Thursday, April 24, 2008

mutasi


Bukan. Kita tidak sedang membicarakan para superhero yang sekonyong-konyong ber-mutasi dari manusia biasa menjadi jagoan komik ala the Marvel's : X-Men. Kita juga tidak sedang berada dalam kelas biologi yang tengah me-mikroskopi Drosophila melanogaster, si lalat buah yang konon bisa dimutasi sehingga “menyukai” sesama jenisnya sendiri.

 

Mutasi yang akan saya angkat kali ini bukanlah “mutilasi” diberi sisipan –il-. Dan bukan pula “permutasi”, dikasih awalan per-. Sebab kalau demikian, maka tulisan ini melulu akan membahas seputar kasus pembunuhan berdarah dingin di daerah Bulak Kapal Bekasi. Dimana kaki dan tangan terpotong dengan mengenaskan. (ini mah rasanya sudah porsi Buser saja untuk memberitakan, lagian nggak enak juga ngebayanginnya). Dan tulisan ini-pun tidak ditujukan untuk memecahkan soal UAN persamaan matematika dasar sub bab “permutasi”.

 

Jadi gini,  saya begitu gembira bulan ini.

Ceritanya pas mau berangkat ke kantor, di kereta AC jurusan Bekasi-Kota, saya berjumpa seorang teman lama: Ichan. Eh, mohon maaf ralat : sohib tercinta. Tiga tahun di SMA yang sama, tiga tahun di kampus perjuangan, sekos juga dan parahnya-sekamar pula, rasanya panggilan teman terlalu “kering makna” buat pria ikal penyabet IPK tertinggi nomor tujuh di kampus STAN ini. Tidak saja karena malam-malam suntuk belajar kami habiskan dengan berteriak-teriak tidak karuan sambil nonton Liga Champion di kos-kosan. Tapi karena satu hal, saya sempat haru biru saat tahun lalu, sahabat saya ini mengirimkan sms : “aku segera menjalani hari di tempat baru, di utara Maluku, Ternate. Doakan saudaramu ini tetap istiqomah."

 

Itu kejadian satu tahun yang lalu.

Waktu itu, saya pikir nanti setelah 10 tahun bakal baru bisa ketemu beliau lagi. Ealah, ternyata nggak perlu lama karena mulai Senin itu, gitaris the Alcatraz Band itu seterusnya akan ngantor di Lapangan Banteng. Beliau pindah lintas ditjen ke Jakarta lagi. Artinya, hampir tiap hari kami akan bertemu lagi di kereta. Dan tentu saja akan kembali ngobrolin seputar : Persib Bandung dan Liga Inggris.

 

Mutasi. Saya pikir kata ini jadi kata nomor dua paling menakutkan di kantor saya, setelah KPK. Saking menyeramkannya, dulu waktu zaman jahiliyyah, pra modernisasi, banyak pegawai yang mengeluarkan segenap cara agar tidak sampai di-mutasi. Anda bisa bayangkan sehari-hari menikmati kemacetan Casablanca, Jakarta, kemudian harus ditemani suara jangkrik di pelosok kabupaten Nabire, Papua sana. Yah, itulah definisi mutasi.

 

Tapi, inilah konsekuensi tugas. Dulu lima tahun lalu, pas masuk kampus ini, kabid pendidikan sudah minta tanda tangan saya (walah, serasa artis saja). Bukan buat meneken proyek bikin jembatan, bukan. Tapi tanda tangan surat pernyataan : "bersedia ditempatkan dimana saja di seluruh teritorial negara Republik Indonesia."

Kedengarannya cukup heroik dan nasionalis, bukan? Tapi nyatanya, saya memilih menyilangkan jari tengah dan telunjuk sambil bergumam hati: saya bersedia kok pak, ditempatkan dimana saja di Indonesia,...... asalkan di Jakarta :P


Jadi kemudahan akses informasi. Kuliah. Transportasi dan komunikasi. yang membuat saya betah di Jakarta meski macetnya kian menjengkelkan. Disamping itu, di wilayah kekuasaannya Muhtar Muhammad dan Fauzi Bowo ini : Bekasi dan Jakarta, saya masih ditinggali beberapa amanah untuk dijalankan dan akan terhambat jika sampai harus dimutasi.


Tapi sekali lagi, inilah konsekuensi tugas. Cepat atau lambat saya pasti dimutasi. Meskipun diiringi peningkatan remunerasi yang signifikan, mutasi akan menyisakan satu kata yang paling tidak enak didengar di bumi ini : mengucapkan salam perpisahan. Namun demikian, saya akan menganggapnya sebagai bentuk ibadah kepada sang Khalik.


