ja'far yang tatkala di medan perang sudah 5 hari tidak makan. Siang itu, ia mendapatkan sekerat kecil daging panggang yang kelihatannya cukup nikmat untuk mengganjal perutnya yang memang sudah demikian payah itu. Baru saja ia memasukkan sekerat daging itu ke dalam mulutnya, datang kabar bahwa Zaid sudah gugur di  medan laga.


Serta merta Ja’far memuntahkan daging yang sudah ada di mulutnya itu seraya memaki dirinya sendiri : “Wahai, manusia celakalah engkau! Sahabatmu sudah meregang ruhnya membela kemuliaan agama Islam, sedangkan engkau malah enak-enak menikmati dunia”. Ia berlari mencabut pedangnya dan bertempur hingga gugur d medan Muktah.


Asli Kezuhudan dan kebersihan hati para jenderal mulia itu begitu menaikkan tensi darah saya. Wuih, jadi semangat buanget buat bikin aksi-aksi heroik. Pokoknya buku ini keren deh, sekonyong-konyong saya merinding, merasa Izzah keIslaman saya naik terus menerus kayak roller coaster. Sebelum tiba-tiba turun drastis menghantam bumi. Remuk. Redam. Nadir.


Dodol. Susah benar hidup di zaman seperti sekarang, ujar saya sambil istighfar. Gimana nggak, pagi itu saya lagi asyik-asyik baca buku perang gini di atas kereta Bekasi-Kota, Nah berhubung tidak kebagian korsi duduklah saya di atas selembar koran di pinggir pintu kereta. Sedang menyelami kezuhudan para pahlawan Islam lewat buku ini, tidak sadar di sebelah saya ada seorang wanita karier masih muda yang sialnya koq mengenakan rok mini seksi gitu sih. Maka pahala nambah-nambah tsaqofah Islamiyyah hapus sudah karena pemandangan betis-betis nan putih itu.

 

Astaghfirullah. Gusti. Maksud hati menaikkan nilai Dasa Dharma Pramuka nomor 1 : iman dan takwa kepada Tuhan YME. Nah yang ada malah pemandangan yang merusak ingatan dan hafalan. Saya pikir tingginya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual pada wanita tidak serta –merta dipicu mental serigala kaum lelaki, tapi kaum hawa-nya sendiri kadang-kadang suka men-stimulasi gitu sih. Yah, pria normal manapun pasti terpacu adrenalinnya disuguhi view seperti ini. Cappe deh.

 

Menjaga pandangan mata di zaman kini bukanlah perkara yang mudah.

Apalagi di kota-kota besar, setiap sudutnya bertaburan pemandangan tak sedap yang membuat hati-hati ini menjadi miris. Memang tak mudah menghindar, tapi bukan berarti kita menjadi sah melakukan perbuatan yang oleh Rasulullah digolongkan sebagai orang yang terkena panah-panah syetan ini. Coba renungkan potongan nasihat Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya ,“Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila mata dibiarkan memandang yang dibenci dan dilarang Allah maka pemiliknya berada ditepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh kedalam jurang”.


Hal ini juga digambarkan dengan gamblang oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauzy: “mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan juga pengikut. Mata memiliki kenikmatan pandangan sementara hati memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Namun ketika terpuruk dalam kesulitan keduanya akan saling mencela dan mencerai”.

 

Menarik jika kita menyimak dialog imajiner antara mata dan hati yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin. Dalam kitab tersebut antara hati dan mata saling menyalahkan. Hati berkata pada mata : …“Kaulah yang menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tidak sehat. Kau salahi firman Allah, Hendaknya mereka menahan pandangannya... Dan kau salahi sabda Rasulullah, Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan balasan iman dan akan mendapat kelezatan iman dalam hatinya”.(HR Ahmad)


Tak mau kalah, mata menjawab:

“Kau dzalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhori-Muslim)


Imam Ahmad dalam bab zuhud menceritakan, Abu Bakar r.a. bersama sahabat lainnya sedang memasuki perkebunan kurma di Madinah. Saat itu bunga kurma sedang bermekaran dan sebagian mulai berbuah. Sebuah pemandangan yang elok dan sangat menakjubkan. Sementara sahabat yang lain beristirahat, Abu Bakar duduk sambil menangis. Mereka bertanya,”Apa yang terjadi wahai amirul mukminin?”. Dengan mata yang masih sembab Abu Bakar menjawab,”Lihatlah burung itu, alangkah bahagianya. Ia hinggap dari satu pohon ke pohon yang lain dan makan dengan bebasnya. Ia mendatangi mata air dan minum dengan bebas pula, kemudian mati tanpa ada hisab dan siksa. Andaikan saja aku menjadi seekor burung?”.


