Oh angan… mungkinkah semalam saja
aku dapat tidur
di suatu lembah, dan rumput idkhir
serta teman di dekatku?
Mungkinkah sehari saja
aku mendatangi mata air mijannah
Mungkinkah Syamah dan Thafil
menampakkan diri padaku?
(Syair Bilal bin Rabbah kala rindu dengan tanah airnya
tercinta : Mekkah)
Indonesia, 25 Mei 2008.
Kaos bola berlogo
timnas seharga Rp25.000, beli di Senayan
dengan badge
Garuda nan gagah di saku kirinya.
Sebuah celana
training cokelat muda.
Sepasang sepatu
kets
Pukul 06.30 sang
surya mulai memperlihatkan keperkasaannya. Seolah menunjukkan bahwa tanpa
dirinya fotosintesis tidak akan terjadi. Tanpa dirinya bunga cempaka tidak akan
pernah tumbuh. Tanpa kehadirannya para sales marketing sunblock cream akan
kehilangan pekerjaannya.
Di Rawalumbu,
setiap ahad pagi begini banyak sekali orang yang berlari.
Masyarakat modern
semakin sadar bahwa olahraga bisa mengurangi klaim asuransi kesehatan mereka.
Dan hanya berlari yang modalnya paling murah meriah. Anda tidak perlu tongkat
golf, atau raket tenis mahal. Anda juga tidak butuh peralatan fitness nan ribet
itu. Cukup sepatu kets anda bisa berlari. Nyeker pun oke.
Dulu ritual lari
pagi seperti ini tidak pernah absen dilakukan oleh tiga orang : Bang Okiy, Mas
Andy, dan saya. Namun pekerjaannya sebagai drafter memaksa Bang Okiy begadang
semalaman dan mulai meninggalkan momen kebersamaan ini. Mungkin beliau sedang berusaha
“mempertahankan” berat badannya yang sudah ideal itu. Adapun, lelaki satunya
lagi mas Andy, hmm, dia sudah punya teman berlari khusus sekarang.
Baiklah, saya
sendiri sekarang.
Tidak apa-apa.
Lumayan ngebakar-bakar kalori sedikit. Mencoba melepaskan diri dari jabatan
ketua PONGR (Perhimpunan Orang Nyaris Gendut Rawalumbu).
Pagi itu saya ingin
berlari. Sendirian.
Saya ingin berlari
dari kehidupan.
Setelah sedikit peregangan. Klak. Klik. Kluk. Putar-putar leher. Goyang-goyang bahu dan tumit. Menghela nafas panjang, sayapun mulai berlari. Saya pernah noton film asing terbaik festival Cannes 1999, Children of Heaven, seorang anak kecil tampak sedang berlari. Ia rupanya
berhutang sepatu pada adiknya. Ia harus memenangkan kontes lari ini.
Harapannya, ia harus finis di posisi ketiga. Tapi rasa sayangnya pada sang adik
tercinta memaksa ia mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya dalam berlari :
agar ia finish di urutan ketiga. Si bocah justru memenangkan lomba itu di
urutan pertama.
Dan sayapun terus
berlari.
Dalam 500 meter
pertama, tampak sepasang orang tua. Kira-kira 60-an usia mereka. Mereka juga
sedang berlari. Mereka terlihat kompak. Entah sudah berapa ratus kali mereka
menikmati momen kebersamaan ini : lari. Entah sudah berapa kali mereka saling
mengusap peluh dalam kompetisi lari terpanjang dalam hidup mereka. Dalam suka
maupun duka.
Dan sayapun terus
berlari. Tetes keringat mulai mengaliri dahi saya.
Di sebelah kiri
jalan, tampak empat orang gadis muda berusia 15 tahunan. Pakaian olahraga yang
mereka kenakan menyadarkan bahwa saya tidak sedang berada di Mesir atau di
Yordania sekarang. Saya menyalip mereka di tikungan.
Beberapa bulir air
mulai membasahi pelipis dan ketiak saya. Tapi saya terus berlari.
Saya ingat bahwa
sebelum mencapai keparipurnaan dalam prestasi sepakbolanya : Ryan Giggs, winger
terbaik Eropa sepanjang masa, menunaikan tugas mulianya. Berlari. Menyayat sisi
kiri pertahanan lawan. Tanpa lelah selama 16 tahun. Saya ingat bahwa kebodohan
dapat dikalahkan dengan berlari. Seperti Forrest Gump yang mencetak prestasi
dengan berlari sekencang-kencangnya.
Asam laktat
menumpuk. Rasa lelah menyengat. Beban berat mulai terasa di kaki.
Jantung saya mulai
berdebar kencang. Namun saya tetap berlari.
Saya ingat bahwa
1400 tahun yang lalu, dua manusia mulia itu-pun berlari. Aisyah berkata
“Rasulullah sering mengajakku berlomba lari. Dulu ketika muda, aku selalu mengalahkannya.
Namun ketika badanku mulai gemuk, Ia bisa mengalahkanku.”
Pepohonan mulai
bergerak cepat. Saya sudah melintasi kantor kecamatan.
Telunjuk kaki kiri
saya sudah mulai terasa panas.
Saat itu, dalam
berlari saya melihat dua orang pemulung.