Saya jadi ingat perkataan Kumail Musthafa Daud, personil grup nasyid Debu yang sudah berkeliling dunia mulai Maghribi hingga Vancouver. Dari Oregon hingga Alexandria, menahan haru ia berkata : "Betapa mengagumkan Indonesia. Karena disini, setiap datang panggilan sholat. Setiap itu pula gemuruh adzan berkumandang dari masjid-masjidnya. Begitu menggetarkan hati."

 

Inilah Indonesia.

Dan selama adzan-Mu berkumandang Rabb.

Disanalah Indonesia.

Tanah bangsa negeri saya.

 

 

Penjaringan, 9 Februari 2008

                            

Wednesday, January 23, 2008

Amien Sunaryadi : Detektif Pemalu dari Rawalumbu I

Gandrung membongkar pelbagai skandal, ia terlibat pengungkapan kasus korupsi kelas kakap. Di puncak prestasinya, Amien Sunaryadi malah terpental dari Komisi Pemberantasan Korupsi. -  Tempo


CERITA ini terjadi pada Ramadhan, tahun 1983. Ketika itu pimpinan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)  sedang gundah: soal ujian bocor ke sejumlah mahasiswa. Tak jelas siapa pelaku pembocoran itu. Lalu, diutuslah seorang asisten dosen melakukan investigasi.


Sang asisten lalu merancang investigasi berjenjang. Ditelusurinya lapisan terbawah sekolah itu: dari mulai pesuruh sekolah sampai dosen senior. Dari tukang sapu sampai mahasiswa. Teknik investigasinya tak istimewa: saban sahur hingga menjelang imsak, asisten dosen itu mewawancarai pelbagai orang di warung makan. Berhari-hari, informasi sedikit demi sedikit dikumpulkan.


Dari berbagai cerita, akhirnya diketahui bahwa jual-beli soal dilakukan sebuah jaringan yang rapi. Motornya sejumlah mahasiswa senior. Berbekal sejumlah fakta dan kesaksian, si asisten itu menemui mahasiswa senior itu.


Dari mereka diperoleh kabar bahwa kejahatan itu diotaki oleh tiga mahasiswa senior. Sejumlah pegawai kampus juga terlibat karena menjual soal kepada mahasiswa. Terhadap mereka yang bersalah, petinggi kampus menjatuhkan sanksi. Sang asisten jadi pahlawan.


Dosen muda itu adalah Amien Sunaryadi—pria berambut tipis, sedikit pemalu, yang 24 tahun kemudian menyala namanya di dunia pemberantasan korupsi.


Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (2003–2007) itu adalah salah satu juru kunci di balik terungkapnya sejumlah kasus korupsi raksasa di

Indonesia

. Ia, misalnya, adalah otak penyergapan anggota Komisi Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah, saat berusaha menyuap auditor Badan Pemeriksa Keuangan. Ia pula aktor di balik pengungkapan korupsi Direktur Badan Urusan Logistik, Widjanarko Puspoyo.


Inilah kisah heroik seorang sahabat sekaligus kakak kelas saya tercinta : Amien Sunaryadi...

Maraji :
Majalahtempo.com, Indonesian Corruption Watch files, Jurnal Purnawarman 2007

Sunday, June 03, 2007

Pajak : Antara Robin Hood, Brad Pitt dan reformasi Birokrasi

 

Meet_1


Yang namanya pajak itu, tendensinya ke arah kesewenang-wenangan. Ketidak adilan. Semua orang di muka bumi tidak ingin membayar pajak, meski terdapat peribahasa yang sangat terkenal : tidak ada yang pasti didunia ini selain maut dan pajak.(Mett Joe Black)


Masih ingat dengan adegan dalam film legendaris Robin Hood, Prince of Thieves, yang dibintangi Kevin Costner ? Tergambar sekelompok pasukan berkuda dipimpin Prince John mengobrak-abrik sebuah desa demi memungut upeti kerajaan. Rakyat dipaksa membayar pajak tinggi demi foya-foya pejabat kerajaan.

Yang cukup menarik – mencermati resistensi masyarakat terhadap pajak – adalah cerita dalam film yang dibintangi oleh Brad Pitt : Meet Joe Black. Film romantis yang mengisahkan sosok malaikat kematian yang menjelma menjadi seorang lelaki tampan, mencintai seorang putri CEO perusahaan besar di Chicago, harus diperintahkan untuk mencabut nyawa sang CEO tersebut.