Simak pula pada suatu hari, “'Umar, dalam sholat fajar membaca ayat: Faidzaa nuqira fin naaquur, "Apabila ditiup sangkakala," (QS. Al-Muddatstsir: 8) Seketika itu juga beliau menangis, tubuhnya tersungkur dan sakit beberapa hari hingga sahabat-sahabat lain datang menjenguknya. Ibnu Mas'ud juga tak jauh berbeda, ia selalu mengkaitkan apa yang ia lihat dengan kehidupan akhirat, pernah suatu ketika ia melihat alat peniup pandai besi sampai-sampai ia terjatuh. Pernah juga ketika ia menyaksikan para pandai besi, begitu menyaksikan besi yang terpanggang ia langsung menangis.


Ada banyak kisah yang tertoreh, seakan menjadi saksi atas perilaku mata orang-orang shalih. Kebeningan air mata mereka adalah mimpi saya pada hari ini.

Namun, perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain. Termasuk saya sendiri. Ibnu Majah dari Tsauban meriwayatkan, aku mendengar Rasulullah bersabda,”Sungguh aku melihat sekelompok orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala yang menyerupai gunung Tihamah Bidh, namun Allah menjadikan semuanya seperti debu yang beterbangan.”


Para sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, bukankah mereka orang-orang Islam?” Beliau menjawab,”Benar, mereka adalah orang-orang Islam. Mereka shalat sebagaimana kalian shalat, puasa sebagaimana kalian puasa, mereka juga menghidupkan malam-malam dengan dzikir dan shalat. Namun ketika mereka dalam kesunyian, mereka menerjang larangan-larangan Allah”. 

 

Ampuni kedua mata saya ini Rabb.

Rawalumbu, 22 Mei 2008

Kacamata

Sunday, May 11, 2008

Fragmentasi Memori

(Renungan seorang pria di pertengahan usia 26-nya)

 

Ikhwah juga pernah merasakan jatuh cinta.

Bila itu bisa disebut cinta. Pernah dilaluinya hari-hari indah bersama seseorang, karena kala itu kata ikhwah belum dikenal dalam kamus hidupnya. Belum terpikir untuk menikah, karena kebersamaan itu dilaluinya ketika SMA. Sebuah romansa, gita cinta dari SMA. Judul yang indah untuk sebuah hubungan yang tak indah. Tak indah karena lambat laun hati kecilnya mulai berteriak bahwa ini tak benar.

Ada yang salah dengan jalinan ini. Tapi dia tidak tahu apa.

Kegundahan itupun menjadi bias, terkikis perlahan oleh rasa yang syahdu. Tatapan matanya, canda tawa dan senyum yang selalu setia, seakan hanya itu yang bisa memuaskan hausnya akan dunia. Cukup di sini saja. Makna hidup jadi kabur. Hingga terperosoklah ia tanpa sadar dalam tipu daya.


Tapi nuraninya terus berteriak-teriak. Ada yang salah, dia tahu ada yang salah. Apalagi ketika dia mulai mengikuti kajian-kajian keislaman di kampusnya. Terlebih ketika mentoring demi mentoring mulai jadi kegiatan rutin. Aktivitas da'wah kampus mulai menyeretnya, dan halaqoh demi halaqoh jadi agenda utamanya. Sementara itu frekuensi pertemuannya dengan sang kekasih tercinta semakin menurun. Kemesraan tak semerbak dulu lagi. Karena hati telah berpaling pada yang lain.

Ada yang mengiris hatinya tiap kali sang kekasih bertanya kenapa? "Aku sedang jatuh cinta" jawabnya pada suatu ketika. Dan jawaban itu cukup membuat sang kekasih pergi. Meski ditahannya luka di hati, namun tak urung dimantapkannya diri memasuki dunia baru yang membuatnya telah memilih. Meski pilihan itu sulit...


Delapan tahun berlalu semenjak itu. Usia tarbiyahnya termasuk senior diantara teman-teman seangkatannya. Aktivitas dakwahnya sudah tak terbilang lagi saking banyaknya. Meski pekerjaan di kantor kadang menyita waktu dan pikiran, tapi tak jua dia melalaikan tugas yang diamanahkan. Ketika jalan cinta ini memanggil maka tak selayaknya dia lari, karena jalan inilah yang telah membuatnya jatuh cinta, yang telah membuatnya pernah memilih, meski pilihan itu sangat sulit....


Dia hanya melalaikan satu hal : hatinya.

