Sunday, April 13, 2008

Epicentrum


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa. Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui Apakah kau masih selembut dahulu? Memintaku minum susu dan tidur yang lelap? Sambil membetulkan letak leher kemejaku?

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih. Lembah Mandalawangi. Kau dan aku tegak berdiri. Melihat hutan-hutan  yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu? Ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra. Lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata : “Kudengar detak jantungmu”

Kita begitu berbeda dalam semua. Kecuali dalam cinta.

(dikutip dari Catatan Seorang Demonstran, 1966)

                            

Tuesday, April 08, 2008

Komposisi


Dakwah bagaikan susunan dari kepingan-kepingan puzzle. Logika sederhana dari cara berpikir yang sederhana. Kepingan pertama, jihad fisik. Dilakukan oleh orang-orang yang berjuang di jalannya dengan berperang. Keping kedua, orang-orang yang berjuang dengan hartanya. Orang-orang kaya yang dermawan, para pengusaha yang membuka lapangan kerja, pendiri yayasan dan panti asuhan. Keping ketiga, dan selanjutnya, orang-orang yang berjihad dengan ilmunya. Untuk keping yang ketiga ini, jumlahnya banyak sekali karena ilmu sendiri multidisipliner.

Hanya segitukah jumlah keping yang ada? Tidak. Tidak sama sekali. Jumlah keping itu masih banyak.

Diorama

(dikutip dari Diorama Sepasang Al Banna, Ari Nur, Mizan Media Utama Bandung, hal.28 tahun terbit 2008)

Friday, March 28, 2008

resonansi


Kadang aku merasa

hidup ini bagaikan sebuah bayangan

yang terlukis dalam tembok kenangan

Semua bergulir tanpa terasa

membawa umur menuju senja

Inilah jalanku

Kan kupertaruhkan dengan sukmaku

Sampai seuntai senyuman

Dalam saat perpisahan

Selamanya…

Thursday, March 13, 2008

Ambillah Resiko

 

        Tertawa adalah mengambil resiko terllihat bodoh, menangis adalah mengambil resiko melankolis. Menjangkau yang lain adalah mengambil resiko terlibat. Mengungkapkan perasaan adalah mengambil resiko menunjukkan diri yang sesungguhnya. Menunjukkan gagasan dan impian adalah mengambil resiko merasa malu. Mencintai adalah mengambil resiko tidak dicintai. Berharap adalah mengambil resiko tidak mendapatkan. Hidup adalah mengambil resiko mati dan berusaha adalah mengambil resiko gagal.

 

        Tapi resiko harus dihadapi, karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak berani mengambil resiko sama sekali. Orang yang tidak berani mengambil resiko tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Mereka mungkin menghindari penderitaan dan kesengsaraan, tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai, dan hidup. Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka adalah budak. Mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri.

 

        Hanya orang-orang yang berani mengambil resiko adalah orang yang kreatif, yang bebas menentukan arah hidup sesuai Al Qur’an dan Sunnahnya. Maka ambillah resiko!

 

Kota Tua Jakarta, Maret 2008 : dari bahan tulisan buletin Ikhlas pra-cetak bulan ini

Monday, March 10, 2008

desolasi

cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab…

(ibnu qayyim al jauziyyah, fii kitabi raudhatul muhibbin)

 

Kepada Dia yang membentuk singgasana surga nan gemerlap. Dia mengatur dunia seorang diri. Dia yang dalam kegelapan hatiku, menyinarkan cahaya-Nya yang tidak terlihat. Dia yang menganugerahi manusia keteguhan hati untuk berdoa dan beribadah padaNya. Hanya pada-Nya kutujukan puji dan syukur atas segala yang diberikan kepada kaum muslimin! Dan hanya pada sang penghulu risalah suci, shalawat serta salam tertuju.

 

Shubuh ini,

Kubuka mataku seirama fajar yang menggelinding menyongsong senja,

begitu pun asaku terlukis dari hari ke hari

mengharap ta'arufmu hingga kini di ujung galah usiaku

yang hampir seperempat abad.

Sukmamu yang melanglang

menjemput sukmaku di sini,

menguatkan tegarku akan kebesaran Illahi.