Diakhir kisah, sang kematian akhirnya mengaku eksistensi dirinya sesungguhnya : Saya sebenarnya adalah,…(sampai disini, sang putri jutawan itu sudah mengetahui bahwa Joe sebenarnya akan mengaku bahwa ia adalah kematian) , ia justru berkata : Saya adalah petugas IRS (Internal Revenue Service, Inspeksi pajak yang paling ditakuti di Amerika Serikat).

Oke,oke, terlepas dari jalan cerita filmnya yang kagak Islami banget (Masak malaikat kematian bisa jatuh cinta, en kagak tegaan pas mau nyabut nyawa si bokap),..tapi yang menarik, betapa akhirnya Joe Black, memaksa sang boss untuk sakit jantung benaran dan mati juga deh, setelah mengetahui Ia berutang pajak sangat besar pada negara.^-^ Pajak.

Oh. Pajak. Instansi yang katanya hujan, gerimis, basah, banjir, tsunami malah. Mungkin bocor pas hujan gede kemaren.

Pajak, Oh Pajak. Makhluk yang pernah ditertawakan oleh seorang guru besar ekonomi UI pada pertengahan 1970-an, ketika seorang ekonom muda memprediksi bahwa di masa depan, sektor ini akan menjadi tulang punggung penerimaan negara kita. Sang Guru Besar menampik, Hei, bukankah kita ini bangsa Indonesia yang kaya minyak bumi dan gas. Kelapa sawit kita terbesar ke-2 didunia. Tolong bung, lihat neraca pembayaran. Ekspor kita adalah migas. Kita negara kaya.

Ramalan itu ternyata terbukti, 30 tahun kemudian ekspor migas kita anjlok, kita malah jadi pengimpor. Sektor pajaklah yang akhirnya menjadi penyumbang terbesar 77% APBN kita.

Pajak. Oh. Pajak. Sebegitu parahkah imej dirimu di mata masyarakat, sampai-sampai pas kuliah dulu di STAN, seorang teman pernah berkata : Eh, tau nggak. Ada dua tipe orang lho di dunia ini. Pertama, orang baik. Kedua, ……….orang pajak ^-^.

Laen waktu pernah ada yang bikin hipotesis kalo manusia yang paling hanif dan paling jujur yang keimanannya mungkin mendekati malaikat, disandingkan dengan manusia yang paling bobrok dan rusak kelakuannya dimuka bumi, maka, keduanya bisa kau temukan di instansi pajak.

Korupsi, jangan tanya lagi deh. Pernah ada anekdot, dalam survey disebutkan bahwa Instansi terkorup di negeri kita adalah : 1. DPR, 2. Depag, 3. Parpol. 4.Kepolisian., 5.Bea CUkai, 6. Dep Pekerjaan Umum…………………………16. Ditjen Pajak. Lho kok bisa DJP nggak masuk lima besar terkorup ? Soalnya khan, lembaga surveynya disuap dulu biar nggak menjadikan DJP Top Five Corrupted Organization In Indonesia.

Tapi, wajar saja, secara akal sehat, instansi yang ngurus porsi keuangan terbesar dinegeri kita tercinta ini tentu tidak mungkin 100% bersih dari KKN. Pasti ada saja penyimpangan dan korupsi di lapangan. Pasti terdapat kebocoran dan penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya oknum tertentu. Sepanjang sejarah birokrasi, selalu ada orang-orang seperti itu yang membuat kusam wajah bangsa ini.

Oke, cukup untuk berita buruknya. Sekarang kita sampai pada berita baiknya.

Jadi ternyata ada 2 (dua) macem model pemberantasan korupsi . Satu ikut pola di Cina, satu lagi nyontek model di Singapura. Bedanya apa? Di Cina, memberantas korupsi gampang saja. Caranya, para koruptor itu diseret ke lapangan, trus ditembak mati deh. Mudah dan murah. Efeknya, Cina berhasil memangkas habis korupsi di negaranya. Tetapi di Singapura sedikit berbeda, para pejabat publik yang biasa korupsi, gajinya di naikkan dahulu, dan kalau sesudah itu masih korupsi juga. Baru, ditembak mati juga.

Sama-sama ditembak mati. Sama-sama efektif.

Nah, naga-naganya seh, Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, bakal mengikuti model pemberantasan korupsi di Singapura. Tapi nggak sampai ditembak mati kayaknya,…hehehe.