Mungkin ayah dan
anak. Mengais-ais sampah. Mencari potongan rizki yang diberikan sang pencipta
langit. Saya tidak tahu apakah segala instrumen omong kosong makroekonomi dapat
menyelamatkan mereka. Supaya tidak harus lari dari kenyataan, bahwa
satu-satunya cara hidup di negeri ini, adalah lari dari kehidupan itu sendiri?
Menyerahkan kehormatan dan harga diri mereka pada syetan yang terkutuk demi
selembar-dua lembar kupon BLT senilai Rp100.000? Atau memilih menjadi perampok
dan penjahat demi sepiring nasi?
Tidak, mereka jauh
lebih mulia dari para pemulung berdasi itu.
Segelas-dua gelas
aqua bekas terkonversi menjadi enam ribu perak dari pagi hingga sore, tidak
serta merta menjadikan mereka hina. Justru Raqib as akan mencatat peluh mereka,
yang telah berjalan ribuan kilometer demi sesuap makanan halal, menjadi amal
kebaikan. Saya mulai gerimis.
Tapi saya terus
berlari. Meski kaki terasa sangat berat. Meski mata mulai terasa perih.
Meski rasa lelah
mulai menghujam sendi-sendi metatarsal dan ligamen, saya harus terus berlari.
Saya ingat dulu,
26 tahun yang lalu, ada seorang wanita yang jauh lebih lelah dari yang saya
rasakan saat ini. Ia pun berlomba dalam keringat dan rasa pedih yang menyayat.
Berpacu waktu. Bertaruh nyawa. Agar saya bisa berlari pagi ini.
Maka sayapun terus
berlari.
Melarikan diri dari kehidupan.
Sekencang-kencangnya.
Sekuat-kuatnya.
Saya tidak tahu
apakah kelak saya akan berlari secepat ini di shirat-Nya kelak. Nabi berkata
bahwa di atas titian di hari kiamat nanti, ada orang yang akan melintasi shirat
laksana kilat, ada yang melintasinya sambil berlari dan ada yang berjalan
dengan mempergunakan wajahnya. Sahabat terkejut, “bagaimana mungkin seseorang
bisa berjalan dengan wajahnya?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menjadikan
manusia bisa berjalan dengan kakinya. Pasti bisa juga menjadikan manusia
berjalan dengan wajahnya.” Tiba tiba mata saya mulai basah.
Allah berfirman
dalam Al Qur’an, katakanlah: "Lari itu sekali-kali
tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan,
dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap
kesenangan kecuali sebentar saja."
Sungguh saya lelah
karena berlari.
Tetapi, saya harus
berlari. Karena diam itu mati. Karena jumud itu tergilas. Lihatlah kejayaan Al
Hambra yang hancur lebur dalam kehinaan karena umat Islam berhenti berlari.
Berhenti berputar. Berhenti menggunakan fungsi akalnya. Bahwa statis itu
degradasi. Retardasi. Tercecer. Bahwa kita sudah benar-benar kalah dalam
perlombaan ini. Habis. Terkoyak.
Lihatlah kota seribu satu malam Baghdad yang saat ini luluh lantak karena
kepengecutan itu. Lari dari kenyataan bahwa Islam, sebenarnya dan sepantasnya
layak memenangkan perlombaan ini. Bahwa kita (pernah) punya kemuliaan. Tetapi
para pemimpin Arab lebih mengutamakan setetes dua tetes minyak, selembar cek
anuit coeptis bernilai jutaan dollar. Ditandatangani iblis bermata satu. Serta
menukar izzah ini dengan harga yang murah. Saya makin tersesak.
Sungguh saya harus
terus berlari. Meski saya sudah tidak kuat lagi berlari.
Dulu, syaikh Ahmad
pernah ditanya, “Ya syaikh, kapankah dakwah ini bisa beristirahat?” ia
menjawab, “nanti jika kaki kita sudah menginjak syurga”
Saya tidak tahu
sampai kapan saya kuat berlari.
Sungguh saya tidak
tahu apakah saya akan mencapai garis finish, atau justru mati di tengah
lintasan ini. Saya tidak tahu apakah akhirnya saya akan menepi. Memperlambat lari
saya. Berhenti, seraya mendengarkan tawaran-tawaran itu, “ayo, beristirahatlah.
Jangan terburu-buru. Masa mudamu masih panjang. Hidupmu masih lama.
Bersenang-senanglah bersama kami. Ayo, kemari,” Sungguh saya tidak kuat lagi berlari
karena rasa lelah ini. Akankah ini jadi lari saya yang terakhir?
Namun tiba-tiba
dalam berlari saya bermimpi, ada sebuah tangan yang menopang rapuhnya kaki
saya. Mengusap peluh saya. Dalam mimpi saya melihat penuntun lintasan lari
saya, yang mulai kabur tertutup air mata kepalsuan dan kemunafikan saya. Sebuah
cahaya berwarna merah. Saya akan mengikuti cahaya itu.
Pukul 08.15 saya
berhenti berlari.
Adik saya sudah
menyiapkan segelas teh manis. Saya menghirupnya sambil menyadari bahwa ternyata
sampai detik ini, saya belum berhasil menghitung nikmatNya. Setelah
beristirahat, saya mandi. Kemudian mulai membaca.
Rawalumbu, Ahad 25
Mei 2008
Sehabis lari pagi.