Tak jauh berbeda nasibku denganmu,

bagaimana mungkin kau bisa mendampingiku

andai saat ini kau tak setegar karang,

bagaimana kau merangkul pundakku

jika saat ini jiwamu hanya serapuh puing-puing yang berserakan....

Sebanyak hitungan nafasmu saat ini,

kau mampu menjaga kesabaranmu,

aku yakin kau pun lebih mampu memeliharanya

karena itu yang akan mengantarkan ta'arufmu padaku.

Jangan pernah berpikir bahwa dirimu hidup sendiri,

karena aku tak pernah bersembunyi,

mungkin Allah masih memisahkan kita sementara waktu

agar kita lebih mampu mendewasakan diri.

Apakah tak cukup bukti akan kesetiaanku?
Lihatlah kerutan hari mengurangi detik demi detik

bilangan usiaku yang entah tinggal berapa,

melukis helai rambut yang mulai berubah warna....

Terima kasih atas do'amu untukku.

Semoga Allah senantiasa menjaga kesabaran di hati kita,

menyempurnakan setengah dien kita, dalam ridho dan cinta kasih-Nya.

Aamiin ya rabbal aalamiin.

 

Bumialam Hijau, 7 Maret 2008

Tuesday, February 19, 2008

tentang sebuah hujan



apa yang pernah terlintas dalam kata
yang kamu ujar
saat gerimis sore hari
tentang kejujuran hati?

kita duduk berdua
sambil menghirup kopi
yang asapnya mengambang ke langit-langit kamar.

saat-saat aku tidak ingin bicara
kita tidak perlu kata-kata
karena aku dan kamu
telah begitu mengerti
bagaimana memahami kehendak.

saat-saat kamu hanya ingin berdiam
kita sepakat untuk merasai bersama
bagaimana mata berbincang
pada senja,
pada hati.

dan titik hujan di luar
bukanlah seteru waktu
ketika aku dan kamu pejamkan mata
agar tangis tak terbaca.

(rudolph damanik, pada inez)

Wednesday, January 30, 2008

akulah si telaga

akulah si telaga, berlayarlah diatasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan

bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkanlah begitu saja perahumu

biar aku yang menjaganya...

(sapardi djoko damono)

   

Wednesday, January 23, 2008

Soalnya


bukan air kopi secangkir

untuk diminum pagi-pagi

sebelum berangkat kerja

 

Soalnya

bukan nasi sepiring

yang menyebabkan tangan kurus

mengangkat tinju

 

Soalnya

bukan “apa kata dunia”

sehingga kantor pratama

juga kantor madya ada

 

Teramat hina

jika soal kerongkongan dan perut

menjadi sebab untuk bangkit

 

Terlampau rendah

kalau yang menyebabkan kita bangkit

air kopi secangkir dan nasi sepiring

 

Terlalu dangkal

apabila hanya “apa kata dunia”

menjadi musabab kita berubah

 

Kita bangkit

demi hak dan keadilan

yang ditimbun keserakahan

 

Kita berubah

demi  Indonesia

 

digubah dari aslinya karya Rachmat M. Sas. Karana yang ditulis dalam bahasa Sunda dan dimuat dalam Majalah Sunda, Bandung Th. II, no. 4, 5 April 1966

 

Friday, January 18, 2008

Purnama

purnama menggantung di langit Jakarta
temani aku susuri jalan menuju pulang
tiba-tiba, aku rindu purnama di sudut jiwa
masihkah ia bersemayam disana?
dan gerimispun menjelma

Monday, January 07, 2008

Bunda

bunda adalah kejora

karena setiap geriknya benderang sayang

bunda adalah bunga

selalu berseri, berwarna dan memesona

bunda adalah surga

helai nafasnya tidak hanya cinta tapi juga do'a

dalam semesta

tak ada yang lebih kemilau menyala

kecuali bunda

Sunday, October 28, 2007

Aku Engkau, kau, dia dan mereka

Harum juga pagi ini,...
Ada dendang di telingaku
Seakan mengajakku berlari
Meraihmu, dia dan mereka

Namun aku tak bisa,...
Aku tak tahu siapa namaku
Siapa kau dan dia? Mengapa mereka?
Dan tak sadar akan Engkau,...