Diawali dengan pembentukan LTO I (Large Taxpayer Office) tahun 2002 atau lebih dikenal dengan kantor wajib pajak besar, era modernisasi perpajakan tengah dipukul kencang genderangnya. Sistem yang biasa disebut dengan SAM (Sistem Administrasi Modern) ini memiliki konsep : pelayanan prima dan pengawasan intensif dengan pelaksanaan good governance. Modernisasi ini bertujuan signifikansi kenaikan pelayanan prima kepada wajib pajak (WP) ; tingginya integrasi dan profesionalisme pegawai ; meningkatnya kepercayaan terhadap aparat pajak, serta peningkatan voluntary compliance WP.

Simpelnya sih gini : Negara sudah menggaji anda tinggi, anda tidak berhak lagi korupsi. Kalo masih, yah..masuk penjara saja.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Kode etik ditandatangani, produktivitas meningkat. Keluhan WP berkurang, penyelesaian restitusi berlangsung cepat, kepastian hukum tercipta, dan akhirnya penerimaan negara meningkat. Kantor pelayanan pajak benar-benar menjadi pelayan dengan menempatkan seorang AR (Account Representative) yang menciptakan one stop service untuk semua jenis pelayanan, konsultasi, administrasi, keluhan, hingga makian-pun dilayani dengan senyum ramah. Yang mengembirakan adalah ternyata penerapan zero tolerance terhadap KKN, benar-benar mungkin dilakukan di Indonesia. Dan dapat dilakukan di Direktorat Jendral Pajak.

Pada Juni 2007, seluruh kantor Pajak di Jakarta akan menerapkan konsep ini. Dan pada tahun 2008, secara serentak di seluruh Indonesia.

Tapi, yah..gitu deh. Buat para incombants. Orang-orang yang sudah nyaman dengan sistem lama, penerapan sistem baru ini tentu akan mengurangi kesempatan mereka ber-KKN-ria. Kantor Pelayanan Pajak Syari’ah, begitulah dengan sinis mereka menyebutnya. Seorang Kepala Seksi saya di Gambir dulu pernah berkata, ‘’Untuk saya, gaji Rp 10 juta perbulan, adalah sebuah mimpi besar. Tetapi buat, Pak –X, kepala seksi teknis yang ‘’basah’’, Rp10 juta per bulan itu, mungkin sebuah mimpi buruk.

Ke depan, reformasi birokrasi hanya dapat diakukan oleh instansi yang siap dan berkomitmen tinggi untuk melaksanakannya. Siap dari segi infrastruktur, suprastruktur, terlebih lagi sumber daya manusianya. Dan saya pikir, Departemen Keuangan adalah instansi yang paling memenuhi kualifikasi tersebut di negara kita.

Saya hanya mengucapkan : Selamat Datang Perubahan

Ahlan wa sahlan reformasi birokrasi yang debirokratisasi

Maha suci Allah yang telah mengizinkan saya lahir dalam era perubahan ini.

Wallahu a’lam bishawab. (Rn0307)

INAUGURASI VIA RUMAH SAKIT

Scene 1 Ruang Sidang Tugas Akhir


Stan

Cuma 6 atau 7 pertanyaan yang bisa kujawab.

Bahkan waktu pimpinan sidang bertanya perbedaan status entitas kartel dan joint venture cuma bisa menelan ludah.

Glup. Gosh. What a terrible headache !

Kepala makin nyut-nyutan aja nih. Apakah perjuangan hidup mati selama tiga tahun di ‘’ladang pembantaian ini’’ akan berakhir disini ?

Sekarang rasanya mau nangis.

Dijono, Ak. M.M – Pimpinan Sidang :

‘Saudara, sesuai hasil keputusan kami selaku penguji menyatakan : Dikarenakan cukup banyak hal yang belum Saudara kuasai mengenai karya Saudara, juga prinsip akuntansi secara umum, kami menyarankan agar Saudara untuk lebih serius lagi mengulang dan belajar kembali di rumah !’

Tengggorokanku tercekat. Aku menahan nafas.

‘Dan tolong sampaikan salam untuk keluarga di rumah, serta dari kami, Selamat atas kelulusan Saudara ! Semoga dapat menjadi profesional yang berdedikasi di masyarakat. Dan tetap dapat istiqomah dalam menjalani hidup, sama seperti tertera dalam kata pengantar karya Saudara ini’ ujar widyaiswara senior itu tersenyum.