Jarang dijaga hingga bisikan setan menyelusup, dan tiap kali ada tawaran menikah dari pembimbingnya ditolaknya dengan halus sambil berkata bahwa calon (yang akan dita’aruf) kurang putih, atau kurang tinggi (dalam hatinya menambahkan, “Tak seputih/ setinggi yang dulu”), kurang mapan, kurang ini kurang itu…

 

Saudaraku, apa yang kau cari? Apakah setiap bakal calon pasangan hidupmu kelak harus jadi bayangan kekasih terdahulu? Pantaskah ini jadi pemakluman atas sifat “kemanusiaan”mu yang cenderung “menyukai keindahan”? Atau hanyalah sebuah alasan agar luka yang membusuk di hatimu bisa terobati?


Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa beruntunglah lelaki yang memilih perempuan karena agamanya, begitu pula sebaliknya? Bukankah perkawinan karena ideologis sejatinya lebih langgeng dan “menguntungkan” daripada perkawinan karena “kesenangan sesaat”?

 

Sesaat karena engkau tahu bahwa kecantikan dan ketampanan fisik itu akan lekang dimakan waktu. Sesaat karena sebenarnya engkau sadar bahwa kecintaan timbul karena ada yang menautkan. Dan sebaik-baik pengikat hati adalah ketaatan dan kecintaan pada Allah. Lain tidak. Lalu kenapa harus terus mengikuti hawa nafsumu?


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. 2 : 216)”


Maka apakah kamu tidak berpikir? Kenapa harus berpijak di dua perahu?

Bila kelak kaudapatkan pendamping hidup sesuai selera, apakah akan menjamin kebahagiaanmu? Kemana hasil tarbiyahmu selama ini? Bila cintamu pada dunia (wanita) pada akhirnya akan melenakanmu, lalu kemana perginya semangat hijrah itu? Euphoria sesaat saja? Atau memang cintamu mulai luntur ditelan masa? Cinta tulus yang agung, yang membuatmu dulu sempat memilih, meski pilihan itu sangat sulit....


Haruskah kalah setelah memenangkan “pertarungan” sebelumnya?

Untuk direnungkan ketika Allah mengingatkan kita melalui QS. 38 : 31-33:

“ 31. (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore; 32. maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’; 33. ‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.”

 

Nilai seorang wanita atau pria tentulah tidak bisa disamakan dg harta, kuda tunggangan, materi, maupun kesenangan duniawi lainnya. Namun tentu bukan itu inti permasalahnnya. Bukan tentang besarnya nilai atau pentingnya arti dari pandangan manusia, tapi tentang sebesar apa usaha kita menutup celah agar musuh terbesar kita tidak bisa memasang perangkap dan menjerumuskan kita, sehalus apapun cara itu.

Dan hanya cinta yang bisa melakukan itu. Cinta suci yang menafikan keindahan fisik dan mengagungkan kebeningan hati. Cinta yang membuat kita berani memilih untuk selalu istiqomah di jalan ini, berani memilih, meski pilihan itu sangat sulit untuk dijalani....

 

Penjaringan, 12 Mei 2008

 

Maraji :

1. Al Qur’an

2. Renungan hati di sudut kantor

3. Da’wah sepanjang hayat.net/insan biasa.on intrablog.file

Mikirimages_2

Monday, April 28, 2008

Teleportasi


Stasiun Kereta Api Bekasi

Pagi ini kira-kira pukul 06.05 saya sampai di stasiun Bekasi.

Membolak-balik Koran ABC, beberapa headline berita tampak begitu biasa-biasa saja .

Contohnya :

JAKSA ENAM MILYAR TERTANGKAP TANGAN

(kayaknya dulu istilah yang dipakai tertangkap basah deh?);

TKW DIDEPORTASI MALAYSIA 

(mungkin balas dendam atas  deportasi asap kebakaran hutan kita ke negeri  mereka)

INKONSTITUSIONAL, KETUA PARTAI ABC DILENGSERKAN

(disyukuri saja pak, khan jadi punya banyak waktu buat ngemong anak istri di rumah)

SETAN MERAH (LAGI-LAGI) BUNGKAM PUBLIK ANFIELD

(Kang Ronaldo is the one!)

PEJABAT X : BUKAN-BUKAN SAYA YANG TEKEN!

(saya cuma terima bersihnya aja koq :P)

TEWAS KELAPARAN, IBU DAN BALITA MAKAN NASI AKING DI KABUPATEN XYZ

(astaghfirullaha adzim, Lurahnya bilang meninggal karena diare! )

 

Kalau ditumpuk dengan formasi vertikal, saya yakin problem negeri ini pasti sampai ke bulan saking banyaknya. Ah, bangsa yang carut marut. Namun, lebih carut-marut lagi orang seperti saya. Cuma bisa jadi pengamat dan pemerhati masalah sosial, dan berlagak so-sial.