Andaikan,...
Aku masih berdiri di tepi sungai yang sama
Berdiri di antara mereka,
Melihatmu dari jauh
Dan suatu saat mengenalmu

Tapi aku sudah terbawa arus,...
Dan mereka tak sanggup meraihku

Aku ingin sekali mengenal Engkau,
Kau, dia dan mereka
Tapi apa semua mengenalku?

Engkau pasti mengenalku,...
Tapi apakah Engkau menyayangiku?

Mereka tahu siapa aku,
Kau,... dia,...
Kupikir hanya pernah melihatmu
Aku ingin menjadi kau,...
Dan juga dia
Mengenal Engkau, kau, dia dan mereka

Tapi aku sudah cukup lelah dan lapar
Hingga aku ingin cukupkan diri
Menjadi kau dan dia

Tapi aku masih ingin dekat dengan Engkau
Hingga aku tak bisa dekat denganku,
kau, dia dan mereka
Dalam tidur panjangku
(Tamansari Satu)

Tuesday, September 04, 2007

Dilatasi

Matahari dhuha merambati waktu

ketika sinarnya menghangatkan

pucuk-pucuk dedaunan

menggiring hati ke kehampaan

yang meradangkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

sungai bening mencumbui tanah

ketika riaknya membasahi

akar-akar pepohonan

melautkan hati ke kehilangan

yang membakarkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

burung kecil menghias langit

ketika kicaunya meramaikan

putih-putih awan

menerbangkan hati ke ketinggian

yang menyesakkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

rokaat pendek mengukir sajadah

ketika dzikirnya membisikkan

rongga-rongga dada

mengkhusukkan hati ke kesucian

yang membersihkan diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

matahari ashar mengguliri sore

ketika lelahnya menguliti

pori-pori tubuh

mencabikkan hati ke kemeranaan

yang menyakiti diri

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari

 

aku lelah

menunggu berlalunya kala yang amat pelan berlari itu

karena garis finish masih jauh

 

entah,

kan kutulis apa

hamparan hati yang tak berbatas ini

yang adanya hanya denyut

itu - itu saja

 

 

entah,

kan kutulis apa

lembaran waktu yang tak berujung ini

yang adanya hanya detak

itu - itu saja

sedangkan,

hati itu akan berkarat

dan...

waktu itu akan habis

malunya diri

tak membuat segera berbenah

entahlah...

kan kutulis apa lagi

putihnya kertas

untukmu ini...

...........................

(almanfaluthi)

Monday, August 20, 2007

Cermin

Cermin Kala tersipu di depan manusia dan fortuna, Sendirian aku terlunta-lunta berair mata. Percuma kuraungi langit nan tunarungu, maka kucermini wajahku, kuomeli tapak tanganku. Ah, andai aku raja sejuta satria, yang mendamba raut muka ini-itu, yang tak mungkin kuhirup walau mulutku meliur.

Namun, saat kutatap cermin dengan sebelah mata, mendadak sontak terpampang dikau, lalu wajahku, bagai cengkerama mencuat di masa rehat.

Dari bumi merekah, syahdu nyanyiku di pintu surga, berkat memuat memori cinta berair madu, tak sudi kutukar wajah aku dengan raut muka raja.

(Shakespeare : Soneta 29)

Wednesday, June 20, 2007

Sesaat Walimah Itu

karena dia cewek apa adanya dan kau seorang akhwat maka aku cenderung padamu

karena dia mengumbar keindahannya sedangkan kau tutup rapat perhiasanmu,semakin dalam kekagumanku

karena aku begitu kering dan kau bagai danau kesejukan maka aku membutuhkanmu

tapi..

karena dia ikhwan dan aku lelaki apa adanya maka dia lebih pantas bagimu

karena kau hanya sepotong tulang rusuk,dan tulang rusuk telah kembali ketempatnya maka kudoakan kebahagiaanmu

karena aku begitu mengagumimu dan aku bahkan tak pernah mengenalmu, maka semua hanyalah impian

Sunday, June 10, 2007

Ode


Pergilah ke pangkuan Tuhan

Maka Tuhan akan memelukmu

dan menciummu

dan menunjukkan

bahwa Ia tak kan membiarkanmu

lari dari-Nya

Ia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya

siang dan malam

(Ma'rifat; Rumi)

My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 02/2007

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31