Sekarang aku nangis benaran.

Yang paling menyejukkan tentu senyum Ibu Dyah Purwanti, SE.,Ak., pembimbing kesayangan yang dengan penuh kesabaran mengantar hingga jadi lulus begini. Juga Pak Cucu Pujasetia, SE, Ak. sang dosen Ikhwan, sulit melupakan saat-saat diskusi dengan beliau.

Aku terpaksa menangis karena terlalu banyak kenangan di kampus tercinta ini. Yang sebentar lagi akan ditinggalkan. Beberapa jam kemudian aku benar-benar ambruk.

                                            ***


Scene 2 Rumah Sakit Budi Asih

Halah, rumah sakit lagi. Ruang opname. Perasaan terakhir lihat pemandangan begini pas TK dulu deh.

Sidang komprehensif tugas akhir masih terbayang. Pak Dijono memang sempat mempermasalahkan tema konsolidasi, merger, dan penggabungan usaha yang aku ambil. Pasalnya, aku terlanjur mencantumkan beberapa nama penulis skripsi dengan tema yang sama dalam karya ini. ’’ TINJAUAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN PASCA MERGER PADA PT BANK X : STUDI KASUS MERGER PT BANK X 1998-2000’’ Padahal lazim saja mengutip pendapat orang lain yang kebetulan punya objek studi yang sama. Pak Cucu sempat bilang, kamu kelewat jujur dalam mengungkap pendapat orang yang dikutip. Langsung dari skripsinya pula. Padahal nggak diungkap asal kutipannya juga nggak apa-apa.

Yang paling parah justru finalisasi tugas akhir di kampus ini, aku menyelesaikannya separuh nafas, mengutip Dhani Dewa. Typhuss. Anfal. Sang kuman Salmonella typhossa beraksi kembali. Jadilah materi ujian komprehensif ini cuman belajar 30% dikuasai. 70%-nya lagi keburu pusing. Namun herannya, masih bisa lulus. B, bukan A tapinya...


Maka nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kamu dustakan?

’Selamat pagi, kita suntik dulu ya’ kata dokter Bona. Namanya mengingatkanku pada tokoh di majalah anak-anak. Aneh, obatnya disuntikan di tangan tempat infus, tapi pahitnya itu lho, terasa sampai ke mulut. Black out lagi.

39 derajat celcius. Kenangan kampus STAN terbayang lagi.

Bangunan-bangunan tinggi yang cat temboknya mirip Sekolah Dasar.

Pohon-pohon sejuknya yang biasa dipakai nongkrong anak-anak organda rapat.

Orang-orang cupu kurus, tinggi, langsing, berkacamata minus 8. Ber-IQ 2500.

Kambing dan keluarganya yang kerap berlagak seperti mahasiswa, masuk ke dalam pagar gedung kampus.

Juga warteg dengan menu : nasi setengah, semur tahu, sayur bayem, gorengan tempe dua. Kalori doang. Nggak memenuhi standar kesehatan WHO. Apalagi FIGC (Federasi Sepakbolanya Italia).

Tapi justru di kampus inilah tercetak ribuan akuntan terbaik negeri. Juga koruptor terbaik negeri.

Dari kampus inilah yang namanya Bang Helmi Yahya, eksis membelot jadi entertainer, bukan jadi auditor.

Disinilah Kang Igo Ilham, mendapat ilham untuk menjadi Fatahillah.

Sementara Nurmansyah Lubis, SE, AK. MM, malah jadi ustadz merangkap politikus.

Dan Edwin Libels, bubar dari grup lamanya. Pengen solo karier kali.

Kampus tercinta dimana sangat sensitif membicarakan SARIP (Suku, Ras, Agama, dan IP). Bisa menyakiti perasaan teman kita.

Atmosfernya itu sulit dilupakan. Sangat kompetitif.

Mahasiswa gila belajar + Dosen psiko + Materi kul yang kompleks = Masa Depan.

I’ll miss it so much.


Scene 3 Escape from The Hospital

Besok wisuda. Menteri Keuangan juga datang. Juga jajaran Eselon I di Departemen. Sementara aku harus terbaring di kasur ini ? No,Thank’s.

Meski belum boleh keluar dari bed rest. Saya nekat.

Ada dua tugas penting nih. Pertama, cuap-cuap sama dokter, berusaha meyakinkan kalau aku sudah sehat dan kuat – dalam segala hal tentunya. Kedua, ngepasin toga ;p.

JCC, here I come !

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31