 

15 meter sejurus mata memandang, di pojok stasiun, tampak ada kerumunan penumpang kereta api. Diantara mereka, tampak ada seorang lelaki yang sepertinya saya kenal. Saya agak lupa siapa dia, namun setelah mengingat-ingat, akhirnya saya mengenali lelaki agak gemuk berkacamata tebal itu.

 

Setelah berucap salam dan saling menggugurkan dosa melalui mekanisme jabat tangan erat, saya ikut nimbrung dan ikut mendengarkan obrolan lelaki itu dengan seorang tukang asongan. Kemudian datang pula seorang remaja penjual koran keliling, 4 urban pekerja dari Bekasi, dan seorang ibu-ibu karyawati usia 30-an. Kami berbincang tentang masalah sosial dan transportasi, khususnya seputar kereta api ekonomi. Saya sempat berkeluh tentang buruknya sistem transportasi di kota kita.

 

Anda pernah dengar kata “debus”?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “debus” atau “dabus” (banten)  adalah semacam pertunjukan kekebalan terhadap senjata tajam atau api dengan menyiksa diri, menusuk, menyayat, atau membakar tubuh. Saya kaget setengah mati, hampir melompat jantung ini keluar, saat menyaksikan pria gondrong didepan saya ini menusukkan besi tajam ke permukaan kulit lehernya. Masya Allah, otak saya yang sangat rasional ini berkata, pemuda bertampang sangar di depan saya ini pasti lagi kesakitan berat. Tapi tidak! Nyatanya, dia cengar-cengir aja tuh.


Gile beneer! Sakti-sakti dah orang Indonesia, Hebatnya lagi, anda tidak perlu pergi ke Banten untuk menonton adegan luar biasa itu. Cukup di atas kereta api ekonomi jurusan Bekasi-Kota.

 

Lain waktu, anda bisa juga menikmati pertunjukan topeng monyet. Tentu saja, lengkap dengan monyet-nya yang lucu itu. Sambil memegangi payung dan pura-pura naik sepeda ke pasar.


Para penumpang kereta ekonomi, terutama ibu-ibu sering ketakutan saat didatangi si monyet. Seorang pelajar bahkan sampai berteriak saking kesalnya karena digoda oleh primata sepupu Lutung Kasarung itu, dasar monyet loe!, katanya.

 

Anda butuh sisir, lem sepatu, batu batere, peniti, pakaian anak, kacamata baca, jarum jahit, atau tambalan panci rombeng? Tidak usah jauh-jauh pergi ke pasar. Cukup naik saja kereta api ekonomi jurusan Bekasi Kota. Dengan uang Rp5.000, anda sudah bisa membeli belanjaan itu. Kereta api ekonomi juga menyediakan kebutuhan untuk mainan si kecil anda seperti mobil-mobilan, pistol-pistolan, dan robot-robotan.


Semua itu hanya dapat anda temui di kereta api ekonomi. Lain waktu lagi, ada orkes tanjidor, dengan musik gambus atau ala grup musik Ungu.

Ada berupa-rupa pengamen mulai yang memiliki kualitas vokal ala Ebiet G. Ade hingga yang  mirip Bob Marley.


Ada juga pengamen yang sulit di bedakan, dia ini lelaki atau wanita. Kemudian berturut-turut masuk pula ke dalam gerbong rakyat  itu : karyawan kelas menengah yang ingin berhemat ongkos, pelajar SMP sambil merokok, para mahasiswa peraih beasiswa, ibu-ibu pekerja, pedagang sayur,  gadis-gadis muda SPG, pengemis, pemulung, gelandangan, orang gila, eksibisionis, PNS, tukang copet, kyai, tukang jual rokok, dan tentu saja tidak ketinggalan, si masinis yang berbaju gagah itu. Tiketnya murah meriah : Rp1500.

Semoga anda selamat (dan tidak berkeringat) sampai tujuan.

 

Yah, saya pikir para anggota DPR yang bergaji Rp50juta per bulan itu, sesekali perlu juga naik kereta ekonomi jurusan Bekasi-Kota. Saya pikir ada filosofi berbagi rasa dan belajar memposisikan menjadi rakyat, bukan sekadar "wakil" rakyat.

 

Oh ya, hampir lupa, lelaki berkacamata tadi. Yang saya temui dan sempat ngobrol di stasiun kereta api. Dia juga pengguna setia kereta ekonomi lho. Dan,.. ehm, lelaki itu dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat dua minggu kemudian.

 

Kreta





Stasiun Bekasi, 15 April 2008

sebelum naik kereta